February 08, 2010

Panggang Ayam Kecap? Halah, Di Rumah Juga Ada, Jeh!

Kalau anda lama mukim di Jakarta, kawasan kota (Glodok - Pancoran), atau suka maen ke kawasan kota, mestilah anda tidak asing dengan RM Panggang Ayam Malang. Mereka sudah lama berdagang panggang ayam di Jalan Pinangsia Raya sana. Sejak 1973-an, ketika saya masih SMA, saya sudah beberapa kali mencicipi makan Panggang Ayam Malang yang COSTI - Crispy Outside, Soft & Tender Inside itu.

Katanya mereka memanggang ayam secara 'tandoor', memakai pembakaran besar dipanggang dengan waktu lama, sehingga kulitnya bisa begitu kemripik. Tahun 1973-an itu, mereka menjual seekor ayam panggang utuh cuma sekitar Rp 5.000 per ekor. Sekarang? Mungkin di atas Rp 100.000 per ekor.

Saya ndak tahu mengapa mereka menyebut diri sebagai RM Panggang Ayam Malang. Apakah keluarga mereka berasal dari kota Malang, Jawa timur? Atau, memang mereka suka bicara straight to the point, tanpa tedeng aling-aling. Mana ada toh ayam yang merasa 'beruntung' kalau diperlakukan begini: digorok lehernya, dicabuti bulunya, dikeluarkan isi perutnya, direndam dalam bumbu, lalu dipanggang dalam tandoor sampai kulitnya kemripik, masih dipajang-pajang di lemari kaca dengan cara digantung pula. Apa masih kurang 'malang' tuh nasibnya ya?

Tapi, saya ndak mau ngomongin soal si Panggang Ayam Malang itu.

Saya cuma mau cerita perkenalan pertama saya dengan Ayam Panggang SM yang di kawasan Cilandak - Ragunan itu. Dulu, 1985-an, mereka buka warungnya dengan sederhana saja, di sisi kiri jalan Cilandak Raya yang ada kawasan industri itu, sebelum pertigaan yang arah ke Jalan Margasatwa (?), Ragunan (pintu belakang KB - Kebun Binatang), sekarang mereka pindah di Jalan Margasatwa itu, sisi kanan jalan sebelum pintu belakang KB. Bekas tempat mereka juwalan dulut itu, ya akhirnya buka kedai ayam panggang juga, lupa lagi namanya.

Nah, pertama kali saya diajak makan Ayam Panggang SM [gak pernah tahu apa kepanjangannya: Sabar Menanti, Suka Makan atau apa ya?] itu ya diajak oleh sohib saya yang kocak itu. Masih di kedai yang lama, tentu. Meja makannya sedikit, tempatnya juga kecil - jauh dibandingkan dengan yang sekarang. Pilihan menunya cuma Ayam Panggang Bumbu Kecap atau Ayam Panggang Bumbu Rujak, tentu ada ubo rampe kondimen lain-lain, buntil daun tales buatan mereka uenak tenan, jeh!

Pesan-nya boleh seekor, setengah ekor atau seperempat ekor. Jadi, waktu saya ditawari mau ayam panggang apa, saya tentu pilih saja dua-duanya, belum pernah coba toh. Tapi, apa kata sohib saya? Ayam Panggang Kecap? Halah, ngapain, di rumah juga ada. Mending pesan yang bumbu rujak ajah dong!

Anda suka yang mana?

IT'S WORLD TIME: