February 20, 2010

Her Name Is Also Effort, Jeh!

Di Hongkong, dulu ada satu pasar K-5 yang namanya Stanley Market. Kalau anda ikut City Tour, satu spot kunjungan turis mesti diajak ke situ. Entah sekarang masih ada atau tidak tu pasar ya. Walau namanya 'pasar' (market), kayaknya sih mereka gak juwalan sayur-mayur, rempah-rempih, bumbu dapur atau hal-hal yang berbau pasar becek di mari.

Sebelum turun dari bus turis, biasanya si guide akan wanti-wanti pesan kepada kami, para turis untuk tidak sembarangan memegang atau menyentuh barang yang dipajang, kalau tidak hendak membelinya. Kalau mau menawar, tawarlah dengan harga yang pantas, patokannya sekitar 50% dari harga yang ditawarkan.

Yang dijual aneka barang cindera mata turis, ada ukiran dari gading berbentuk aneka macam benda seni, termasuk seni sanggama yang berpatokan pada buku terkenal Kamasutra. Patung ini berbentuk orang, laki dan perempuan telanjang yang bisa dipisahkan, dan bisa di'satu'kan, dengan berbagai 'posisi'. Dijual per set atau sekotak isi selusin. Juga guci, mangkuk, poci teh, yang antik maupun kontemporer.

Pakaian, baju, celana dan aksesori-nya, semua tersedia. Termasuk perabotan dalam dengan aneka model yang sedang in, juga tentu saja tas-tas bermerek 'aspal' sesuai logo dan merek yang anda gandrungi. Kamera, kacamata, mainan anak-anak, you name it.

Semuanya tersedia, tinggal anda bawa uang atau kartu plastik sebagai alat pembayaran-nya ajah.

Kalau anda masuk ke lorong-lorong penjaja dagangan itu - dengan kios-kios, tenda semi permanen dan toko-toko di ruko yang berjejer di sepanjang jalan itu, anda akan ditawari oleh para penjaja dan pegawai-nya, dengan berbagai cara dan gaya agar menarik perhatian anda.

Tapi, sesuai dengan anjuran turis, saya cuma berani melihat-lihat saja, tanpa berani menyentuhnya sama sekali. Lha, saya memang cuma senang melihatnya, tidak berani menyentuhnya, sebab saya tidak berminat untuk beli barang dagangan itu. Jadi, saya pun selamat dari 'paksaan' mereka untuk membeli karena sudah menyentuhnya. Ini akhirnya jadi biasa saya lakukan: ndak minat ama barang orang, ya saya tidak akan menyentuhnya, jeh!

Itu cara lama orang pasar berdagang, umumnya para penjaja itu adalah kaum hawa. Mereka begitu ulet, teriak-teriak dan menarik-narik turis untuk singgah melihat-lihat dulu barang dagangan mereka. Jadi, istilahnya: her name is also effort, namanya juga usaha sih, jeh!

Jaman sekarang, namanya orang berdagang tentu berbeda caranya. Mereka ndak perlu capek berteriak-teriak menjajakan barangnya. Satu kiat yang lagi 'trend' adalah ini: cukup menawarkan foto-nya lewat internet secara online. Pembayaran bisa dilakukan via transfer ke rekening bank. Tapi, kalau proyek-nya gede dan mau lebih afdol, tentu saja mesti bertemu muka juga, F2F - face to face. Tergantung apa yang hendak dijual ajah sih sebenernya.

Kalau perlu, anda bisa undang prospek pembeli anda ke hotel. Ajak sarapan pagi di kafe hotel. Cari hotel yang sudah 'tersohor' sebagai hotel transit ajah, lebih murah tarif kamarnya toh. Jangan ajak orang lain, biar fokus dan tidak terganggu transaksinya nanti. Berdua saja, biar lebih intensip dan efektip. Kalau belum berhasil juga, anda bisa ajak prospek ke kamar anda, berdua saja, perlihatkan sample barang dagangan anda di kamar, kasih minum wine supaya nampak elite, apalagi kalau barang dagangan anda emas permata berlian mutu manikam yang mahal-mahal harganya toh, lebih sip lagi 'kan?

Tapi, kalau semua usaha anda sudah dijalankan secara maksimal, dengan baik dan benar sesuai petunjuk baku buku panduan marketing ditambah dengan pengalaman anda sebelumnya, kemudian anda ketemu prospek-nya macam saya, yang menyentuh ajah gak minat, ya sudahlah. Itu sih nasib anda ajah, bukan salah barang dagangan anda atau cara anda menawarkan. Ibaratnya, bukan bunda salah mengandung, tapi salah bapak-e yang go young? Hehehe.........

Emang prospek-nya ajah yang gak minat ama anda, eh barang dagangan anda 'kali ya. Ndak usah lantas marah-marah, mengatain prospek anda, curhat sana-sini, kasih peringatan ama teman-teman di mana-mana di seluruh pelosok jagat raya, ngapain buang waktu dan energi begitu toh? Masih banyak prospek lain koq. Jangan putus asa, gugur satu masih menunggu seribu di pintu. Hayu, usaha lebih keras lagi, jangan terpaku pada kegagalan yang satu itu. Siapa tahu anda beruntung menjual lebih banyak kepada prospek lain.

Jangan putus asa, maju terus - your name is also effort, jeh!



PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

IT'S WORLD TIME: