March 29, 2010

Isun Gen mBayar, Jeh!

Sekali waktu, saya mesti menemani twa-ie dan cici misan saya (anaknya twa-ie) ke rumah cici-nya twa-ie di Tanjung. Twa-ie Tanjung, begitu saya suka menyebutnya, bersama anak-anaknya (10) ngumpul di Tanjung. Mereka pada jadi petani pengepul bawang dan cabe. Tanjung itu satu kota kecil sesudah Brebes, sebelum Tegal, kalau anda lewat pantura dari Jakarta-Cirebon lanjut ke Semarang.

Waktu itu angkutan yang ada ya cuma bes (bus). Nama perusahaannya kalau gak salah Moga. Bukan diambil dari kata 'semoga', tapi dari nama daerah di deket-deket Tegal situ. Ada satu tempat wisata lokal berupa pemandian di sana. Mungkin pemilik otobis itu memang tinggal di Moga situ.

Busnya masih kuno, karoseri-nya masih pake kayu. Bingkai daun jendela-nya pun masih dari kayu. Begitu juga pintu-pintu dan kursinya, jok-nya lumayan sudah pake busa dengan kulit imitasi, tentu.

Rute Cirebon-Tegal ditempuh sekitar 2-3 jam. Tentu saja berhenti-henti di kota-kota kecil sepanjang jalan kenangan itu. Baik di terminal resmi maupun tak resmi. Biasanya kami mencegat (kayak gerombolan perompak begal aje ye?) bes di jalan Cangkol, supaya tidak perlu nunggu lama bes yang senengnya ngetem berlama-lama di terminal, sebab para awak bus - supir dan keneknya, juga kondekturnya pada update status dulu sih, jeh!

Resiko-nya, kalau pas penuh tentu saja tidak kebagian tempat duduk. Pernah sekali waktu bes-nya penuh sekali. Jadi kami berdiri dulu. Biasanya sesudah Gebang banyak yang turun. Karena saya masih kecil saat itu, saya bisa duduk nyelip di antara 2 penumpang ibu-ibu penjaja ikan. Sementara twa-ie dan cici saya berdiri di dekat saya, bareng penumpang lain yang juga tidak kebagian tempat duduk.

Sampai di Losari, kedua ibu yang duduk di samping saya kiri-kanan pada turun, jadi saya berdiri dulu. Eh, tiba-tiba saja, sebelum kedua orang ibu itu turun sempurna, seorang bapak-bapak muda yang tadi naek dari Gebang sudah nyelonong ajah mau nyerobot ambil tempat duduk itu. Jadi, secara refleks saya bilang, bahwa tempat duduk itu sudah kami 'cup'
[bacanya bukan 'kap'] untuk kami bertiga. Istilah 'cup' ini umum dipakai di Cerebon pada masa itu.

Sampai lama kemudian saya baru tahu kalau istilah 'cup' itu diadaptasi dan dipakai juga di Singapura dengan nama kebarat-baratan
'chope' - dipakai kalau anda hendak makan di food court, anda boleh 'chope' meja makan - dengan cara menarok tempat tisu di satu kursi, atau diambil satu kursinya (lalu dibawa?). Barulah anda dan rombongan mulai memesan makanan di stand-stand yang ada. Begitulah kata buku petunjuk Makan Enak terbitan STPB - Singapore Tourism Promotion Board di sini.

Eh, lanjut ke si bapak di dalam bus Cirebon-Tegal itu ya.

Kalem saja tu bapak nyelonong menyerobot kursi kami, dengan entengnya bilang: gua juga bayar, gua juga berhak duduk dong. Sambil langsung ajah duduk di kursi yang sudah dicup itu.

Lha, koq?







PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.
Judul dalam basa Jawa Cerebon-Tegalan, artinya: Gua Juga Bayar, Lho!

IT'S WORLD TIME: