January 08, 2010

Snacking Tengiri Fish Brains @ Princen Park.

Masih hangat nih (cerita) otak-otaknya, baru diangkat dari pembakaran. Padahal sih tu otak-otak sudah matang dikukus dulu, bakar-bakarannya mah cuma sekedar basa-basi doang ya, biar kelihatan bahwa itu pepes bakar, bukan pepes kukus yang mirip botok - cuma beda di cara anda membungkusnya ajah.

Iya. Mengapa pepes otak-otak begitu tidak disebutnya sebagai 'pepes' tapi cukup disebut 'otak-otak' saja ya? Sedangkan anda sudah kenal dan terpapar lebih dulu dengan aneka pepes (bakar) seperti: pepes tahu, pepes ikan, pepes peda, pepes jamur, pepes telor, dan pepes dage - jangan sampai kelupaan ya, ini makanan khas the one and only in the world wide web, asli Cerebon, jeh!

Kalau di mari (Indo) otak-otak dibungkus pakai daun pisang dengan format gulung panjang, disegel kedua ujungnya pakai biting (sudah ganti pakai staples yang lembut berbahaya kalau termakan), di Melake (Malaka), satu kota di pinggir pantai Malaysia sono, mereka bungkusnya pakai daun kelapa yang ditangkupkan dua sisi, lengkap dengan tulang daunnya.

Dan sejawat tukang otak-otak ikan tengiri di Bangkok sih lebih kreatip, lebih canggih dan lebih elegan: pakai wadah mirip citakan kue dorayaki di Tokyo atau 'carabikang' di mari, berupa piring sebesar piring saji agak besar, terbuat dari tanah terrakota merah (lempung genteng, kalau istilah kita mah), dengan cekungan bundar sebanyak 6 buah yang mengelilingi satu lagi di tengah. Adonannya ditarok di lubang cekungan itu, lantas si piring terrakota itu dibakar di atas bara arang langsung. Tentu saja sama dikukus terlebih dulu (kayaknya), baru dibakar sebagai basa-basi pengaroma bakaran yang lebih sedep-mantep ituh!

Mong-omong, otak-otak itu jadinya makanan asli khas Betawi-kah?

Sebelum ketemu jawabannya, mari kita jalan-jalan ke....... Prinsen Park. Yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan THR Lokasari dan berubah lagi jadi Lokasari Plaza, di kawasan Big Mango aka Mangga Besar itu.

Katanya dulu Prinsen Park itu pusat kesenian. Utamanya seni drama tunil aka sandiwara. Dengan primadonan-nya Dardanella atau Miss Tjitjih, tokoh terkenalnya Tan Tjeng Bok dan Fifi Young, makanya di sekitar Prinsen park ada daerah bernama Tangki, yang jadi asrama para pemain tunil aka sandiwara drama begitu, yang lantas saja secara becanda disebut sebagai Tangkiwood, yang lantas ditiru ama Amrik dan India menjadi Hollywood dan Bollywood begitulah, jeh!

Tapi nama Prinsen Park itu peninggalan jaman kolonial Belanda, ketika meneer dan mevrouw, sinyo dan noni butuh hiburan tooneel. Jaman ketika saya masih belum tahu Djakarta itu di mana. Waktu saya akhirnya terdampar di Jakarta, pada 1977 - mulai penjajagan 1974 (pas peristiwa geger bakar-bakaran mobil Jepang, Malari - 15 Januari 1974), sudah ganti nama menjadi THR (Taman Hiburan Rakyat) Lokasari.

Kompleks (THR) Lokasari cukup luas, ada banyak gedung bioskop di dalamnya. Jaman itu gedung bioskop itu minimal berkapasitas tempat duduk 100-200-an. Kayaknya paling sedikit ada 5-6 gedung bioskop di Lokasari itu, juga banyak restoran-restoran Chinese food yang cukup besar, bisa menampung banyak tamu - biasa dipakai untuk pesta resepsi pernikahan. Juga ada banyak kedai-kedai minum ala kopi tiam, yang umumnya juwalan di sekitar gedung bioskop, dengan juwalan utama berupa cemilan........ otak-otak ikan tengiri dadak bakar!

Buat saya sih semua otak-otak di Lokasari itu dulu gak ada beda-beda rasanya. Kecuali kalau yang memang 'palsu' cuma berisi tepung aci doang gak pake ikan, ndak beraroma amis samar-samar, tentu bisa jelas dibedakan.

Di samping otak-otak dadak bakar, dengan SOP - Standard Of Penyajian sepiring (belum musim melamine) isi 10 bungkus, dengan pisin (piring kecil) berisi sambel kacang bercuka untuk cocolannya. Biasanya anda cukup bayar yang anda makan saja, sisanya ndak usah anda bayar asal belum anda sentuh. Waktu pertama kali saya diajak teman baik saya ke situ, ditraktir makan otak-otak begitu, selalu saya habiskan sepiring. Soalnya saya pikir rugi toh, makanan sudah disajikan di meja, dan dibayar koq gak dimakan ya?

Sambil menunggu jam tayang film di gedung bioskop, biasanya kami nongkrong - ya tentu gak squatting kayak di toilet jongkok gitu, duduk di kursi rotan model sofa begitu, agak rendah (masih ada contohnya di Es Krim Ragusa belakang Masjid Istiqlal tuh), dengan 'bonus' berupa.... tumbila aka bangsat aka kutu busuk yang mengigiti paha anda.

Eh, hampir lupa, padu-padan untuk menyamik nyamikan pepes otak-otak itu, biasanya sih susu sapi segar, diwadahi dalam gelas tinggi seperti untuk minum es cincau jaman dulu, dingin, pakai es, ditambahi sirup as per your taste: pisang, coco pandan, rose atau frambozen yang merah warnanya. Kayaknya sih susu sapi segar mereka waktu itu dipasok dari peternakan yang banyak terdapat di sekitaran kawasan Kemayoran - Garuda dekat Gunungsahari, masih ada satu tersisa sekarang di situ, kalau ndak salah.

Segelas susu sapi segar dingin bersirup dan es, ditemani sepiring pepes otak-otak ikan tengiri. Yang saya herankan adalah, mengapa Ny. Sulaiman tidak 'lahir' dan besar di THR Lokasari, yang waktu itu mestinya ada sekitar 15 kedai paling sedikit yang berniaga pepes otak-otak ikan tengiri (ikan lain gak bisa?) bersaing ketat merebut hati, eh, kantung pengunjung.

Ada satu yang saya ingat juga, dulu di THR Lokasari ada satu kedai soto sapi bersusu santan (bener, katanya dikasih susu sapi juga) yang isinya bisa minta campur, daging, jerohan (paru, iso, babat, hati, limpa) dan yang istimewa: sumsum tulang. Entah apakah ini soto masih kerabat dengan soto tangkar (merah kuahnya) atau ya soto (sapi) Betawi bersantan, dengan kondimen acar brambang utuh dan irisan timun + keratan bortel. Tapi jelas beda dengan sop (bersantan) kambing ala Betawi itu.

Sama nasibnya dengan Ny. Sulaiman, begitu THR Lokasari digusur untuk dibangun menjadi Lokasari Plaza, banyak saudagar kedai kecil-kecil dan resto besar-besar, juga bioskop, jangan dilupakan juga toko-toko kaset (konon cikal bakal produser kaset rekaman ya dari situ) yang bisa order kompilasi aneka lagu (barat dan mandarin) direkam dalam satu kaset, juga kelompok drama rakyat seperti gambang kromong, cokek, termasuk lenong Betawi yang sering pada manggung di sono (ada satu gedung khusus untuk manggung, dan satu panggung kecil terbuka), semuanya hilang-lang bagai ditelan bumi. Bssss....... (kali ini banyak yang hilang, jadi pakenya B, bukan P - psssss).

Anda sempat keluyuran di THR Lokasari dulu?






IT'S WORLD TIME: