May 08, 2010

Nostalgia - Sepotong Ayam Goreng Dibagi Dua.

Ayam goreng. Siapa tak kenal dan tak pernah makan? Kecuali kalau anda vegetarian sejak kecil tentunya ya.

Mmenu paling populer mungkin ayam goreng ini. Ada banyak macam ayam goreng. Yang paling sering anda temui, tentu saja ayam goreng (bumbu) kuning yang dominan kunyit-nya sebagai rempah perencah - marinate. Lainnya, ada ayam goreng Kalasan, ayam bacem, ayam goreng lengkuas, ayam belacan, ayam goreng mentega, dan lain-lain sesuai selera anda.

Lalu, ketika masuk ayam goreng bertepung yang digoreng dalam genangan minyak berlimpahan, persisnya lemak - ada yang pake penggoreng bertekanan segala, yang disajikan secara cepat, maka ayam goreng 'kampung' mulai terisisihkan. Ayam Goreng moderen impor dari Amrik merajalela menguasai pasar. Dimakannya pake kentang goreng Perancis (French Fries) tapi juga suka ada yang minta ekstra nasi. Maka, mulailah ayam goreng kampung terisisihkan. Tapi kayaknya sih ndak begitu lama, sampai akhirnya orang-orang mulai balik lagi ke selera asal: ayam goreng kampung.

Jaman saya kecil, favorit kami adalah Ayam Goreng Kuning yang banyak dijajakan di warung-warung yang berjejer sepanjang Jalan Pekarungan-Bahagia, Cirebon. Ada banyak saudagar ayam, yang menggorengnya pakai kuali baja hitam besar, dengan tungku pawon ala kadarnya dari batu bata ditumpuk dan disusun membentuk huruf U, energinya pakai kayu bakar. masing-masing punya langganan sendiri-sendiri, ibarat kata rejeki sudah dibagi rata toh, jeh!

Dimakan panas-panas di tempat, atau dibawa pulang sudah dingin sebagai lauk makan nasi, masih saja teuteup enak tuh. Mulanya dimakan tanpa cocolan sambal, lalu ada satu warung yang berinisiatip menyajikannya dengan cocolan sambal yang digoreng bersama campuran tomat dan kacang yang digerus lembut, lalu tak lama seolah menjadi standar mereka.

Jaman saya kecil, ndak ada pilihan, makan ayam goreng kuning mereka terasa cukup istimewa. Apalagi jaman itu kami bersaudara 7 orang, jadi tante saya yang merawat kami sejak kecil, mesti berpikir kreatip supaya bisa menghemat belanja tapi teuteup bisa menyajikan makanan bergizi. Jadi, kami dapat separuh ayam goreng kuning itu. Kalau satu paha dibagi potong dua, pas tulang-nya begitu, tentu saja kami berebut minta bagian paha atas yang dagingnya lebih banyak - mereka masih pakai ayam kampung, belum 'musim' ayam negeri aka ayam broiler yang gede-gede itu.

Makanya, tante saya lantas memotong ayamnya dengan cara: dipotong agak lebih tinggi dari ruas tulang, ada sedikit bagian paha atas yang ikut ke paha bawah. Dengan demikian, kami semua mendapat bagian ayam berdaging yang cukup merata.

Sampai ketika saya SMP-SMA, bisa jajan sendiri, saya masih menjadi pendoyan ayam goreng kuning di situ. Kalau pagi-pagi sekali datangnya, sekitar jam 05:00 mereka sudah mulai dagang, saya suka masih kebagian sepiring kecil isi jantung full. Mereka tidak menyajikan jantung ayam dengan cara ditusuk lidi ala sate begitu, tapi dikumpulkan dan digoreng sekaligus. Jadi, mereka cuma bisa menjyaikan barang sep[orsi dua saja jantung goreng dalam sehari, tergantung banyaknya ayam yang dipotong tentunya, jeh!

Rasanya nikmat sekali, makan sepotong ayam goreng - favorit saya adalah pahanya, dan sepiring jantung ayam goreng dan sambal kacang + tomat cocolannya, nasinya masih hangat mengepul - makannya pakai 5 jari tangan kanan, nasinya dikeupeul-keupeul dulu, ditiban aroma kayu bakar dan aroma daging ayam digoreng di warung sederhana dengan dinding gedhek (anyaman bambu), ahh...... nikmatnya serasa dijamu bidadari makan di swargaloka ajah, tuh!

Ketika kami sudah dewasa dan berrumah tangga, dan saya balik ke Cirebon untuk makan ayam goreng kuning di sana. ternyata sudah tidak lagi terasa enaknya. Hanya demi nostalgia saja saya makan di sana. Gerget-nya sudah hilang. Mungkin saja karena sekarang ada banyak pilihan ayam goreng? Sehingga lidah saya sudah mengacu ke banyak jenis ayam goreng yang disimpan dalam database memori saya ya?

Ayam goreng apa favorit anda?

IT'S WORLD TIME: