Karena kemaren cerita ttg Pertama-X abroad going, saya jadi ingat insiden kecil ketika mau ke hotel dari bandara Canggih, eh, Changi.
Ceritanya kami rombongan, diatur oleh satu travel agent dari Jakarta yang kerjasama ama travel agent di Singapore.
Dapat kendaraan-nya mini van ala APV kalau sekarang mah, atau Toyota Bastards, eh, Alphard gitulah kalau yang keyen-nya sih ya. Pokoke sing iso muat uakeh, muat banyak gitu sekali angkut. Biasanya TDP - Tempat Duduk Penumpang terdiri dari: 1 di sebelah supir (paling top, buat eksekutip top), 3 di baris tengah, dan 3 di baris belakang - kudu narik sandaran dan tempat duduk kursi deket pintu di baris kedua, untuk jalan masuk ke baris belakang itu.
Jadi, rombongan kami 5 orang, terdiri dari klien saya, boss bule + nyonyah, boss lokal, dan boss saya + saya, dan koper-koper + properti lain-lain untuk keperluan launching produk baru.
Setelah meeting kilat, pengaturan tempat duduk jadinya saya dapat di belakang sendiri + koper dan properti aneka macam. Jadi saya segera saja buka pintu mau naik masuk ke baris belakang. Eh, tapi nyonyah boss bule spontan mau masuk begitu saya bukakan pintu. Jadi kami hampir seolah berebutan mau masuk mobil. Akhirnya beliau mengalah memberi saya kesempatan masuk mobil duluan.
Saya jadi tengsin (malu, isin) sendiri.
Lha, emang sih manner-nya pan di kalangan bule begitu: bukakan pintu buat perempuan duluan - entah di mobil atau pintu masuk di mana saja, lift misalnya, ladies first.
Tapi, saya pikir karena saya dapat jatah kursinya di baris belakang, ya saya mau masuk dulu. Kalau beliau yang duduk di baris tengah masuk dulu, bukankah justru akan merepotkan beliau karena mesti bangkit lagi dulu untuk memberi saya jalan?
Halah, kejadian dah lama, baru ingat lagi sekarang ya?
December 16, 2009
December 13, 2009
Kerana "A [ei] B [bi] C [si] D [di]", maka "J [ji] K [ki] L [el] M [em]"?
Huruf Latin A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z. Hurufnya sama, tapi kenapa rang Inggris dan Amrik mbacanya beda:
A [ei] B [bi] C [si] D[di] E[i] F [ef] G [ji] H [eits] I [ai] J [jei]
K [kei] L [el] M [em] N [en] O [ou] P [pi] Q [kiu] R [ar] S [es]
T [ti] U [yu] V [vi] W [dobel yu] X [eiks] Y [wai] Z [zi].
Padahal di kita bacanya ya 'biasa' ajah:
A [a] B [be] C [ce D[de] E[e] F [ef] G [ge] H [ha] I [i] J [je]
K [ka] L [el] M [em] N [en] O [o] P [pe] Q [ki] R [r] S [es]
T [te] U [u] V [ve] W [we] X [eks] Y [ye] Z [zet].
Jadi, kalau kita perhatikan bunyi-bunyi yang ini:
B [bi] C [si] D[di] P [pi] T [ti] V [vi] Z [zi],
dibandingkan dengan bunyi cara basa Indonesia:
B [be] C [ce D[de] P [pe] T [te] V [ve] Z [zet],
maka bisa saja lantas muncul common mistake membunyikan huruf basa Inggris oleh orang kita. It's just common as those common mistakes.
Biasa, jamak ajah kalau lantas muncul salah ucap begitu sih ya.
Contohnya, karena common mistakes terjadi pada lafal, pengucapan, maka yang saya dengar tentu di radio:
(1) Radio Delta FM, penyiar-nya Bu Yati Asvan Lubis (sudah tidak lagi) pernah populer pada 2005-an, menyiarkan kemacetan lalu lintas di sore hari di Jakarta. Beliau pernah beberapa kali menyebut nama JDC - Jakarta Design Center (gedung yang berlokasi di bunderan Slipi) dengan pengucapan J [ji] D [di] C [si]. Dan ini bukan cuma beliau saja, tapi banyak orang yang saya dengar juga sama mengucapkannya begitu. Karena kita tahunya J[je] dan yang D[de] jadi [di] T[te] - [ti], V[ve] - [vi], maka tak sadar kita analogikan J[je] menjadi [ji].
Karena radio di mobil saya waktu itu dipanteng ke Delta FM setiap hari, maka saya hapal nomor teleponnya dan saya hubungi, kebetulan terhubung ya saya sampaikan bahwa itu salah. Dan langsung Bu Yati meralat kesalahannya. Tapi, mestinya anda pernah juga dengar salah ucap pada JDC ini terjadi di lingkungan anda. Gak percaya? Coba cek ajah ama teman-teman anda, tanya ajah apa nama gedung di bunderan Slipi itu apa.
(2) Radio Trijaya FM, baru saja, pada Jumat, 11 Desember 2009, sore sekitar pukul 17:00 EIB menyiarkan program "Talk to CEO" dengan seorang penyiar perempuan (ndak tahu namanya) menghadirkan Bapak Fabian Gelael atau Fadian Gelael (kurang jelas pengucapan huruf D atau B) yang tentu saja anak pemilik KFC. Dan, tentu saja bicara seputar KFC yang rupanya dalam rangka HUT KFC ke-30 baru-baru ini.
KFC kalau dibaca secara basa Indonesia, tentu saja bunyinya K [ka] F [ef] C [ce], tapi karena ini singkatan dalam basa Inggris, wajar saja kalau sang penyiar bacanya secara Inggris: K[ki] F [ef] C [si]. Eh, bener gak sih? K[ki]? Dan sang penyiar berulang-ulang menyebutnya K[ki] F [ef] C [si] dan saya tidak mendengar sang CEO KFC meralat pengucapan tsb. Jadi mestinya itu bener tah? Lha, ya jelas salah, wong K [ka] dalam basa Inggris itu bukan [ki] tapi [kei], jeh!
Oleh karena saya jarang mendengar Radio Trijaya yang ditargetkan bagi eksekutip muda, sebab saya toh bukan eksekutip, juga tidak lagi muda, maka saya ndak tahu nomor teleponnya, juga ndak ingat siapa nama penyiarnya itu.
Kalau-kalau anda kenal nama penyiarnya, atau sang CEO [si-i-ou] dari KFC [kei-ef-si] itu, tolong sampaikan bahwa sudah terjadi kesalahan ucap di HUT KFC [ka-ef-ce] yang ke-30 itu.
Salam dan sukses selalu KFC!
December 12, 2009
EPPP - Efisiensi Prosedur Pelaporan Pajak.
Tahun kemaren, KPP - Kantor Pelayanan Pajak menggalakkan kampanye (bukan 'kampanye'nya yang digalakkan atuh ya) untuk menyadarkan masyarakat agar mau memiliki NPWP - Nomor Pokok Wajib Pajak. Dengan iming-iming bebas fiskal bagi yang hendak bepergian ke luar negeri, kalau sudah memiliki NPWP.
Memiliki NPWP, bukan berarti sekedar punya kartu NPWP-nya ajah, tapi tentu saja diharapkan masyarakat mau taat dan sadar membayar pajak.
Nampaknya kampanye ini berhasil.
WP - Wajib Pajak, ternyata katanya bertambah banyak secara signifikan. Artinya bertambah banyak orang yang mau bayar pajak.
Hanya saja, nampaknya kesiapan di lapangan untuk menampung ketaatan para WP kurang diantisipasi dengan baik. Akibatnya bank-bank penerima setoran pajak setiap bulan selalu penuh membludak. Dari sisi bank, tentu saja ini merupakan pekerjaan tambahan. Mereka mesti menyelesaikan administrasi setoran pajak pada pukul 12:00 - mungkin ini deadline yang diberikan oleh Kantor Pajak untuk menyelesaikan setoran hari itu.
Saya perhatikan, formulir setoran pajak, SSP - Surat Setoran Pajak terdiri dari 5 lembar, ukuran 210 x 280 mm, dicetak rapi, dengan kertas berkarbon (anda tulis paling atas, semua lembar akan ikut tertulis) sebagai berikut:
Lembar ke-1 - untuk Arsip WP (asli).
Lembar ke-2 - untuk KPP melalui KPKN.
Lembar ke-3 - untuk dilaporkan oleh WP ke KPP.
Lembar ke-4 - untuk Bank Persepsi/Kantor Pos & Giro.
Lembar ke-5 - untuk arsip Wajib Pungut atau pihak lain.
Resminya kantor pos bisa menerima setoran pajak, begitu juga bank besar dan bank daerah, tapi pada prakteknya, tidak semua kantor pos atau cabang bank bisa menerima. Sebab ada kebijakan dari kantor pos pusat atau bank besar untuk itu.
Formulir SSP bisa anda minta di KPP gratis, setiap orang boleh minta 2 set setiap kali memintanya. Jadi, kalau anda mau setor untuk setahun yang 12 bulan, paling tidak anda mesti 6 kali datang ke KPP untuk mengambil formulirnya. Petugas KPP akan dengan senang hati memberitahu anda pedoman menghitung pajak penghasilan anda.
Cara mengisi formulir sudah disederhanakan dan sangat mudah dimengerti dan diisi. Anda tinggal isi NPWP anda, centang bulannya, beritahu pajak apa yang hendak anda setor, lalu serahkan ke bank. Waktu anda setor ke bank, petugas bank akan mengambil 2 lembar (lembar ke-2 dan ke-4) setelah diberi cap dan tanggal bahwa setoran anda sudah diterima oleh bank tsb.
Cuma, antrian-nya di bank itu lho yang selalu penuh.
Saya jadi teringat ketika saya pertama kali ke luar negeri, 25 Januari 1989. Setting lokasinya adalah.... Singapura. Gak jauh-jauh amat sih. Ya. Itulah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah orang. Kalau Tim-tim boleh dihitung sebagai 'negara' luar, tentu saya pernah ke sana pada 1977, tapi waktu itu 'kan Timtim masih baru saja menjadi bagian dari wilayah NKRI.
Event-nya adalah launching produk baru klien kami, Sustagen Junior.
Pertama kali tiba di negeri orang, saya cukup norak juga. Apa-apa saja saya baca. Segala macam brosur dan peta yang disediakan gratis dari STPB - Singapore Tourist promotion Board saya ambil, saya baca dan bahkan saya bawa pulang tuh! Banyak sekali brosur berbentuk booklet yang cantik-cantik, termasuk tawaran sekolah di Singapura. Mungkin inilah yang memicu anak saya, si Dede, untuk berusaha bisa bersekolah di Singapura ya?
Nah, ada yang saya ingat. Waktu itu saya baca (kayaknya dari agenda kecil promosi dari satu perusahaan, hotel atau apa gitu) tabel pajak penghasilan yang mesti dibayarkan penduduk Singapura. Dengan sederhana dan jelas sekali di situ dicantumkan daftar penghasilan yang dibagi berdasarkan jenis pekerjaan (karyawan, pengusaha, atau apa saja), jumlah penghasilan dan besaran pajak (dalam persentase) yang jelas. Setiap orang yang baca akan mudah mengerti berapa mesti dia setor untuk diri sendiri. Saya lupa prosedur setornya ke mana.
KPP di Indonesia juga mestinya punya daftar seperti itu.
Hanya saja, mereka nampaknya 'belum sempat' membuat tabelnya secara sederhana. Anda mesti tanya kepada petugas KPP dan mereka akan memberi penjelasan kepada anda. Kalau saja KPP mau membuat tabel seperti itu, mungkin petugas KPP tidak perlu setiap kali menjelaskan kepada WP yang datang ke KPP dan bertanya.
Pada prinsipnya, setoran pajak penghasilan anda dihitung untuk setahun.
Anda bisa menghitung sendiri, semua penghasilan anda dijumlahkan dalam 12 bulan, setelah dikurangi PTKP - Penghasilan Tidak Kena Pajak, sisanya itu yang dikenai pajak. Mestinya ini cukup sederhana toh? Dan anda setor setiap bulan untuk jumlah pajak tsb dibagi 12. Dan, pada akhir tahun fiskal, kalau ternyata penghasilan anda lebih besar dari yang diperhitungkan semula, berarti anda masih kurang setor, anda diharapkan menambah setoran pajak itu untuk menggenapinya, lalu anda membuat laporan SPT - Setoran Pajak Tahunan.
Untuk anda yang menjadi karyawan perusahaan besar dan mapan, anda tidak usah dipusingkan oleh prosedur perpajakan. Bagian kepegawaian dan bagian keuangan perusahan tsb. sudah membantu anda mengurusnya. Anda tinggal minta bukti pemotongan pajak setiap bulan, lalu melaporkannya ke KPP sebagai SPT anda.
Tapi bagi profesional dan pengusaha swasta, besar atau kecil, tentu saja mesti mengurusnya sendiri atau melalui... 'konsultan' aka konsulen pajak. Ada biaya lagi untuk itu, tentu. Apa sih yang gratis sekarang? Lha, wong pipis di WC umum sekarang mesti bayar Rp 1.000, jeh! Kalau mau urus sendiri mestinya bisa, hanya saja mesti membuang waktu dan pikiran, mesti antri di bank dan seterusnya.
Kalau saja KPP mau bekerjasama dengan bank lebih intensip, misal dengan menyederhanakan prosedur setoran pajak per bulan dengan cara seperti pembayaran listrik, langsung ke ATM, transfer dari rekening anda, dan slip transfer itu sebagai bukti setoran pajak. NPWP anda dianggap sebagai 'rekening' pajak anda. Di database bank sudah tercantum NPWP anda, dan dengan sendirinya setoran anda dari mana saja akan tercatat di dalam 'rekening' pajak anda tsb.
Pada akhir tahun, kalau ada kekurangan, maka anda akan mesti menambah setoran pajak tsb. Sebaliknya, kalau ada kelebihan, maka akan diperhitungkan untuk tahun fiskal berikutnya. Seperti kalau anda membayar rekening kartu kredit, kalau ada kelebihan pembayaran pada bulan ini, ya tentu saja akan diperhitungkan pada bulan berikutnya.
Mestinya itu akan membantu mempermudah WP untuk menyetor pajaknya. Tidak 'trauma' kalau dengar dan berurusan dengan 'pajak'. Mestinya akan lebih banyak lagi yang dengan kesadaran sendiri membayar pajak penghasilannya. Kalau sudah sederhana begitu, mestinya banyak hal bisa lebih efisien. Misalnya, tidak perlu lagi mencetak SSP.
Hanya saja, kalau sudah bicara efisien, mungkin terpaksa ada pos-pos pekerjaan yang dibubarkan, seperti konsulen pajak, petugas penerangan, pemeriksa awal(?) SSP di KPP, dan lain-lain.
Atau, mungkin justru hal ini yang menjadi beban pikiran para elite di KPP sana, sehingga terpaksa seolah-olah masih saja berlaku slogan: kalau bisa dipersulit, mengapa mesti dipermudah?
Kalau masih begitu, apa kata dunia ya?
"Change" atau "Changes" Ya?
Eh, baru ingat, dan ngeh nih, ternyata ada lagunya berjudul "Changes", dinyanyikan pertama kali oleh Black Sabbath, aliran heavy metal, tahun 1970-an.
Daripada mikirin 'teman' anda yang berubah, namanya juga manusia, people change, mendingan juga dengerin lagunya di sini sambil ikut berdendang menyanyikan syairnya ini:
CHANGES
I feel unhappy
I feel so sad
I've lost the best friend
That I ever had
She was my woman
I loved her so
But it's too late now
I've let her go
I'm going through changes
I'm going through changes
We shared the years
We shared each day
In love together
We found the way
But soon the world
Had its evil ways
My heart was blinded
Love went to strain
I'm going through changes
I'm going through changes
It took so long
To realize
And I can still hear
Her last goodbye
Now all my days
Are filled with tears
Wish I could go back
And change theese years
I'm going through changes
I'm going through changes
I feel so sad
I've lost the best friend
That I ever had
She was my woman
I loved her so
But it's too late now
I've let her go
I'm going through changes
I'm going through changes
We shared the years
We shared each day
In love together
We found the way
But soon the world
Had its evil ways
My heart was blinded
Love went to strain
I'm going through changes
I'm going through changes
It took so long
To realize
And I can still hear
Her last goodbye
Now all my days
Are filled with tears
Wish I could go back
And change theese years
I'm going through changes
I'm going through changes
Gak Nyangka, Deh!
Mestinya anda pernah takjub, terkejut bilang: gak nyangka, deh! Anda gak nyangka kalau anak anda bisa dapat juara satu lumba menulis tingkat nasional, misalnya. Anda merasa heran, sebab anda tidak pernah tahu bahwa anak anda sebenarnya diam-diam suka menulis di blog.
Kalau anda tidak mengharapkan sesuatu, tapi toh sesuatu itu terjadi, anda merasa heran. Wajar saja toh? Baca posting seorang teman 'kontak' MP saya di sini, saya jadi pengen juga cerita nih.
Jadi, kalau anda ketemu teman, anda merasa sreg dengan-nya, lalu anda curhat - ttg apa saja. Tapi anda tiba-tiba heran, curhat anda koq jadi beredar di mana-mana - berkat kemajuan teknologi internet. Sampai-sampai anda mesti berurusan di depan meja hijau dengan pihak lain yang merasa anda serang, baik secara pribadi maupun institusi. Padahal anda bersumpah bahwa sejak awal anda tidak bermaksud menebar gunjingan miring ttg seseorang.
Ih, gak nyangka deh kalau ternyata si B suka bergosip!
Kalau sudah terlanjur tersebar gosip yang bermula dari curhat anda itu, dari anda cuma bilang rambut si X beruban, bisa saja berubah beritanya menjadi: menjadi si X botak, cuma ada seutas rambut uban doang di kepalanya.
Apa yang mesti anda lakukan?
Berunding dengan si B untuk memoles 'kebenaran' anda ttg curhat itu? Atau menebar lebih banyak lagi 'bantahan' dan 'klarifikasi' anda kepada teman-teman lain sebelum teman-teman anda tahu bahwa memang sumbernya dari anda? Jadi di mata mereka anda-lah yang 'benar' dan si kurban itulah yang 'salah'. Karena makin banyak massa yang berhasil anda himpun, makin baik bagi pembentukan opini publik, bahwa anda-lah yang 'benar' - karena memang si X botak, jeh!
Padahal mah, kalau memang anda 'baik' dan 'benar' adanya - beritikad baik, tiada ada maksud menistakan si kurban, mengapa sejak awal anda ndak langsung ajah berbicara dengan dia, straight to the point. Bicarakan secara empat mata saja. Kalau perlu anjurkan si X untuk beli obat penghitam rambut, jadi si X tidak lagi beruban.
Curhatnya kepada yang bersangkutan saja, jangan ada pihak-pihak lain. Lebih bijak, lebih arif dan lebih fair bagi anda dan si kurban. Dan, kalau toh sudah kadung curhat anda berubah jadi gosip miring - thanks to si B, mestinya anda cukup bilang 'maaf' kepada si X. Sederhana dan cuma 4 huruf saja tuh ya. Ndak perlu orang lain tahu, jadi sama-sama tidak 'gengsi' atau kehilangan harga diri, kehilangan muka.
Ya ndak?
Lha, walau rambut sama hitam, anda mana tahu isi kepala dan hati 'kawan' curhat anda yang menjadi pihak ke-3, yang lantas menebarkan gunjingan miring setelah ditambahi bumbu-bumbu penyedap gosip kepada pihak ke-4 dan ke-5, dan seterusnya sampai ke-1.000.000 itu toh? Mana anda tahu bahwa si B memang sedang memendam dendam kepada si X, makanya dengan sengaja dia menebar gunjingan untuk 'menyerang' si X? Memuaskan hatinya yang panas sebab pernah berkonflik dengan si X.
Jadi, kayaknya gak perlu ngumpulin receh mestinya tuh?
December 04, 2009
Makan Emas Di Negeri Orang.
Kalau cuma sekedar hujan emas di negeri orang, katanya masih mending hujan batu di kampung sendiri. Halah, wong mau gagah-gagahan ajah pake ngutip peribasa lama ya? Tapi, kalau cuma sekedar hujan emas(-emasan) dalam arti kiasan, ya masih mending makan emas walau cuma sekeping lembaran tipis sahaja. Istilah bulenya gold leaf atau metal leaf (bisa dari logam apa saja, ternyata). bener-bener gold, bukan sekedar golden.
Kejadian ini sudah lewat 3 tahun lebih, pas libur Lebaran 2006, ketika saya diberkahi kesempatan melanglang ke Negeri China numpak CX - Cathay Pacific, maskapai penerbangan dari Hongkong, ketika resesi global di Amrik belum-lah tercium baunya acan-acan. Jadi fasilitas di pesawat pun masih yang high standard punya, jeh!
Ceritanya, saya lupa lagi kenapa, kami (saya dan teman) dapat upgrade kelas, bukan 'lompat kelas' jaman sekolah dulu, tapi dapat tempat duduk di business class secara gratis dari tiket economy class yang teman saya beli.
Baru sekali itu saya merasakan nikmatnya duduk di business class CX nan melegenda layanan dan fasilitasnya, paling tidak untuk kawasan Asia-lah ya. Jadi, saya benar-benar menikmatinya, terutama.... makanannya tentu!
Fresh orange-nya bener-bener fresh, tanpa gula manisnya. Free flow sepanjang perjalanan CKG - HKG (Jakarta - Hongkong) dan benar-benar saya minta berkali-kali. Makannya juga bisa pilih menu dari beberapa pilihan, nasi, ruti atau pasta, termasuk mie. Ikan atau daging (lupa apakah ada pilihan babai selain beef or chicken), dengan dessert berupa cheese tiga rasa yang satunya adalah high end punya: blue cheese. Sebagai puncaknya: secangkir kupi yang ditemani sepotong coklat praline dengan kubikasi (PLT) 40 mm x 30 mm x 20 mm dengan center fill yang bisa dipilih, antara lain liquor beralkohol, dan di atasnya ada selembar tipis kertas berwarna keemasan seukuran sekitar 10 mm x 10 mm (lupa persisnya!) yang semula saya kira itu cuma hiasan saja, ternyata teman saya membisiki bahwa itu adalah....... kertas emas made from real 24 K pure gold!
Ya. Bukan kertas emas seperti yang biasa anda temukan sebagai pembungkus coklat yang biasa disebut grenjeng, bisa emas atau perak itu. Tapi benar-benar dibuat dari emas murni yang dipangkung (dikeprek) sampai pipih tipis sangat, istilahnya gold leaf aka daun emas. Konon, dari 'kerikil' emas berdiameter 5mm, dapat dibuat lembaran 'daun emas' sebanyak 20.000 kalinya, dengan ketebalan 0,2-0,3 micrometer. Gak percaya? Baca saja di sini.
Itu untuk dimakan? Ya! Tentu. Anda ndak usah ragu untuk makan itu daun emas yang ada di atas coklatnya. Lha? Koq logam dimakan? Ya, ndak apa toh. Perut kita 'kan berisi asam lambung yang kuat sangat. Logam sedikit begitu mah kecil ajah bagi lambung. Emas itu cuma dipandang tinggi oleh mata (kepala) manusia, di mata alam dan (asam) lambung sih just another logam biasa ajah tuh, jeh!
Secangkir black kupi asli dari fine ground coffee bean (bukan instant tapi ya bukan 'sekresi' chives aka luwak - ogah, ah!) yang NSP - No Sugar, Please dan sepotong high end fine chocolate bar dengan center fill brandy dan topping selembar tipis gold leaf menutup makan siang nan nikmat di udara siang itu, 3 tahun lalu, dan saya masih bisa menceritakannya lagi sekarang. So, kapan anda mau traktir saya numpak business class ya?
PS: Gambar kupi dari MS Office ClipArt media file, blue cheese dari sini dan chocolate bertabur remahan daun emas dari sini.
December 03, 2009
Common Mistake.
Common Mistake - kesalahan umum, jelas artinya. Maksudnya, kesalahan yang sudah umum dilakukan. Khususnya dalam berbasa. Teman saya, orang Taiwan, teknisi ahli kayu lapis, belajar basa Inggris, sebab boss-nya mengangkat dia jadi Manager Internasional untuk ekspansi. Kerana sudah cukup berumur, susah tentu untuk mulai belajar basa.
Jadi, saking jengkelnya belajar gak bisa-bisa, khususnya dalam membunyikan kata-kata dalam basa Inggris, dia bilang: "Halah, gak usah perfect lah pronounciation-nya. Kalau kita bercakap dengan para bule, dan mereka gak ngerti. Ya itu bukan salah bunda mengandung, eh, salah kita dong. Itu 'kan basa mereka, masak gak ngerti?"
Bener juga sih ya logikanya.
Makanya, kalau ada common mistake yang dilakukan kita, sebagai bukan native speaker, ya mestinya sih ndak usah minder aka inferior.
Berdasarkan 'common mistake' ini, ketika saya mesti ke Bangkok untuk urusan pekerjaan, saya dan satu teman baik saya asal JB - Johor Bahru, Malaysia, menginap di satu hotel agak tua, agak ke pinggiran kota, dekat daerah industri. Lupa lagi nama hotelnya, tapi saya ingat di seberang hotel ada show room mobil besar sekali (kelihatan dari jendela kamar) dan agak ke kiri-nya, di sisi yang sama dengan show room atau persisnya hangar mobil bekas besar itu, ada Carrefour - sebab saya ingat ke situ nyari lempok duren buat oleh-oleh si Dede, anak saya.
Hotelnya kelihatan sudah lama, kamarnya besar, agak pengap. Peralatannya sudah tua. Harga kamar sudah termasuk breakfast. Breakfastnya cukup 'internasional', sebab ada banyak pilihan menu, antara lain: Oriental atau American breakfast. Menunya ditulis dalam dwi bahasa: Thai (huruf Sanskrit) dan Inggris (huruf Latin). Bisa pilih satu set. Yang American tentu saja ada pilihan jus(-jusan) buah (botolan), mau jeruk atau nenas, telur mau rebus, ceplok atau omelet, toast mau fresh atau bakar, dengan mentega dan jam (selai), teh atau kupi.
Yang oreintal mengacu ke Chinese food, pake nasi. Nah, pilihan nasinya ini disebutkan: boiled rice. Hehehe........ baca judulnya, mestilah anda sependapat dengan saya, itu mestilah 'common mistake' dalam menuliskan 'steamed rice'.
Steamed or boiled? Dikukus atau direbus? Anda tahu bedanya?
Jadi saya pesan 'boiled rice' kumplit satu set makanan ala Oriental ini. Lupa lagi apa saja isinya dalam satu set. Tapi saya style yakin dan pede ajah, pastilah saya dapatnya nanti mesti nasi putih yang biasa kita makan. Rice = nasi toh?
Sementara teman saya sudah mulai makan American breakfast-nya, sebab sudah tersedia ala buffet, dan saya masih menunggu Oriental breakfast saya.
Tak lama kemudian, datanglah set menu saya. Di antara piring dan mangkuk berisi sayur dan lauk-pauk, ada satu pinggan besar serupa mangkuk cekung, yang ketika sudah ditarok di meja depan saya ternyata berisi....... nasi! Bener, nasi-nya, tapi juga bener 'boiled'-nya. Ya, tu nasi bener-bener direbus pakai air, ada airnya seperti kuah dan nasinya tenggelam di dasar pinggan. Jadi kayak bubur bantet, alih-alih nasinya menjadi bubur, ini sih bener-bener nasi yang direbus air.
Teman saya cuma mesam-mesem, dan bilang: "I told you!" Sebab tadi sempet saya berdiskusi ihwal 'common mistake' ttg 'boiled rice' itu dengan dia. Saya bilang itu mestinya yang dimaksud 'nasi', steamed rice.
Dasar sotoi sih ya?
Jadi, saking jengkelnya belajar gak bisa-bisa, khususnya dalam membunyikan kata-kata dalam basa Inggris, dia bilang: "Halah, gak usah perfect lah pronounciation-nya. Kalau kita bercakap dengan para bule, dan mereka gak ngerti. Ya itu bukan salah bunda mengandung, eh, salah kita dong. Itu 'kan basa mereka, masak gak ngerti?"
Bener juga sih ya logikanya.
Makanya, kalau ada common mistake yang dilakukan kita, sebagai bukan native speaker, ya mestinya sih ndak usah minder aka inferior.
Berdasarkan 'common mistake' ini, ketika saya mesti ke Bangkok untuk urusan pekerjaan, saya dan satu teman baik saya asal JB - Johor Bahru, Malaysia, menginap di satu hotel agak tua, agak ke pinggiran kota, dekat daerah industri. Lupa lagi nama hotelnya, tapi saya ingat di seberang hotel ada show room mobil besar sekali (kelihatan dari jendela kamar) dan agak ke kiri-nya, di sisi yang sama dengan show room atau persisnya hangar mobil bekas besar itu, ada Carrefour - sebab saya ingat ke situ nyari lempok duren buat oleh-oleh si Dede, anak saya.
Hotelnya kelihatan sudah lama, kamarnya besar, agak pengap. Peralatannya sudah tua. Harga kamar sudah termasuk breakfast. Breakfastnya cukup 'internasional', sebab ada banyak pilihan menu, antara lain: Oriental atau American breakfast. Menunya ditulis dalam dwi bahasa: Thai (huruf Sanskrit) dan Inggris (huruf Latin). Bisa pilih satu set. Yang American tentu saja ada pilihan jus(-jusan) buah (botolan), mau jeruk atau nenas, telur mau rebus, ceplok atau omelet, toast mau fresh atau bakar, dengan mentega dan jam (selai), teh atau kupi.
Yang oreintal mengacu ke Chinese food, pake nasi. Nah, pilihan nasinya ini disebutkan: boiled rice. Hehehe........ baca judulnya, mestilah anda sependapat dengan saya, itu mestilah 'common mistake' dalam menuliskan 'steamed rice'.
Steamed or boiled? Dikukus atau direbus? Anda tahu bedanya?
Jadi saya pesan 'boiled rice' kumplit satu set makanan ala Oriental ini. Lupa lagi apa saja isinya dalam satu set. Tapi saya style yakin dan pede ajah, pastilah saya dapatnya nanti mesti nasi putih yang biasa kita makan. Rice = nasi toh?
Sementara teman saya sudah mulai makan American breakfast-nya, sebab sudah tersedia ala buffet, dan saya masih menunggu Oriental breakfast saya.
Tak lama kemudian, datanglah set menu saya. Di antara piring dan mangkuk berisi sayur dan lauk-pauk, ada satu pinggan besar serupa mangkuk cekung, yang ketika sudah ditarok di meja depan saya ternyata berisi....... nasi! Bener, nasi-nya, tapi juga bener 'boiled'-nya. Ya, tu nasi bener-bener direbus pakai air, ada airnya seperti kuah dan nasinya tenggelam di dasar pinggan. Jadi kayak bubur bantet, alih-alih nasinya menjadi bubur, ini sih bener-bener nasi yang direbus air.
Teman saya cuma mesam-mesem, dan bilang: "I told you!" Sebab tadi sempet saya berdiskusi ihwal 'common mistake' ttg 'boiled rice' itu dengan dia. Saya bilang itu mestinya yang dimaksud 'nasi', steamed rice.
Dasar sotoi sih ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)
