November 20, 2010

Sapa (Suruh) Mau Jadi Babu?

DISCLAIMER: Walau mungkin posting saya kali ini 'berbeda', saya sih teuteup ikut prihatin kalau mendengar kabar buruk ttg nasib TKI yang merantau di tanah orang, dianiaya, dilecehkan, diperkosa, bahkan dibunuh!



Jangan esmosi dan marah dulu, kalau sudah kadung baca judul, baca juga isinya ya.

Karena sudah sering terjadi, mestinya sih, secara teori komunikasi massa ini bukan berita (menarik) lagi - hampir bisa dikatakan berita basi, saking berulang-ulang terjadi lagi, dan lagi.....

Berita di media (lagi-lagi) yang sedang menghangat adalah perlakuan buruk yang diterima TKI di manca negara, kali ini di Arab Saudi(?), setelah beberapa waktu lalu terjadi juga di Malaysia dan Singapura.

Bahkan RI-1 dan RI-2,
Jumat siang, kabarnya sampai-sampai mendadak menggelar rapat kabinet terbatas bersama para menteri koordinator membahas permasalahan TKI di Kantor RI-1 kita tercinta. Baca beritanya di sini. Yang gak terdengar berita buruknya kayaknya baru di Hongkong dan Macau - kabarnya cukup banyak juga TKI di sana tuh, jeh!

Kalau menyebut TKI, biasanya bayangan kita mestilah ke... sorry, apalagi kalau bukan......... babu!

Anda boleh protes bahwa sebutan itu kasar, karena banyak pakar ahli bahasa sudah memberi kata pengganti yang dibuat halusinasi (penghalusan) yang nampaknya cuma sebatas angan-angan halusinansi - bayangan dalam pikiran saja: pramusiwi, pembantu rumah tangga, asisten rumah tangga dan entah basa canggih apa lagi yang beredar diam-diam dan memaksakan kehendak untuk supaya harus kudu mesti diterima!

Tapi, tetap saja mereka diperlakukan sebagaimana nenek moyang mereka dulu: babu!

Karena hanyalah cuma sekedar babu, sudah kadung konotasinya bak budak belian, maka sudahlah menjadi suratan nasib mereka (boleh?) diperlakukan semena-mena oleh majikannya.

Majikannya?

Ya. Karena mereka adalah babu, maka mereka sudah diperlakukan bagai budak belian, sapi perahan sejak awal mereka hendak mendaftarkan diri. Kabarnya, mereka mesti bayar sejumlah uang yang besar, kepada para 'calo'nya untuk mendapatkan posisi 'basah' dalam arti harafiah di dapur dan tempat cuci baju. Calo yang partikelir, tanpa nama, punya jaringan mayan canggih, atau pun resmi mengantungi ijin resmi dari pemerintah.

Lihat saja perlakuan petugas yang terkait dalam hal perbabuan ini, baik babu domestik maupun babu terbang. Mulai dari cara jemput bola perantara yang mendatangi rumah-rumah di kampung dan desa nun jauh di udik sono - dengan iming-iming janji yang muluk-muluk, lalu mengirim mereka bak paket titipan kargo, menampung mereka di 'gudang' penampungan, memotong upah mereka sebagai 'ganti transpor' dan akomodasi sebelum mendapatkan majikan. Belum lagi pungutan resmi-tak-resmi di bandara, penjemput 'resmi' berdiploma, yang memotong habis-habisan upah mereka yang ditabung di luar negeri.

Nah, kalau 'saudara' setanah air saja sudah begitu teganya memperlakukan mereka sebagai babu ala budak belian dan sapi perahan, jangan heran kalau para majikannya meneladani sikap mereka toh?

Belum lagi, kebanyakan babu itu rela mandah mau jadi babu karena terpaksa, tekanan himpitan ekonomi, jadi lebih sering tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang cukup untuk menjadi babu profesional. Mana ada sih orang yang ketika kecil ditanya cita-citanya mau jadi apa - jawabnya jadi babu toh? Belum lagi bicara ttg kesiapan mental mereka untuk bekerja di tanah rantau nun di seberang lautan.

Majikan yang kesal, sudah membayar mahal untuk mendapatkan babu, membayangkan mendapat babu yang terampil, meringankan pekerjaan rumah tangga, ternyata jauh panggang dari api - tentu saja membuat mereka kecewa berat. Salah sendiri, kenapa juga mengharap ya?

Jangan mengharap semua majikan bersikap santun, mengembalikan babu salah kirim secara baik-baik dan write off biaya yang sudah dikeluarkan.
Namanya orang kecewa, tentu saja sikapnya berbeda-beda namun satu tujuan jua: membebaskan rasa dongkolnya!

Belum lagi kalau menghadapi babu yang suka berpanjang tangan, entah cuma sekedar ikut menyomot makanan atau barang berharga yang tergeletak di meja - karena memang belum disiapkan secara mentalnya. Dan, sorry, mungkin saja ada juga babu yang termakan cerita dongeng cinderella berharap 'naik ranjang' jadi menantu atau pun ratu, jadi lantas mengeluarkan jurus memikat anak sang majikan, atau bahkan majikannya sendiri?

Kita semua cuma mendapat cerita dari satu sisi, tanpa bisa mendapatkan cerita versi para majikan toh?

Kalau saja anda mau merenung sejenak, membandingkan dengan keadaan 'babu' di rumah anda masing-masing, mestilah anda akan berpikir seperti saya juga: tidak semua babu itu bak malaikat yang ideal toh?

Buat media, berita babu dianiaya, tewas, dilecehkan, diperkosa, diseterika, gantung diri, mestinya jauh lebih 'menjual' (iklan maupun medianya sendiri) daripada cerita sukses beberapa babu di Hongkong atau Macau karena mereka membekali diri dengan keterampilan yang cukup dan pendidikan yang memadai dan sikap mental yang profesional - ada banyak yang punya akun MP dan blog tuh, jeh!

Mestinya, kalau memang jadi babu di negeri orang tidak enak, ya jangan ekspor babu atuh, euy! TKI itu 'kan kepanjangannya Tenaga Kerja Indonesia, emang yang dimaksud tenaga kerja itu cuma babu doang tah?

Jadi, sapa suruh datang Jakarta, eh, mau jadi babu ya?









PS: gambar dipinjam dari MS Office ClipArt media file.

November 17, 2010

Ibu Yang Bijak vs Ibu Yang Cerdas?

Jaman orang masih milih mantu dengan syarat mesti bisa macak (dandan), masak dan njahit, mesin jahit masih engkol tangan, kemudian beralih ke tenaga kaki (ada pedal di bagian bawah yang dialasi lempengan besi untuk tarok kaki) dan motor, mesin jahit mayan populer di kalangan ibu-ibu Indonesia.

Satu produsen mesin jahit merek terkenal berjudul 'penyanyi' (basa Inggris) - agak aneh juga sih: apa hubungannya antara 'penyanyi dengan mesin jahit tuh, kalau gak salah pernah bertahun-tahun menggunakan tag line iklan-nya berbunyi: Ibu Yang Bijaksana Pasti Memilih Mesin Ini, jeh!

Lalu, karena dirasa memang bagus dan tepat sasaran sekali, tag line iklan itu banyak dijadikan teladan dan ditiru dengan versi berbeda-beda, namun satu tujuan jua: Ibu Yang Bijak Pilih Merek Ini - banyak sekali produk konsumtip yang terutama menyasar ibu-ibu memakai tag line ini, termasuk detergent top waktu itu.

Sekarang, muncul tagline baru, dengan menyasar khalayak pasar (target market) yang sama - para ibu nan bijak bestari itu, dengan sebutan yang lebih moderen dan trendy lagi: Ibu Yang Cerdik atau Ibu Yang Cerdas -
terjemahan langsung untuk 'smart', jadi 'cerdik' atau 'cerdas' - padahal dulu mah cuma sang kancil dalam dongeng doang yang cerdik cendekia ya?

Jadi, kalau anda adalah 'ibu yang cerdik', smart mother, atau orangtua cerdas - smart parents, entah memang (merasa) smart atau ingin disebut smart, maka sebaiknyalah anda mengikuti 'arahan' para produsen yang beriklan dengan memakai tagline begitu. Belilah produk merek mereka itu ya. Termasuk kampanye penggunaan, eh, pemakaian produk swasembada - ASI. Sebab katanya cuma smart mother yang mau menyusui sendiri anak-anaknya, gak mau mengandalkan pada 'tin mother' aka ibu kaleng aka sufor - susu formula. Kalau anda tidak ikutan trend ini, maka anda bukanlah ibu yang smart tuh,jeh!

Mau-kah anda disebut 'ndak smart' gitu?

Hehehe...... memang bener-bener hebat tu tag line buatan copywriter aka penulis naskah ya, sebenernyalah mereka itulah yang bener-bener smart!

Pengaruhnya begitu dominan kepada para ibu kita. Sehingga banyak juga ibu kita yang yah..... manut ajah, mandah mau dipengaruhi iklan mereka. Sampai-sampai ada juga ibu-ibu yang merasa begitu inferior, minder, kalau gak memakai produk merek tsb. dan takut dianggap 'tidak bijaksana', 'tidak cerdik', 'tidak cerdas' sesuai trend di kalangan ibu-ibu di lingkungan mereka - entah di sekolah, arisan RT/RW, kantor atau di mana saja......

Jadi, anda termasuk mana: smart mother or wise guy, eh, wise mother nih?








PS-1: Gambar dipinjam dari MS Office ClipArt media file.
PS-2: Ini bonus cerita ttg "Ibu Yang Bijaksana".

November 10, 2010

Burung Aneh.

sudah sebulan ini kalau malem ada burung 'culik-culik...' yang selalu bersuara terus sepanjang malam sampai pagi, katanya itu pertanda kurang baik.

Tadi pulang sore sekitar pukul 15:00-an, di ujung jalan masuk ke rumah, pas di sudut (hoek) itu rumah seorang tokoh senior ramai sekali, ada ambulans segala - sementara di ujung jalan besar dekat Hero kayaknya ada bendera kuning.

Tapi, koq gak ada beritanya ya di media?

November 05, 2010

Sayang Perut or Sayang Makanan?

Orangtua jaman dulu, suka bilang jangan boros dan men-sia-sia-kan makanan di piring, khususnya nasi. Juga hargai petani yang sudah bersusah payah menanam padi untuk dibuat jadi beras dan kemudian jadi nasi bagi kita. Yang pada intinta sih, kalau sudah tarok nasi + lauk-pauk di piring anda, anda mestilah menghabiskan makanan tsb., tak bersisa, walau sekedar cuma hanyalah sebutir doang nasinya, jeh!

Mungkin anda pernah dengar juga bahwa sang nasi akan menangis kalau anda tidak habiskan mereka yang sudah terlanjur anda tarok di piring - ini juga trik orangtua untuk membiasakan kita menghabiskan makanan yang sudah ada di piring kita.

Benarkah 'prinsip' orangtua kita begitu?

Ada benernya. Karena anjuran seperti itu mendidik kita untuk tidak boros, tidak membuat sesuatu sia-sia. Kalau memang tidak bisa menghabiskan sepiring munjung nasi-nya, ya sejak semulajadi jangan ambil banyak-banyak nasi-nya dong ya.

Bagaimana kalau sudah terlanjur ada di piring? Ya, jangan dipaksakan atuh, euy!

Saya baru sadar akan hal ini, ketika pernah suatu kali anak saya yang perempuan bilang: sayang perut atau sayang nasi, ketika dia ditegur soal nasinya yang masih bersisa di piring ketika kami makan di satu resto - biasanya nasi sudah ditarok seporsi, bukan atas permintaan kita.

Benar. Kalau sudah 'kenyang', tentu tidak apa-apa kita menyisakan makanan - dengan sangat terpaksa. Daripada asupan makanan tsb menjadi 'ganjelan' bagi tubuh kita, perut kita. Mestinya lebih sayang perut (dan tubuh) kita dari sesuap dua nasi yang tidak lagi bisa kita habiskan toh?

Lagipula, terlalu banyak karbohidrat (kandungan utama nasi) ternyata sekarang terbukti tak biuk juga bagi tubuh kita. Terlebih lagi bagi para diabetasi aka penyandang diabetes.

Dan, kemudian lagi, diet sehat bagi sesiapa saja katanya juga menganjurkan untuk mengurangi asupan karbohidrat - tidak melulu nasi, tapi juga sumber karbohidrat lain seperti roti tawar putih, ubi-ubian dengan GI (Glicemic Index) tinggi, juga... gula!


Akan halnya bagi para diabetasi, ada juga yang lantas begitu 'phobia'nya ama karbohidrat, tapi tidak bisa makan tanpa nasi, sampai-sampai memaksakan diri berdiet makan nasi dengan aneka nasi yang susah dicari - beras basmati, misalnya.

Sebenernya sih, para diabetasi itu tetap saja memerlukan karbohidrat untuk tubuhnya. Hanya saja, karena ada 'gangguan teknis' yang menyebabkan tubuhnya tidak bisa mengontrol kadar gula darah, maka mesti dibantu dengan cara mengontrol asupan karbohidrat-nya. Bukan berarti lantas tidak makan nasi sama sekali, toh bisa saja anda makan lontong, ketupat sebagai gantinya - eh, sama ajah ya?

So, mari sayangi perut dan makanan kita, jeh!

November 02, 2010

Nostalgila - Menikmati Merapi Ketemu Kuncen(?)

Merapi meledug (lagi), wedhus gembel-nya kali ini makan kurban (lagi), bahkan kuncen-nya ikut di'kurban'kan. Peringatan dari petugas bagian pemantau gunung berapi nampaknya 'kalah wibawa' dibanding arahan sang kuncen, jadi kurban jiwa tak terelakkan lagi.

Relatip jumlah kurban-nya sih 'kecil' (36 jiwa) dibanding kurban tsunami di Mentawai (250-an), tapi, jiwa manusia bukanlah cuma sekedar angka toh? Belum lagi 250-an sapi perah yang konon kreditnya belum lunas ikut jadi kurban sia-sia, dan 3.000 ekor lagi menunggu ajal karena tidak ada makanan di atas sana.


Saya ndak tahu persis, apakah memang penduduk sudah mengabaikan peringatan dini dari pengawas (apa sih nama resminya ya?) yang rutin memantau dan sudah kasih kode: waspada, siaga, awas - disesuaikan dengan tingkat bahayanya, atau mereka tidak memahami maksud kode-kode tsb., atau memang mereka lebih manut dan percaya kepada sang kuncen?

Pokoknya, kalau sang kuncen masih bertahan di deket puncak-nya, dianggapnya aman-aman saja, sang Merapi tidak akan 'memakan' anak-anaknya sendiri, walau 'batuk-batuk'nya makin kenceng dan keras bergemuruh suaranya, diiringi uap panas yang dilunakkan oleh sebutan 'wedhus gembel' yang terkesang jinak-jinak merpati sangat. Coba ajah, wedhus = domba tak berdosa, tak ganas dan cumalah herbivora, dibanding macan lapar, misalnya, jeh!

Jangan-jangan, pemakaian bahasa yang dibuat halusinasi (perhalusan) itulah yang bikin 'misleading' penduduk, mereka merasa akrab dan dekat dengan sang Merapi - sang gunung cuma 'batuk'batuk' dan mengeluarkan 'wedhus gembe' yang tidak berbahaya samsek, sehingga ndak mungkin Merapi mau dan rela dan tega 'memakan' mereka dong!

Saya jadi ingat jaman kuliah dulu.

Pernah saya diajak bolos oleh 'dosen' boso Jowo saya. Di suatu pagi yang cerah, udara mayan sejuk di musim hujan yang masih teratur dulu itu, saya diajak naek angkutan bus ke Kaliurang, lalu diajak terus jalan menuju lereng Merapi.

Sambil jalan, sambil belajar boso Jowo. Jalan-jalan terus, ditimpa udara yang makin sejuk, ndak terasa tibalah kami di 'pelawangan' (dalam bsa urang Sunda: pengilon) - tempat di deket puncak Merapi untuk memandang ke arah puncaknya. Deket-nya tentu saja relatip, dibanding dengan jarak Jakarta-Yogyakarta, tentu saja 'spot' pelawangan itu sudah deket atuh, euy!

Tempat itu agak terbuka, mengarah langsung ke puncak gunung. Ada pepohonan cukup rimbun untuk kami duduk-duduk berteduh, sambil belajar bareng dan maksibar tentu, walau jaman itu belum musim istilah 'maksibar' (makan siang bareng), tapi ya pas jam makan siang, pas kami laper, ya makan siang bareng - bekel nasi gudeg bungkus godong gedang yang dibawa dari bawah.

Waktu asyik-asyiknya kami maksibar, nasi gudeg pake gending ayam dan telur pindang dan sambel goreng krecek - dengan cengek layu termasak warna merah-kuning-ijo yang gemuk, di bawah rerimbunan pohon, deket semak-semak di tepi jurang yang cukup landai, sunyi-sepi ditemani semilirnya angin gunung yang sejuk, cuma kami berdua saja, tiba-tiba saja, tanpa kami ketahui dari mana datangnya, muncullah seorang kakek tua (tentu, mana ada kakek muda toh?) yang agak kurus, berpeci, ning masih cukup sehat dan gagah jalannya, menyapa kami, dalam boso Jowo, tentu!

Dosen saya yang asli Yogya lantas berboso Jowo yang halus dengan sang kakek, entah apa yang dibicarakan. Yang jelas, rupanya dosen saya menawarkan maksibar - jadilah 2 porsi gudeg kami makan bertiga.

Selesai makan dan minum (bawa botol air, belum musim ADK - Air Dalam Kemasan), sang kakek pamit untuk meneruskan 'tugas'nya, katanya. Dan, seperti juga waktu datangnya tidak diketahui dari mana, begitu pun ketika beliau berlalu - begitu saja ndak tahu ke arah mana. Menghilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa suara.

Dosen saya bilang, beliau adalah 'penjaga' atawa sang kuncen gunung tsb. Saya ndak tahu persis siapa nama beliau, sebab dosen saya juga belum sempat bertanya, dan beliau makan cuma sekepal dua saja nasi gudeg yang kami berikan.

Baguslah waktu itu sang Merapi ndak sedang batuk-batuk ya?

October 25, 2010

Banjir Di Mana-mana Nih Ya?

Harini rencana mesti ke BSD, ngurus IMB untuk rumah baru. Berangkat dari rumah sesudah maksibar nyonyah dan babeh (mertua), lauknya bebek masak sawi asin, improvisasi nyonyah karena punya bebek panggang separuh belum dimakan-makan. Lalu ketak-ketik FB dan MP, sudah lewat pukul 13:00 - mendung mulai tebal.

Masuk tol Bintaro-BSD jalan mayan lancar, sebelumnya cuma tersendat di depan Gancit - Gandaria City. Lancar di tol, selepas GT Pondok Ranji, hujan mulai turun, langsung cukup deras. Sampai BSD hujan deras sekali, lalu berhenti menjadi rintik-rintik, waktu menunjukkan sekitar pukul 14:00-an. Mampir di pompa bensin deket pusat onderdil - cluster Puspita Loka, pelatarannya sudah tergenang air tempiasan, si mbak yang melayani bilang saya gak usah turun dari mobil. Saya tanya apakah hujan selalu yurun tiap hari, dia bilang iya, pagi sampai siang cuaca cerah, menjelang sore selepas makan siang mesti turun hujan.

Cilaka dah, kalau hujan turun terus, bagaimana saya bisa mulai bangun rumahnya ya?

Menuju kantor Property Management, hujan deras turun lagi. Langsung ketemu petugasnya, hujan turun dan berhenti tiap sebentar. Saya diberi pengantar untuk bayar ke loket untuk pembayaran deposit dan biaya IMB.

Sekitar pukul 16:00 selesai sudah saya bayar. Mampir ke ITC BSD, ke BCA untuk transfer dari rekening tabungan ke rekening koran, tadi bayar IMB pakai giro, hujan deras dan merintik silih berganti masih lanjut, angin cukup kencang bertiup.

Lalu saya naek ke lantai tiga isi pulsa HP, dan lanjut ganjel perut yang kelaperan kena hawa dingin di Bakso Lapangan Tembak - isi perut dengan semangkuk Bakso Campur. Semangkuk isi 3 bakso dan 1 tahu + sejumput mie + bihun, harganya 15.000 + 10%, gak mau pesen air - toh sudah ada kuah baksonya ya.

Selesai makan, saya baru ingat tadi nyonyah pesan saya beli air di kawasan ruko Golden Viena arah ke Taman Tekno. Dari ITC BSD ke arah Teko - Teras Kota masih lancar, hujan merintik terus. Tapi selepas jembatan di atas tol, saya terjebak macet pamer - padat merayap. Waktu sudah menunjukkan pukul 16:45 - padahal tukang air langganan tutup pada pukul 17:00

Pas sekali saya tiba di tukang air, mereka baru saja mau tutup. Selesai isi, lalin di jalan raya masih macet sekali. Si engkoh-nya anjurkan saya lewat pintu tol yang dekat The Green, karena jalan di depan sekolah Stella Marris sudah tergenang air. ya sudah, saya ikut antrian yang hendak memotong jalan kemacetan jalan raya, ikut taksi yang searah.

Baguslah tak lama banyak motor yang memotong antrian di jalan raya, taksinya masuk, saya pun menempel terus di belakangnya. Lancar jaya masuk tol. gerimis mulai turun lagi....

Tiba di dekat KM 8, tiba-tiba jalan agak tersendat.

Ternyata di KM 8 mulai ada genangan air. Ada satu-dua mobil yang mogok sedang dibantu petugas tol diperbaiki. Air genangan masih sekitar mata kaki - gak diukur sih benernya, jeh!

Sampai GT Pondok Ranji, bayar dan keluar tol, lancar jaya, hujan turun deras dan rintik terus, keluar tol, tumben di Jalan Veteran, arah ke Tanah Kusir lengang, biasanya sore-sore begitu macet sehingga kita dipaksa belok kanan arah Haji Muhi.

Selepas kuburan Tanah Kusir, jalan diarahkan ke kiri, biasanya saya langsung bablas lewat jalan tikus, ketemu Jl. Ciputat Raya lagi, menghindari memutar lewat Bendi. Tadi ada mobil yang mundur balik lagi karena katanya di turunan jalan sudah tergenang air, ya sudah, akhirnya saya balik kanan jalan memutar lewat Bendi.

Ciputat Raya menuju Pasar Kebayuran Lama cukup lancar, tersendat menjelang Binus, hujan masih turun deras juga. Selepas Pertamina Learning Center, saya mampir di tukang pisang barangan - favorit mertua, beli pisang sesisir pilih yang matang 2-3 hari, lanjut jalan lagi menuju rumah - hujan masih merintik, makin kecil.

Sampai lampu merah ITC Permata Hijau, agak macet di jalan menuju Hero di ruko Permata hijau, lalu lancar jaya sampai di rumah - agak dekat pos, ada air genangan sekitar 10 cm., hansip-nya bilang memang kalau hujan mesti ada genangan air sebentar.

Sampai di rumah, sekitar pukul 18:00-an.

Lihat berita di TV, Kuningan dan jalan tol dalam kota macet di mana-mana. Adik nyonyah yang baru masuk tol BSD-Bintaro juga terjebak di dalam tol, karena banjir di KM 8 Pondok Ranji yang tadi saya lewati masih sekitar 10 cm, sudah naik 10 kali lipatnya. Macey cet tidak bisa jalan, akhirnya dia balik kanan menuju BSD, baru tiba di BSD lagi sekitar pukul 21:30 dan dia ndak bisa pulang ke KL, terpaksa numpang menginap di rumah temannya di BSD tuh.

Baca di milis, ternyata memang banjir di mana-mana di Jakarta, macet di mana-mana.

Saya masih bersyukur bisa sampai rumah tanpa terjebak macet. barusan listrik padam mulai 20:30 sampai 21:30-an, dibandingkan yang terjebak macet - tidak ada artinya pemadaman yang cuma sekitar 60 menit itu.

Bagaimana dengan anda?





PS: Barusan dapat kabar, katanya Padang dilanda gempa 7,2 SR.

October 24, 2010

REPOST: Case Study - Salah Baca, Salah Mengerti atau Buru-buru Asal Njeplak?

Hehehe..... ini kasus unik, sebelumnya saya sudah ngepost 'case study' yang satu ini, tapi tiba-tiba saja menghilang dari peredaran ketika ada beberapa respon yang sedang saya jawab. Di inbox masih ada terbaca judulnya, tapai gak bisa diakses: kalau diakses, mesin-nya bilang NOT FOUND. Di daftar blog entry di 'rumah' saya juga gak ada jejaknya, menghilang begitu saja.

Unik sekali ya?

Sorry, saya repost di bawah ini ajah ya:




Ceritanya ada satu temen MP yang ngeluh di blog MP-nya soal ibu-ibu yang merasa 'hebat' - merasa lebih baik dari ibu-ibu lain, semata karena mereka (yang merasa hebat) bisa memberikan ASI Eksklusip kepada anak-anak aka bayi-bayi mereka. Dan, memandang rendah mereka yang tidak (mau dan tidak bisa) memberikan ASI kepada bayi-bayinya.

Jadi, saya kasih komentar begini (bahan-bahan hasil saya baca-baca di i-net):

Saya gak pernah kasih ASI ke anak-anak saya, lha, jelas sekali dan gamblang: saya bukan ibu-nya anak-anak saya sih, jeh! ;D)

Tapi, kalau gak salah, secara alami semua mahluk yang menyusui (termasuk manusia dan hewan) akan secara alami memproduksi ASI buat anak-anaknya begitu mereka melahirkan anak-anaknya. Dan, katanya lagi, kalau tidak bisa (bukan tidak mau) memproduksi ASI (lagi), berarti memang tidak diperlukan lagi ASI bagi anak-anaknya ya?

Itu yang kalau gak salah disebut sebagai 'menyapih' anak-anaknya.

Dan, katanya sih mulainya masa menyapih (tidak perlu diberi ASI lagi) itu tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya - sangat individuil dan unik, tidak ada batasan anak disusui mesti sekian bulan, sekian tahun - yang 'menyesatkan' itu konsep ASI EKSKLUSIP yang katanya mesti minimal 12 bulan, padahal tiap pribadi ibu itu unik, tidak bisa disamaratakan semuanya mesti menyusui anak-anaknya selama 12 bulan. Perhatikan hewan menyusui anak-anaknya juga akan berhenti pada masanya, anak-anaknya akan di'usir' kalau masih saja terus minta menyusu kepada induknya.

Satu lagi salah kaprah: anak mesti dikasih susu sapi sebagai tambahan (baik segar maupun kalengan - bubuk), susu sapi memang sangat baik bagi anak-anak..... sapi! Anak orang ya gak usah dikasih susu sapi. Banyak yang pikirannya sudah dirasuki kampanye produsen susu sapi yang tentu saja selalu menganjurkan orang mengkonsumsi produknya - dari situlah mereka mendapat keuntungan besar.

Perhatikan: susu sapi dipacu lebih banyak diproduksi oleh 'pabrik'nya - induk sapi, dengan cara diberi hormon pertumbuhan tambahan, akibatnya, hormon tsb ikut larut dalam air susu sapi, yang kemudian masuk ke dalam tubuh anak-anak orang. Akibatnya, anak-anak orang jadi dipacu juga pertumbuhannya oleh hormon pertumbuhan yang diberikan kepada ibu, eh, induk sapi.

Makanya jangan heran kalau anak-anak manusia yang perempuan dan lelaki pada keluar tetek-nya pada umur yang relatip masih muda, sekitar 10 tahunan - coba cek ajah sendiri ya.

Yang dicari dari susu sapi untuk anak-anak itu apa? Kalsium dan protein dan lemak? Semuanya bisa diperoleh dari bahan makanan lain. Kalsium banyak juga terdapat di dalam kekacangan dan sesayuran, lemak dan protein juga bisa dicari di makanan lain. Sila cari sendiri ajah di i-net ya.

Sorry. Jadi panjang kayak posting sendiri ajah, jeh!

Lalu, ada seseorang entah siapa (ada nama tanpa headshot) yang kasih komentar sesudah komentar saya, entah ditujukan kepada siapa dia kasih komentarnya, saya ndak begitu yakin apakah itu ditujukan kepada komentar saya atau bukan.

Isinya begini:

pak.... maksudnya apa ya....???? yang jelas yg bisa ngerasain cuma para ibu....n saya yakin sekali para ibu di sini berarti yg udah usaha banget, tapi gak bisa....soalnya kalo gak usaha, pasti mereka ga pada sedih.....so....jangan disalahin lagi n diomongin lagi ya....

Pertanyaannya: coba anda baca komentar saya di atas, lalu anda simak, apakah ada nada ofensip kepada para ibu yang tidak bisa menyusui di dalam komentar saya, sehingga komentar seseorang itu (kalau benar ditujukan kepada komentar saya) sepertinya menganggap saya sudah ofensip kepada mereka.

Sila kasih komentar ya!

Terima kasih.





PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt Media file.

IT'S WORLD TIME: