December 03, 2012

Hai, pakabar? | Dah makan?

Kalau belum makan, makanlah dulu.
Jangan lupakan makan, karena sibuk.
Lebih baik lagi kalau bisa makan enak.
Bisa makan bareng keluarga, kerabat atau teman-teman.

November 30, 2012

Masih Bisa, Koq?

Eh, masih bisa ngepost nih, jeh!

November 29, 2012

yok ke http://globe.mosquelife.com/ophoeng

yok ke http://globe.mosquelife.com/ophoeng

isi:
kode verifikasi qdg7te1yckg895d61nlwatddfgkao24e7579lj8s

May 06, 2012

Ungkapan - Cobalah Pake Sepatu Dia, Jeh!

Put yourself in someone's shoes, itu ungkapan dalam basa Inggris. Artinya kira-kira: cobalah memandang dari sudut pandang orang tsb. Ini dipakai kalau anda menghadapi masalah dengan orang lain.

Agak sulit memang, apalagi kalau anda, lelaki, mesti berhadapan dengan seorang perempuan, misalnya.

Pertama, kaki anda tentu saja relatip lebih besar dari kakinya. Pasti sakit kaki anda kalau memaksakan diri memakai sepatunya. Di samping anda tidak mungkin bisa memakai sepatu dengan high heel, bertumit tinggi, bisa keseleo deh kaki anda tuh, jeh!

Kedua, jelas beda sudut pandang kalian - kerana pengalaman hidup, dan lingkungan kalian pun berbeda.

Buat saya, kalau saya sudah tidak merasa cocok dengan anda, saya tidak akan ngotot terus berdekat-dekat dengan anda. Coba terus untuk masuk dalam kelompok lingkungan anda. Datang sendiri atau pun diajak teman saya yang kebetulan teman anda juga. Apalagi kalau saya sudah tidak tercantum dalam daftar network anda.

Jagalah gengsi barang sedikit-lah, euy!

Untuk apa sih mesti kudu harus ngotot begitu? Lha, hidup cuma sekali, kenapa mesti memaksakan kehendak sih? Anda punya lingkungan network sosial anda sendiri, dan saya pun punya sendiri. Ibarat kata ungkapan dalam cerita silat: air sumur tidak perlu bergaul dengan air sungai toh?

So, bagaimana saya mau dan bisa 'memakai' sepatu anda - lha, DNA-nya sudah berbeda. Buat anda, mungkin saya adalah musuh bebuyutan yang mesti dibasmi seakar-akarnya, sehingga anda terus ajah berusaha masuk dalam lingkungan saya, membusukkan saya, supaya orang-orang lain, teman-teman anda tidak mau berada dalam network saya. Itu-lah 'sepatu' anda. Beda 'kan dari 'sepatu' saya tuh.

Anda mau 'pakai' sepatu (butut) saya tah?





PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

May 05, 2012

Arsip - Surat Kepada Customer Service Multiply.

Cuma sebagai arsip saja, barusan saya kirim surat ke Customer Service Multiply, tentang Premium Membership, sebagai berikut:



Dear Sir/Mam,

Hi! How are you? Hope you are all fine as I am now so far.

I understand that you just charged me for annual premium membership via my credit card, which I NEVER approved nor agreed to extend. You have charged me inappropriately without my knowledge.

So please refund me the sum of US$ 19.95 to my bank.

Thank you.

Best regards,
Ophoeng

April 26, 2012

Entahlah - (4): Subsidi, Buat Siapa Nih?

Baca status seorang teman di FB, atau baca posting di milis, ada yang begitu terpengaruhnya ama kampanye 'Subsidi' BBM. Sampai-sampai tu orang bilang, memalukan sekali, naeknya mercy tapi ngisi BBM-nya premium. Saya ajah yang cuma punya-nya gerobak, minumnya Pertamax - begitu katanya.

Bagus banget tuh kampanye-nya, sampe bisa merasuki pikiran orang-orang sedemikian rupa, sampe ada ajah orang yang begitu militan - dengan lantang berani menunjuk hidung orang kaya yang tidak 'peka', ikut rakus, ikut 'merampas' hak rakyat berupa subsidi, jeh!

Hah? Sejak kapan sih kebebasan orang mau pakai apa buat keperluan dirinya sampe diatur begitu. Lihat ajah, begitu ada aturan pembatasan pemakaian premium, mestinya itu jadi lahan subur untuk dijadikan 'proyek'. Mau bikin keputusan ajah sudah sejak kapan gak jadi-jadi toh?

Lalu, menjadi kaya itu, salahnya di mana sih? Kenapa sampe dileceh-lecehkan begitu ya.

Masalah BBM, subsidi-nya itu subsidi buat siapa?

Kalau lihat paparan KKG - Kwik Kian Gie, mantan Menteri Ekonomi(?), dengan jelas dan gamblang beliau bilang gak ada itu subsidi. Kalau bisa efisien, Pertamina mestinya untung. Efisien, berarti juga kalau tidak ada 'upeti' atau pemalakan yang diambil dari keuntungan Pertamina - dibebankan ke harga jual untuk masyarakat.

Sumbernya? Coba google ajah deh ya.

Pun begitu, bukankah orang kaya di Indonesia itu ya rakyat juga, malah mereka bayar pajaknya lebih tinggi - kalau ada kong-kali-kong, ya itu sih di luar wewenang saya dwong.

Orang kaya bisa dan mampu buka perusahaan, pabrik, toko, resto, membuka lapangan kerja, menghidupi orang-orang: karyawannya, supplier-nya, keluarga karyawan dan keluarga supplier-nya. Jangan dilupakan para tikus, koruptor, mereka hidupnya dari mana tuh - termasuk 'subsidi' juga?

Juga, jangan dilupakan: orang kaya banyak duit, bisa beli rumah, beli mobil, beli baju, beli tas, beli makanan, belanja, di toko-toko atau perusahaan yang menghidupi rakyat banyak juga toh? Mungkin saja anda bekerja di satu toko di mal, yang pelanggannya itu - errr, orang kaya 'kan?

Entahlah, sebenernya siapa sih yang disubsidi ya?

April 25, 2012

Entahlah - (3): Free Man - Turun-Temurun Ya?

Free Man, persisnya sih dari basa Belanda vrijman, itu katanya asal-muasal nomenklatur 'preman'. Manusia bebas, merdeka. Jadi maunya berbuat apa ajah, sesuka hatinya, tidak sesuai norma yang sudah berlaku sebelumnya.

Lantas entah mengapa, preman mengandungi konotasi 'miring', gak baik.

Entahlah, tiba-tiba saja saya ingat masa-masa SMP.

Seperti pernah saya ceritakan di sini, saya gak punya ijasah SD - Sekolah Dasar, maupun SR - Sekolah rakyat, gara-gara sekolah saya ditutup sebelum saya ujian kelas 6. Tapi, saya bisa masuk SMP dengan masa percobaan, kalau bisa mengikuti dalam 1 kwartal, saya boleh lanjut, jeh!

Kelas IPA - Ilmu Pengetahuan Alam, kami dapat tugas kelas yang mesti berkelompok. Rumah orangtua saya yang belum lama dibeli di kawasan Sukalila Selatan, Cerebon, masuk gang, pas kosong. Saya tawarkan untuk mengerjakan tugas di sana.

Kerana tidak tinggal di rumah tsb., saya tidak tahu kalau di gang tsb., ternyata adalah 'markas' preman yang menamakan diri sebagai 'Flower Generation' - ada graffiti di tembok rumah di mulut gang, berrupa anak muda berrambut panjang (bukan sekedar gondrong) dan penuh dengan
bunga-bunga.

Flower generation? You know-lah, itu yang punya lagu 'kebangsaan'nya San Francisco tahun 1970-an itu lho, dengan logo seperti ini:

Jadi, kami pun asyik mengerjakan tugas, kalau gak salah mengenai pertumbuhan kecambah.

Selesai mengerjakannya, teman-teman yang membawa sepeda, ada sekitar 5 orang, baru ajah mau menggowes sepedanya, ternyata mendapati semua ban sepeda sudah kempes - pentil-nya dibuang entah ke mana.

Ternyata itu ulah preman di gang tsb., yang mungkin merasa daerah 'kekuasaan'nya sudah kami langgar.

Saya sudah lupa ama kejadian tsb. Lalu saya lulus SMP, lulus SMA dan kuliah. Pernah pas pulang dapat berita bahwa kepala preman yang dulu jahil kepada teman-teman saya sudah game over. Tapi, nah ini dia: adiknya yang waktu kami dijahili dulu itu masih SD, lantas menggantikan 'jabatan' abangnya itu.

Rupanya, virus vrijman itu menurun ya?




PS: Gambar Hippie di'pinjam' dari MS Office Clip Art media file.

March 17, 2012

Entahlah (2) - Iklan is A Media to Harass Others, Tah?

Kalau menurut definisinya di sini adalah:

ha�rass (h-rs, hrs)
tr.v. ha�rassed, ha�rass�ing, ha�rass�es
1. To irritate or torment persistently.
2. To wear out; exhaust.
3. To impede and exhaust (an enemy) by repeated attacks or raids.

Ada tiga arti pokok dalam basa Inggris tsb., ketiga-nya mengandungi makna yang negatip, basa Indonesianya: melecehkan.

Beriklan, sepanjang yang saya pernah diajarkan dulu waktu magang di biro iklan, juga dari buku-buku terbitan lama dari pakar periklanan bekas koki David Ogilvy - sang (bapak) guru periklanan, mestinya adalah berkomunikasi dengan prospek pelanggan, dengan cara simpatik, tanpa diskriminasi, tanpa melecehkan.

Prospek konsumen aka pelanggan adalah semua orang, sesiapa saja, walau pun ada batasan yang dinamakan target audience. Pembatasan mana tidak menutup kenyataan bahwa semua orang mestinya adalah prospek konsumen anda toh?

Tapi, tengoklah iklan deodoran yang mempopulerkan istilah 'burket' - bubur ketek. Menggambarkan bahwa orang yang bermasalah dengan aroma tubuhnya, merupakan suatu aib luar biasa - mesti dijauhi, dipinggirkan.

Apakah itu suatu bentuk iklan yang ber-aura positip? Mengajak orang untuk coba melihat suatu produk untuk mengatasi problemnya? Benar. Itu suatu alternatip. Sah-sah sajah, anda yang punya posisi untuk memutuskan, juga uang untuk membayar iklannya.

Rasanya masih ada cara lain yang tidak melecehkan 'kaum' yang bermasalah dengan aroma 'asli' tubuhnya toh?

Entahlah, mungkin anda setuju dengan saya?




PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

February 12, 2012

Food Review - Too Much of A Good Thing?

Saya suka makan, makan enak terutama. Dan, saya suka cerita, cerita makanan enak tentu. Tapi, kalau disebut sebagai food reviewer, kayaknya sih saya bukan tuh.

Saya cuma suka makan yang enak, makannya saja, kalau enak ya saya cerita. Karena katanya kalau perut kenyang, hati pun senang. Kalau tidak enak ya saya diam saja. Ngapain?

Jadi, kerana saya suka cerita makanan enak, saya pernah diundang oleh seseorang yang katanya mau buka resto soto di kawasan Bintaro - gak usah disebut lokasi persisnya ya. Undangan berupa e-mail, masuk jauh-jauh hari.

Saya diminta icip-icip saja, lalu kasih komentar, katanya.

Oleh karena saya bukan food reviewer profesional, yang diundang, dan dibayar(?), lalu diminta cerita, tentu saja saya ndak datang. Salah alamat tu undangannya. Jadi saya bilang saya tidak bisa hadir.

Belakangan, dari satu TM di milis sebelah, saya baru tahu ternyata acaranya bukan sekedar icip-icip saja, tapi merupakan FGD - Focus Group Discuccion. Suatu kegiatan yang biasanya diselenggarakan oleh biro riset dan studi, dalam upaya menemukan sesuatu yang layak jual - kegiatan marketing. Mereka dikumpulkan, dipilih dari kelompok SES - Socio Economic Status sesuai target market yang hendak dicapai oleh produk tsb.


February 06, 2012

:: ASAL-MUASAL LONTONG CAPGOMEH ::



Nah, sambil menunggu versi cerita dari para pakar pelestari budaya, ini ada versi cerita ttg asal-muasal Lontong Capgomeh dari nara sumber yang ogah disebut namanya, dan kebenarannya terserah penilaian masing-masing ajah dah yah...

Alkisah, di suatu desa kecil di tepi sungai Cisanggarung, ada seorang Tenglang tuan tanah yang biasa open house kalau pas Imlekan. Namanya juga tuan tanah, tentu saja open house itu ya gak cuma pentang pintu rumahnya lebar-olebar, tentu saja sedia aneka tiam-phan (manisan) rupa-rupi, buah-buahan, dan aneka rupa-rupi masakan dari babai. Pokok-na mah, anything but babai, jeh!

Maklumlah si tuan tanah masih bersodara ama seorang peternak babai di desa tetangga, jadi tentu saja si sohib sudah sediaken delapan ekor babai (ingat angka hokkie: 8) yang sengaja selama setahun gak disuruh ngapa-ngapain cuma buat macekin para betina dan makan-tidur-goleran sajah - supaya gemuk dan berlapis-lapis samcwan-nya tebel-mebel, menunggu Imlek untuk disembelih bareng-bareng dijadikan aneka masakan buat menjamu para leluhur waktu sembahyang maleman ce-iet, sekalian pun menjamu tetamu open house sang tuan tanah yang baik hati, tidak sombong dan bijak bestari ini.

Tentu saja ada ayam opor - pengaruh kearifan budaya lokal tempatan sebagai suatu bentuk akulturasi, ayam goreng mentega, burung dara goreng, ikan bandeng dipindang, sampan (gurameh) masak cengcuan, dan semuanyah - sesuai alam hidup para hewan ini: darat, air, dan udara. Sesuai dengan motto Tenglang: apapun yang berkaki empat, kecuali meja, dan apa pun yang terbang, kecuali pesawat -kudu dimakan. Ja-im dikitlah juga, masak tuan tanah gak royal sedia makanan, pan cuma setahun sekali ajah - sekalian bagi-bagi rejeki kepada para tetangganya yang jadi peternak hayam, burung, petambak ikan, yang mungkin masih hidup di bawah garis kemiskinan toh?

Ada babai hong (khew-nyuk), chasio merah-putih, atau pun babai kecap masak pete sebagai cara ikut sumbangsih dalam proses akulturasi budaya, sambil pula membantu masyarakat sekitar petani gurem yang menanam peuteuy, euy!

Hari ke-7 mereka sembahyang, gak lupa pake sesayuran 7 rupa sesuai petunjuk primbon dari kakek-moyang ttg hal itu, kerana deket sungai, salad 7 rupa sayur dari hasil kebun-nya sendiri si tuan tanah ditambahi ikan, diseseti tipis-tipis, jadi kayak fish fillet. Belum juga nyonyah-nya keburu masak, tetamu dah pada dateng, ya sudah disajikan ajah mentah-mentah, pake saus jeruk nipis yang banyak tumbuh di kebun belakang, ditambah gula dan dimasak - jadi kayak saus lemon cui ala Ponti gitu-lah. Lalu diaduk-aduk ajah bareng-bareng, biar seru, ya sambil diabur-aburken ke atas sambil teriak-teriak saking gembiranya masih bisa pada kumpul makan bareng arme-rame toh?

Nah, dua pekan (dulu sih sepekan cuma 5 hari, tapi belakangan koq jadi 7 hari, akhir pekan = sabtu dan Minggu, tambahan 2 hari buat bonus?) aka 14 hari makan-minum di rumah tuan tanah, masakannya serba berbabai, tentu saja orang jadi pada bosyen-mosyen atuh ya?

Pas pada hari ke-15, ce-it cap-go, mesti sembahyang.

Tetamu handai tolan, kerabat relasi pada dateng. Nyonyah lupa belum masak, sementara masakan berbabai left over sudah pada habis, cuma sisa opor ayam, dan tetamu pun pada bosyen makan babai-babaian terus. Kebetulan ada tukang lontong sayur lewat, ya dipanggil ajah buat ngeganjel perut kosong, lengkap sudah lontong + lodeh labu dan telur. Kebetulan di dapur asisten rumah tangga masak sambel goreng udang pake pete, ya sudah disajikan bareng, dicampur ama tuh lontong sayur yang sudah pake opor.

Eh, iseng si nyonyah tuan tanah lihat ada bubuk kedele di toples, entah sisa bikin kuwih apa lupa lagi, biar tambah gurih, ya ditaroklah tu bubuk dele, sebagai topping dan finishing touch.

Waktu ditanya ama tetamunya, yang pada kenikmatan makan tu menu saking dah pada kelaparan lama nunggunya, apa nama menu itu - dengan spontan ajah si nyonyah tuan tanah bilang: Lontong Capgomeh - yang keingatan sesuai kalender harian berangka 'cap go' (15) sih tuh.

Sejak saat itulah mereka yang pada ikut makan di situ, meneruskan tradisi makan Lontong Capgomeh pada ce-it cap-go kepada anak-cucu-mantu-cicit-buyutnya yang kemudian tersebar ke seluruh P. Jawa, jeh!


***PS: Kalau gak percaya dan anggap cerita ini salah, sila disanggah dan ceritakan versinya sendiri ya - bebas ajah-lah...***

January 27, 2012

Bea Siswa (1) - Kalau Gak Niat Berangkat, Gak Usah Ikut Test, Dwong!

Tidak terasa, tahun ini adalah tahun ke-10 anak saya, Dede, tinggal di Singapura. Sudah mendapat PR - Permanen Resident. Ada beberapa keuntungan menjadi PR di sana, tapi juga ada kewajiban tertentu, tentunya. Sebagian orang bilang 'rugi', tapi sebagian bilang is good - terserah dari sudut mana anda memandangnya ajah ya.

PR ini memang nggak sulit untuk mendapatkannya. Katanya sih kalau anda mau, kapan saja bisa, asal anda deposit sejumlah uang sebagai bentuk niat baik anda untuk investasi di sana. Kalau tidak, ya ada prosedur khusus yang kayaknya sih gak mudah-mudah banget, jeh!

Awal-mulanya si Dede bisa bersekolah di Singapura, sebenernya sih atas usaha dan ikhtiar sendiri. Kami, saya dan nyonyah, boleh dibilang tidak banyak peran untuk itu.

Waktu itu, sekitar Juli 2002, Dede baru saja mulai masuk kelas 3 SMP BHK - Bunda Hati Kudus, Jelambar, Jakarta barat. Sejak TK dia sudah di BHK. Guru wali kelasnya suatu kali menawarkan kepada murid-murid yang termasuk ranking 3 besar untuk ikut test beasiswa dari MOE - Ministry of Education Singapore.

Akhirnya ada 10 murid BHK yang didaftarkan. Mereka diajak belajar bersama atas bimbingan guru tsb.

Waktu test, ternyata banyak juga yang ikut dari beberapa sekolah di seluruh Jakarta. Ada satu sekolah dari Jakarta Timur yang gak tanggung-tanggung: mengirim 50 orang murid yang mestinya sudah hasil saringan di sekolahnya.

Materi yang di-test adalah matematika dan basa Inggris. Dari 10 orang dari BHK, lulus test 4 orang, kalau gak salah. tapi, dari 50 orang anak yang dari sekolah lain itu, tidak ada satu pun yang lolos.

Akhirnya, setelah wawancara dengan ketua panitia dari Singapura, cuma si Dede yang berhasil lolos dan mendapat 'tiket' sekolah di Singapura dari 3 orang tsb. Yang lain ada dari Santa Ursula dan lainnya, total sekitar 15 orang anak yang diterima untuk kloter tsb.


December 27, 2011

Hidup Senang di Asrama - Pelonco ala Tentara?

Katanya, pelonco di asrama mahasiswa, tak kalah seru-nya dengan pelonco di barak tentara. bagaimana serunya di barak tentara? ya entahlah - saya gak pernah jadi tentara sih, jweh!

Jadi, saya diterima mondok di asrama mahasiswa yang cukup tua katanya sih, berdiri sejak 1955. Dari sekian puluh pelamar, cuma sekitar 20 'cah anyar' yang diterima. Malam sebelum penentuan siapa yang diterima, kami diberi kesempatan menginap. Sesama kami saling berharap yang lain gak diterima, tentu saja - namanya juga persaingan gitu lho.


February 15, 2011

Nomenklatur - Kuwih Mangkuk aka Cup Cakes.

Nomenklatur kuwih mangkuk, seperti umumnya nomenklatur - sistem penamaan kuwih-muwih atau pun sayur mayur oleh para 'pencipta'nya jaman dahulu kala, mestilah sederhana saja. Bentuknya bulat dibuat dari bahan daging, ya namanya bakwan - bak = daging, wan = bola, bulatan, aka meat ball kalau cara udiknya sih ya.

Jadi, karena dicitaknya memakai mangkuk, ya sebut ajah kuwih mangkuk. Beres toh?

Tapi, nanti dulu, kalau anda lihat dedegan aka penampakan kuwih mangkuk,
mestilah ukurannya kecil-kecil, padahal yang namanya mangkuk, mestilah lebih besar, walau gak besar-besar amat macam mangkuk saji atau mangkuk mie ayam or bakso yang bercap ayam jago itu, setidaknya tidaklah sekecil kuwih mangkuk gitulah, jeh!

Dalam basa 'udik'nya, kuwih mangkuk itu ya sama ajah, mereka mencitaknya pake cup instaed of bowl (kegedean kalau pake bowl toh?), maka mereka membuat nomenklaturnya sebagai 'cup cakes'.

Nah, kuwih mangkuk kita, dengan ukuran yang sekecil itu (dibanding dengan
mangkuk) mestinya disebut sebagai kuwih cawan (ingat chawan munshi?), sebab cha-wan itu tak lain adalah 'mangkuk' (wan) atawa cangkir teh (cha) ala fine china (bukan orang Tionghoa yang baik, tapi china = porselen), sebab memang asal mulanya mereka memakai cha-wan (ada berbagai ukuran, biasa untuk minum teh atau arak beras ketan) ini sebagai citakan kuwih mangkuk itu.

So, now you know already about the nomenclature for the Chinese cup cakes, maukah anda mengganti nama kuwih mangkuk itu dengan 'kuwih cawan' tah?

Hehehe.... tapi, gak usah radikal begitu sak-kal kontan ganti namanya, sebab di desa Cukanggalih, Tangerang yang nampaknya peradaban berhenti berputar, mereka masih memegang teguh adat-istiadat lama, ternyata ada yang masih membuat kuwih mangkuk, dengan citakan secara harafiah dari mangkuk nasi yang mayan besar itu. Sebagai tradisi sesembahan menghormati leluhurnya di awal musim semi yang baru - Tahun Baru Imlek kemaren.

Anda mau coba kuwih mangkuk-nya tah?



February 14, 2011

Sambel Delan Aneka Guna, Euy!

Kemaren dulu rada banget, saya nemu buku resep Aneka Sambel Nusantara, isinya ya tentu sajah aneka resep untuk membikin sambel dari berbagai daerah di Nusantara, walau tentu tidak mewakili semuanya, tapi lumayanlah.

Ada sambel rujak, sambel bajak, sambel terasi......

SAMBEL DELAN

Saya jadi inga sambel delan buatan alm. nenek saya. Nenek saya orang udik, asli daerah Luragung, Kuningan, Jabar, deket kali Cisanggarung(?), buta huruf, namun bisa membedakan nilai nominal uang, tidak peduli seri uang berganti-ganti.

Delan itu bahasa Sunda di kawasan Kuningan situ (agak berbeda dengan Sunda sekitar Parahiangan-Bandung). juga Banten(?) dan Lampung(?) yang artinya adalah tak lain.... terasi!

Nenek saya kalau bikin sambel delan lebih suka dadak nguleg. Pake cobek yang agak besar, ulegan juga besar, dan begitu jadi, langsung ajah sroooggg.... diletakkan di atas meja makan, pas di tengah-tengah meja bunder sebagai 'center piece' hidangan maksibar kami sekeluarga tiga generasi.

Bahannya sederhana ajah: cabe merah, cabe rawit, gula Jawa, garem, dan... delan, tentu!

Hasil ulegan sambel buatan nenek saya agak kasar, jaman itu belum ada blender toh! Juga tidak digoreng seperti sambel untuk ayam goreng Kalasan itu. Walau kadang nenek suka menambahkan sedikit minyak lentik jelantah, bekas goreng ikan asin ke dalam ramuan sambel delan-nya.

SAMBEL COCOLAN

Sambelnya sih mestinya sih biasa ajah, tapi yang unik itu adalah makanan yang dicocolkannya itu, jeh!

Kalau pas makan dengan nasi, paling juga lalapan kulub (rebusan/kukusan) aneka sayur seperti kacang panjang, kol, bonteng aka timun, kangkung, dan...... peteuy, uey!

Tapi dua alm. kakek saya abang-adek (engkong dan twa-pek-kong) suka iseng pas tea-time sore hari, roti sumbu (singkong rebus) sukaan dicocolkeun ka sambel sisa makan siang yang gak habis hendak dibuang sayang.

Dan tentu saja si incu-na (cucu) yang deket ama mereka (= saya) pun sukalah ikut-ikutan kerana dikasih teladan ama generasi tua aka lo-cianpwee, nyocol singkong rebus berikut kulitnya itu dengan sambel, dan.... eh, ternyata memang enak juga, jeh!

SAMBEL ANTISEPTIK

Kakek saya tukang kayu otodidak, jadi halaman rumahnya dibikin jadi bengkel tukang kayu, membuat aneka perabotan rumah.

Kalau pas libur, saya suka ikut-ikutan bantu kakek untuk sekedar menggergaji atau mengebor papan. Ceritanya mau alih teknologi, meneruskan tradisi menjadi tukang kayu seperti nenek moyang kami sejak djeman dahoeloe kala pisyan.

Suatu kali, bor kayu yang model rebab itu terpeleset, sementara kaki saya 'memegang' papan yang mau dibor, maka nancaplah dengan enteng dan tak berkedip sebelah mata pun itu si mata bor di kaki saya deket jempol.

Sakitnya bukan alang kepalang sudah barang tamtu.... nenek di dapur mendengar jeritan saya, pas beliau baru selesai nguleg sambel delan-nya. Maka buru-buru nenek keluar, sambil masih bawa ulegan penuh belepotan sambel.....

Melihat saya kesakitan, nenek mengomeli kakek sebab tidak hati-hati mengawasi incu kesayangannya yang main bor. Tanpa pikir panjang, luka saya diborehinya dengan...... sambel delan!

Wadaoooo...daooo....daoooo...... (echo mode on), perihnya tentu saja tak terperihkan rasane, bo! Tapi, ajaibnya, luka itu tidak lama langsung sembuh, jeh!

Eh, ternyata capsaicin dalam capsicum yang terkandung dalam cabe memang bersifat antiseptik tuh, euy!

CIKAL BAKAL PENYET

Kakek saya juga gemar memancing, kalau pas hari Minggu saya suka diajak ke pelabuhan Cirebon, mancing di sana. Yang suka didapat paling juga ikan sembilang (masih berkerabat bersodara ama lele, tapi entah mengapa sukanya hidup di laut). Hasil tangkapan ikan sembilang ini, lantas digaremi dan diladai, digoreng oleh nenek, dan diuleg sekalian ajah, biar praktis, di..... cobek berisi sambel delan.

Mungkin inilah cikal bakal dari pecel (pecak) lele ya? Siapa tahu toh? Jaman itu toh belum ada peternakan besar-besaran mengembang-biakkan lele-lele dumbo ning kontet, jeh!

Ditaruh di tengah meja, nasinya nasi dari beras merah, masih mengepul uapnya, sayurnya sambel godhog + rebung, ikannya dicubit rame-rame, lalapnya peteuy beuleum dibubui, wah, sungguh syoor nian, bo!

IMPROVISASI

Kemaren itu, pas di kulkas ada tersisa beberapa keping roti tawar, sore-sore sehabis turun hujan gede saya merasa agak lapar. Saya bakar ajah tu roti pake oven toaster. Eh, tapi koq ndak ada temennya, jam sudah habis, keju belum beli..

Yang ada juga cuma sepiring kecil sambel terasi di meja. Saya jadi iseng menyobek secuil roti, dicocolkan ke sambel, dan dimakanlah....Eh, ternyata enak juga tuh!

Gak percaya? Coba ajah dah! :D)










PS-1: Copy paste dari posting saya di milis sebelah, Sabtu, 9 Juni 2007, pukul 22:18 WIB.

PS-2: Foto adalah sambel 'ganja' dari RMA - Rumah Makan Aceh "Selera Kita", Jl. Ir. H.Juanda 1, Statsiun KA Juanda, Jakarta Pusat.

February 06, 2011

Buryam + Sop = Khas Cerebonan, Jeh!

Bubur ayam, walau dengan sedikit nasi, tapi teuteup berayam, walau sekedar basa-basi dan disuwiri doang. Ayam utuh seekor, setelah direbus dan diambil airnya untuk campuran bubur, entah bisa untuk ditarok berapa porsi bubur dalam mangkuk tuh ya?

Entah mengapa, kayaknya banyak saudagar bubur ayam di kawasan BSD memakai trade mark-nya Cirebon, seperti halnya ketoprak dan es buah yang selalu menjamur di masa puasa, mereka pada buka menjelang buka. Maksud mereka, apakah itu makanan-nya yang khas Cirebon, atau cuma sekedar merujuk bahwa peraciknya berasal dari Cirebon. Saya duga yang kedua. Sebab bubur ayam(?), ketorak dan es buah, bukanlah makanan khas Cirebon tuh, jeh!

Khas Cerebon, benernya di selera yang serba 'tapran' - low class te-a, non daging: tahu tek-tek (ketoprak), sega lengko, rujak (lotek, gado-gado Jakarta) , tahu gejrot, tahu kupat, docang. Supaya bisa terjangkau harganya oleh rahayat semesta.

Jadi bubur ayam masih mendingan, pake ayam walau sesuwir-dua saja sekalipun.

Nah, di Cirebon ada lagi makanan yang unik khas Cirebon yang cukup 'high' end punya: bursop, aka bubur sop ayam. Jadi, buburnya disiram kuah sop - bumbu-rempah-nya kumplit persis plek ama sop: ada cengkih dan biji kepala, eh, pala, pake keratan bortel, tomat, kentang, walau sekedar basa-basi, dan juga... suwiran ayam. Topping-nya tentu saja brambang goreng, boleh tambahkan sambel sesuka dan tingkat acceptability atas SHU - Scoville Heat Unit masih-masing ajah atuh, euy!

Jaman dulu belum terkontaminasi MSG (message atau massage?) aka mono sodium glutamati, terpaksa mereka kudu pakai ayam buat kaldu penggurihnya. Nah, daripada ayam bekas direbus itu dagingnya dibuang sayang, ya mangga disuwir-suwir dan dibagikan kepada para pendoyannya ajah.

Kali lain anda ke Cirebon, sila cari Bursop Ayam, sebab anda tak akan menemukan makanan model begitu di tempat lain. Semangkuk bursop panas dinikmati saat-saat udara dingin-dingin barusan diguyur hujan deres, wah...... nikmatnya, oooiiii!

Ojo lali, ulah poho, jangan lupa ya!

February 04, 2011

Desktop vs Laptop.

Pertama kali punya perangkat kompi, sekitar tahun 1990-an, masih pake sistem Dos. Monitornya juga masih monochrome. Dirakit oleh seorang supplier yang memasok kompi di kantor, harganya sekitar Rp 10 juta, diangsur 10 kali cukup membantu.

Kemudian, sekitar tahun 1987-an, sebelum hura-hura nasional itu, kompi sudah beralih ke sistem Windows. Prosesornya sudah Pentium. Lupa lagi Pentium berapa, kayaknya sih P-4, harganya sama Rp 10 juta per unit. Pas waktu itu usaha mayan lancar, jadi outsource beberapa bank, ada budget buat beli kompi bagi kedua anak kami masing-masing 1 unit, monitornya sudah berwarna.

Dan, sekitar tahun Pas Dede masuk NJC - National Junior College di Sin, sudah mesti punya laptop. Pas keadaan cukup prihatin, pasca hura-hura, banyak perusahaan mesti menghemat budget, jadi pekerjaan pun berkurang banyak.

Dede mesti beli laptop, sementara budget belum tersedia. Jadi dia tanya, apakah kompinya yang dibeli semasa SMP bisa dijual atau tukar tambah dengan laptop. Di sekolahnya ada program beli laptop HP murah, subsidi dari sekolahnya.

Saya cuma tersenyum kecut, sebab desktop yang dibeli sebelum 1998 itu, sudah tidak ada lagi harganya. Sudah ketinggalan jaman. Saya minta dia bersabar sebentar, menunggu ada lagi pekerjaan yang datang kepada saya. Mungkin terpaksa tidak bisa mengikuti program subsidi beli laptop HP di sekolahnya.

Benar saja, sekitar 2 atau 3 bulan sesudah tenggat waktu di sekolahnya, saya mendapat sedikit rejeki agak berlebih, bisa beli laptop di Jakarta, dari seorang pemasok lain yang selama ini saya berlangganan, harganya sekitar Rp 10 juta juga. Diangsur 3 kali.

Menu Wajib Samseng dan Tiga Menu 'Wajib' Sembahyangan ala Benteng.

Kemaren-nya (Rabu) saya diberkahi kesempatan, diajak Bung Andipo dan seorang anak muda fotografer NGI, maen-maen bertandang ke kampung Cukanggalih, ke rumah keluarga Oen dan satu lagi (lupa) dari sisa-sisa warga Cinbeng - Cina Benteng yang masih bertahan di sana. Sudah banyak warga yang tergusur karena lahannya dipakai untuk real estate.

Di kampung Pondok Jagung, Rawa Kutuk masih tersisa beberapa keluarga juga sih. Kemaren itu kerana kesorean cuma sebentar saja mampir di keluarga Loa di Pondok Jagung. Dan, pas Imlek-nya siang saya dibagi dodol keranjang oleh seorang kerabat nyonyah yang boleh beli di satu keluarga Cinbeng di Rawa Kutuk - tetangga Alam Sutera, masih memakai daun pisang sebagai pembungkusnya.

Kemaren dalam menyambut Imlek mereka bersembahyang menyajikan masakan bagi arwah leluhur dan yang mendahului mereka.

Menu wajib untuk sembahyang ini adalah: sam-seng, tiga hewan domestik yang mewakili darat, laut dan udara. Darat diwakili oleh babai, sekerat daging bagian samcian, aka samcan, seekor ayam bekakak utuh berikut darah marusnya yang ditarok di atas punggungnya, dan seekor ikan bandeng. Ketiganya cuma dikukus atau ditim, dengan sedikit garem sahaja.

Kabarnya, di kalangan yang mampu, suka ada yang memakai babai utuh seekor ditim polos begitu sebagai wakil 'angkatan' darat, hanya saja diperlukan meja altar yang lebih besar lagi. Apalagi kalau mereka mau memakai bekakak kalkun atau burung unta sebagai wakil 'pasukan' udaranya, dan untuk angkatan laut-nya memakai ikan lele super jumbo-dumbo raksasa dari sungai Mekkong.


Kata samseng, menurut Babah William Gwee dari Singapore, berasal dari kata sam = tiga, seng = hewan (xing). 2006 William Gwee Thian Hock A Baba Malay Dictionary 173 sam-seng [...] Baba-prayer sacrificial offering of a blanched pork, a whole duck and chicken].

Entah mengapa, kata 'samseng' koq lantas menjadi kata lain untuk 'preman' aka 'ganster', khususnya di Malaysia. Yang lantas disetarakan dengan Mafia Mob di Italia dan AS, dan Yakuza di Jepang.




Selain tiga menu wajib samseng tsb., mereka mempersembahkan juga nasi dan lauk-pauk kegemaran mereka yang sudah mendahului berangkat ke 'daerah timur'(?) akherat sono. Jumlah mangkuk atau piring nasi disesuaikan dengan jumlah keluarga yang sudah mendahuli itu. Juga, sirih pinang lengkap bako + kapurnya (buat ema, makco) dan rokok kelobot dan kawung (buat engkong, kongco) disajikan, juga arak beras putih dalam botol.

Lauk-pauknya apa saja?

Sebagaimana lauk-pauk yang biasa dimakan sehari-hari: ada bakmi goreng, bakso sup dengan sayuran, ayam goreng, lodeh santen kental (dengan terubuk tebu), babai-cin (masak kecap), ayam masak kecap, pindang bandeng, dan lain-lain.

Dari 3 keluarga yang kami datangi, ketiganya sama-sama menyajikan pula tiga menu 'wajib' yang nampaknya ala Cinbeng punya: pare isi (daging cincang ala bakso, mirip siomai), bakciang (keratan kentang + daging + pete masak kecap) dan.... ayam kelowak.

Ayam kelowak atau keluwak, itu memakai bahan rempah yang sama: biji kelowak aka keluwek sebagai bahan rempah utama, seperti yang dipakai untuk masak Rawon (Jatim) dan Gayus, eh Gabus Pucung (Betawi). Sama, berkuah juga, dengan penampakan keruh soklat-tua-kekuningan, hanya saja tidak begitu berminyak seperti pada rawon daging sapi itu, jeh!

Di Singapura, menu ayam keluwak ini sudah dianggap sebagai makanan khas otentik asli Peranakan Singapura - belum lama ini ada satu episode dalam program TV di TLC - Travel & Living Channel yang menampilkan Bobby Chin sang PA-nya ketika dijamu seorang nonyah Singapore masak ayam keluwak, beli biji keluwak-nya di pasar. Mereka gak tahu ajah bahwa sisa-sisa Cinbeng di Cukanggalih sudah sejak berratus tahun lalu memasaknya sebagai menu 'wajib' untuk persembahan Imlekan, dan mereka gak pernah klaim bahwa itu menu otentik khas Cinbeng, jeh!

Juga buah-buahan seperti pisang, rambutan (sesuai musim), jeruk Bali, apel, pear, dan tidak lupa... dodol keranjang yang ditumpuk dari ukuran garis tengah besar sekitar 25 cm, makin mengecil, mengerucut, yang diberi hiasan, ada yang dari kertas warna crepe merah muda, atau dari mote-mote berwarna merah-tua dan merah-muda yang dibuat khusus untuk keperluan itu, membungkus dodol keranjang satu demi satu, setelah disusun akan membentuk piramid bundar dengan puncak berronce, sekilas mirip pohon Natal mini.

Di samping dodol keranjang, juga dodol Tangerang (Ny. Lauw gak mau produk dodolnya disebut dodol Betawi), kuwih muwih yang wajib tentu saja kuwih mangkuk (ada yang memang dicitak pake mangkuk nasi, besar) dan ada yang mestinya sih lebih pas disebut kue cawan aka cup cake kerana dicitak pake cawan (cangkir teh) yang berukuran besar dan kecil. Ukuran ini katanya untuk membedakan persembahan diberikan kepada siapa, tergantung tingkat 'hirarki' leluhur mereka. Gula yang mereka pakai adalah gula Jawa yang warnanya kesoklatan - sehingga warna kue mangkoknya tentu saja soklat, bukan gula pasir yang diberi sumbo (pewarna) pink itu.

Yang punya lumbung padi, menyajikan pula sesajen dalam tampah bambu dengan alas daun pisang, isinya sirih-rokok kretek dan kawung, sekerat dua dodol Tangerang, dodol keranjang dan kue mangkuk kecil, tumpengan nasi mini (ukurannya), dan lauknya kepala dan kaki ayam goreng, juga bakso + sayur-mayur. Digantung di bawah atap sudut kiri lumbung. Ketika ditanya oleh Bung Dipo, mengapa mesti digantung - apakah ada makna khusus untuk itu, jawabnya sederhana saja: lha, kalau ditarok di tanah sih, atuh ya diembat ama ayam dan anjing yang berkeliaran di kebon, euy!

Sincun kionghi, thiamhok thiamsui!


January 26, 2011

Siapa Bilang Lidah Tak Bertulang?

Nenek moyang kita pernah bikin pepatah: memang lidah tak bertulang, jadi bisa saja keseleo lidah, terucap kata yang salah atau menyangkal kata yang pernah diucapkan.

Itu cuma sekedar kiasan, tapi apa bener secara harafiah lidah tak bertulang?

Kalau yang dimaksud adalah lidah sapi, lidah babi atau lidah kambing dan hewan ruminansia besar lainnya, termasuk homo sapiens - orang, mungkin bener. Tapi, kalau lidah unggas seperti ayam, bebek dan burung, kayaknya gak bener juga.

Barusan saya lihat di acara TV kabel, saluran TLC - Travel Living Channel, program "Bizarre Foods With Andrew" si botak plontos itu. Kali ini cerita ttg makanan di pasar Kamboja.

Satunya adalah ihwal bebek.

Katanya, semua bagian bebek dimakan di Asia Tenggara, juga di Kamboja, termasuk... lidahnya. Buat mereka, bule, kata si Andrew, lidah bebek termasuk bizarre food - makanan aneh tuh, euy!

Orang Kamboja cuma memandang lidah bebek dengan sebelah mata saja, cuma pantes dikumpulin dulu agak banyak, lantas ditusukin di lidi dan digoreng garing begitu saja, seperti halnya kita memperlakukan jantung-jantung ayam buat kondimen ketika nyabu - nyarap bubur ayam gitu doang tuh, jeh!

Padahal, kalau anda ketik 'duck tongue' di google, anda akan disodorin aneka menu berbahan lidah bebek ala Chinese food. Dimasak cah, angsio (kayak kaki ayam), rebus, sup, dan lain-lain.

Konon kabarnya dulu lidah bebek merupakan makanan inggil adiluhung spesial buat para kaisar dan keluarganya di ring-1 kalangan bangsawan dan menak sahaja. Lha, bagaimana tidak? Untuk seporsi menu masakan lidah bebek, terdiri dari banyak utas lidah bebek, berapa ekor bebek diperlukan tuh ya?

Saya pernah diajak makan oleh bekas teman saya, semasa TK dan SD di THHK Cirebon. Pas seusai acara reuni ex THHK tsb. sekitar tahun 2005-an. Makannya di resto Ah Yat(?) yang ada di Mangga Dua Square. Itu termasuk satu resto fancy high end punya juga. Dan, satu menunya, menu umpan tekak aka appetizer or starter, adalah steamed duck tongue.

Namanya juga resto fancy, menu lidah kukus itu disajikan dengan gaya yang elite punya: pakai piring saji besar, sang lidah, satu demi satu dijejer agak ke tepian piring saji, melingkari piring, dengan selang-seling kondimen berupa sayur, sayur apa entah sudah lupa lagi.

Cara makannya tentu saja mesti dijumput pakai sumpit, lalu masukkan ke dalam mulut, dikecap-kecap dulu rasanya yang gurih, baru nikmati teksturnya dengan dikunyah-kunyah, dan tarik balik 'tulang'nya dari mulut dengan sumpit, lalu sisihkan di piring kecil yang ada di depan anda.

Dan, ternyata lidah bebek teksturnya ya mirip lidah sapi atau lidah babai, if you know what I mean, kenyal-kenyal dan agak-agak kesat, ning... nih dia: ternyata ada semacam tulang (atau memang tulang)?) yang menjadi dasar pada bagian bawah si lidah bebek itu.

So, siapa bilang lidah (bebek) tak bertulang ya?

PS: Gambar diambil dari sini. Untuk gambar-gambar lain, bisa klik di sini.

January 24, 2011

Krimer vs Krimer.

Menyitir film berjudul Kamer vs Kamer, eh, Kramer vs Kramer, Krimer vs Santen benernya sih gak jauh-jauh amat, mereka masing bersodare - kate orang Betawi sih, jeh!

Krimer aka non dairy creamer itu kalau baca komposisinya ya pake bahan vegetable oils. Dan, umumnya ya diambil dari coconut aka kelapa - termasuk tetumbuhan aka nabati juga sih. Sebagai ganti 'krim' yang ada pada susu, untuk mendapatkan rasa gurihnya.

Harganya lebih murah, disamping juga demi untuk melayani kebutuhan mereka yang alergi ama susu dan produk lanjutannya. Kebanyakan SKM - Susu Kental Manis itu
benernya ya non dairy creamer tuh. Makanya harganya relatip lebih murah.

Untuk penggurih di industri kuwih-muwih kering, biskuit, mereka banyak juga memakai krimer bubuk ini sebagai ganti susu, biasalah - themanya masih demi menekan COGS. Banyak krimer memang dibuat dengan cara spray dry dari santan,
dari bentuk cair menjadi bubuk.

Kalau anda kebetulan kehabisan santan atau kelupaan beli, padahal sudah malam, dan anda mesti buru-buru bikin nasi uduk untuk sarapan pagi-pagi banget, bisa coba anda pakai saja krimer bubuk atau cair yang tanpa pemanis atau gula. Lidah anda tak akan bisa membedakan mana yang nasi uduk pakai santan, mana yang pake krimer.

Nasi yang ditanak pakai rice cooker, ditaburi barang sesendok dua krimer dan diaduk rata, akan memberi efek wangi dan gurih - menambah nafsu makan sekeluarga. Percayalah dan cobalah sajah...

Lha, krimer yang sama dipakai untuk penggurih kupi, soklat dan teh, maka untuk bajigur pun sama saja bisa pake krimer. Kabarnya mereka di sono yang gak produksi santen, kalau mau masak nasi uduk atau menu lain yang mesti bersanten,
bisa substitusi dengan susu tawar tuh, euy!

Cobalah sesekali bikin 'bajigur' dari air kupi + gula Jawa + krimer + jahe dikeprek dan dibakar sebentar - atau jahe bubuk, dikit ajah. Jadi deh home made bazigoer yang hangat dan sedep punya tuh! Gak kuatir di'jorok'in oleh kontaminan
ember item geteng ex daur ulang, atau ditutupi kantong kresek item daur ulang juga.

January 23, 2011

A Dash or Two of Kicap Maggi Full of Sweet Memory - Nostalgia Si Dede.

Kicap Maggi benernya sih bukan kicap sebagaimana kicap yang anda kenal - untuk masak. Tapi ini kicap meja untuk penambah sedap masakan yang sudah jadi. benernya juga bukan kicap sih, mereka memposisikannya sebagai penyedap - seasoning. Percaya gak - mereka mulai bikin sejak tahun 1872 tuh! Rasanya asin, aromanya khas Maggi, sedap, kemasannya botol kecil saja - hanya barang sekecrot dua saja dah cukup membuat masakan anda jadi makin sedap-mantap, jeh!

Kemarennya si Dede liburan akhir tahun, dia baru tahu ada sebotol kecil mungil isi 100 cc kicap Maggi di meja makan kami. Begitu tahu, dia antusias sekali.

Pas mamah-nya masak lontong sayur dengan beberapa butir telur rebus. Jadi, selesai makan, si Dede minta satu butir telur rebus, dikupasnya kulitnya, lalu tarok di mangkuk stainless, dan disiram kicap Maggi beberapa kecrotan. Dia ambil sendok, dibelahnya telur rebus itu, lalu disiram-siramkannya kicap Maggi ke kuning telurnya, baru dia kerat dan nikmati sesendok demi sesendok sambil menonton TV....sedapnyaaa, oiiii!

Rupanya itu telur rebus bersiram kicap Maggi, merupakan extra fooding bagi si Dede ketika awal-awal bersekolah di Singapore.

Waktu itu, 2002, dia dapat beasiswa mulai dari Sec-2, di CGS -Crescent Girls School, kalau gak salah setingkat kelas 2 SMP. Padahal di Jakarta dia baru ajah naik kelas 3 SMP BHK, Jelambar, Jakarta. Turun setingkat di sana.

Waktu itu, ekonomi kami sedang merosot. Jadi tak banyak uang saku yang bisa kami berikan. Lebih banyak dia mengandalkan uang saku dari pemberi beasiswa yang pas-pasan saja, sekitar SGD 200 per bulan, SGD 2.000 per tahun.

Sekarang agak lumayan ekonomi kami, tapi si Dede dapat uang sakunya SGD 500 (SGD 5.000 per tahun) plus mulai bulan ini dapat SGD 1.200 per bulan, karena magang selama 1 semester. Mayan banget tuh ya.

Makanya waktu itu dia mesti berimprovisasi mencari cemilan sendiri. Kebetulan di kantin asramanya disediakan banyak telur rebus setiap hari, juga Milo free flow. Dan, di meja makan kantin disediakan kicap Maggi dalam botol kecil-kecil - banyak.

Jadi rupanya dia suka mencomot sebutir dua telur ayam rebus di pagi hari selesai sarapan, lalu ditarok di lunch box sebagai cadangan bekal makan siang, dan sebotol kecil kicap Maggi dari meja kantin, dan termos air diisi dengan Milo dingin kesukaannya, untuk dimakan ketika istirahat di sekolahnya.

Kalau siangnya tidak habis dimakan tuh telur, dia cadangkan untuk malam-malam kalau pas lapar. Dan selalu dikecroti pakai kicap Maggi, satu-satunya pilihan kicap yang disediakan di meja kantinnya. Mereka gak kenal kecap manis sebagaimana kita di mari tuh, jeh!

Kicap Maggi juga enak dikecrotkan di atas telur ayam ceplok, atau dadar, kecroti sesaat setelah diangkat dari penggorengan, jangan ikut digoreng karena aromanya akan menguap sirna ke udara. Apapun telurnya, memang enak dikecroti kicap Maggi barang sekecrot-dua tuh, euy!

Anda suka juga?

IT'S WORLD TIME: