January 15, 2011

Buka Cabang - Alangkah Indahnya(?).

Kayaknya topik ttg poligami sang AA masih jadi hit list minggu ini bagi stasiun TV ya. Saya juga pernah cerita ttg 'rekan' jaga malem di musim hura-hura 1998 yang 'buka cabang' di sini. Mau-tak-mau, suka-tak-suka, poligami - terlepas dari masalah agama atau norma masyarakat, adalah suatu kenyataan yang sudah ada sejak jaman baheula, jeh!

Saya lebih suka minjam istilah temen saya: buka cabang. Bukan karena mau mentolerir atau mau mengejek, cuma buat unik-unikan ajah gitu lho.

Boss satu resto ala Jowo yang pernah ngetop dan laris, pernah berbangga bahwa dia banyak 'buka cabang' demi cabang resto-nya, sampai ada menu 'es poligami' segala di resto-nya tuh! Sayangnya kemudian gaya unik-nya gak didukung oleh ibu-ibu yang lantas memboikot untuk tidak mau makan di restonya. Over pede?

Lanjut soal sang AA.

Katanya beliau jadi populer dan ngetop berkat Teh Nini - maksude, diorbitkeun oleh isteri pertamanya. Lantas jadi 'terpaksa'(?) buka cabang karena populer, ngetop, jadi kesempatan terbuka lebar.

Seorang teman saya, cewek, jaman saya masih bujangan, pernah curhat: dia asli Medan, lantas merantau ke Jakarta mengadu nasib bersama suaminya. Baru punya satu anak, mereka berdua gigih, sampai usahanya maju pesat dan... suaminya makin sibuk, makin laris, sampai akhirnya pulang malem terus hampir tiap hari. Di bajunya sering ditemui bekas lipstick dan di kantungnya selalu ditemukan kondom. Teman saya bilang, lama-lama dia 'buka cabang' juga tuh - dia lebih memilih kehidupan sederhana ketika mereka masih di Medan.

Seorang Sales Rep saya, dengan pendapatan melulu dari komisi karena kami terima job dari bank sebagai outsource - menjual 'kredit' bank ke nasabah, pernah coba-coba buka cabang juga. Dia rajin sangat, pendapatannya paling tinggi di antara sales rep yang lain. Katanya: demi cabang baru, pendapatan mesti dicari lebih banyak lagi.

Jadi, apakah usaha buka cabang itu is good or not is good?

IT'S WORLD TIME: