June 21, 2010

GM-8 : A Friend In Need Is A Friend Indeed, Right!

Sudah lama banget saya gak setir sendiri kelilingan Jawa. Terakhir itu tahun 1990-an. Jadi kemaren itu saya koq ya bener-bener tak tahu diri dan sotoi banget. Beraninya jalan naek mobil sendiri, setir sendiri bertiga nyonyah dan si Dede.

Daerah 'rambahan' perjalanan ziarah saya kemaren itu Jawa Tengah. Meski Jateng dan Jatim masih termasuk wilayah WIB, sama seperti Jabar dan Jakarta, juga BSD tentu, tapi secara alamiah dan sudah kodratnya, mentari lebih cepat terbenam di Jateng dan Jatim, dibanding di wilayah barat, jeh!

Jadi, perjalanan kemaren, dari Solo saya berrencana menuju Temanggung. Dengan asumsi jarak yang tidak begitu jauh, rutenya Solo-Boyolali-Salatiga-Bawen-Ambarawa-Secang-Temanggung, mampir di Boyolali masuk ke desa Musuk sebentar, ada satu GM - Gua Maria di sono, maka saya merasa tenang saja berangkat dari Solo sekitar pukul 14:00 setelah makan siang sate buntel di Tambak Segaran dan ngombe dawet terkenal enak di Pasar Gede, masih diselingi chit-chat dengan 2 keponakan yang meneruskan usaha cihu (kakak ipar) buka toko di Ketandan, Solo.

Di Boyolali cuma sebentar, sempet motrek-motrek pura Hindu yang katanya punya penganut sekitar 10 KK saja, masih lumayan dibanding 3-4 KK saja untuk warga Katholik di sana. Jangan bandingkan desa Musuk segede desa di Jakarta ya. Sebab namanya desa ya bener-bener udik keringetan punya, adanya
lereng perbukitan satu gunung. Walau jalanan sudah rata dan dibuat satu arah - saking sempitnya cuma muat satu mobil, jadi untuk menghgindari papasan 2 mobil lawan arah, dibuat satu arah memutari desa.

Menuju Salatiga sekitar pukul 16:00-an, ndak diperhitungkan ada kemacetan menjelang keluar Salatiga.

Jadi, akhirnya saya ikuti petunjuk arah jalan alternatip menuju Ambarawa, tidak lewat Bawen yang mestinya lebih macet lagi. Akhirnya masuk ke Banyubiru. Hari sudah pukul 17:00-an, dan cuaca mendung. Dan, tak lama, menjelang pukul 17:30, udara makin gelap. Sampai di ujung Banyu Biru, tanya penduduk setempat arah yang enak, diberitahu ada jalan desa yang merupakan 'short cut' menuju Temanggung. Saking 'culun'nya, saya ikuti saja.

Makin gelap saja keadaan. Sebab jalan itu adanya di lembah bukit. Jalannya mulus, namun berliku-liku dan sesekali melewati lereng yang di kanan ada jurang cukup tinggi. Yang tidak saya perhitungkan, dan tidak tanya, bahwa jalan itu sepi sekali, berliku-liku dan naik-turun bebukitan. Jarak antar satu desa ke desa lain dipisahkan sawah dan hutan kecil. Dan, saya baru kali itu lewat jalan tsb.

Makin gelap udaranya, padahal waktu baru menunjukkan pukul 18:00-an.

Sampai akhirnya saya cukup lega mendapati jalan lebar dan mulus sangat. Tapi saya tidak tahu mesti ambil arah mana, ke kanan arahnya menunjukkan Ambarawa, ke kiri menuju Magelang. Bingung sendiri, jalan tidak ada penerangan. Jadi kami memutuskan berhenti di pinggir jalan, mau tanya pada orang yang lewat.

Menyetop mobil yang lewat sesekali agak sulit, sebab jalannya sedang menanjak ke arah kiri. Coba menghentikan yang naik motor, yang mestinya lebih mudah, ternyata tidak berhasil. Ada sekitar 5 orang yang saya hentikan, tidak ada yang mau berhenti. Padahal saya sudah teriak-teriak memanggil pengendaranya. Sementara gerimis mulai turun dan udara makin gelap, makin sepi saja.

Eh, agak lama, ada satu motor yang turun dari arah kiri, jalan di sisi kanan, dan berhenti menanyakan ada apa. Ternyata itu kayaknya motor ke-3 yang saya tadi hentikan, mereka balik lagi untuk menanyakan keadaan saya. Mungkin akhirnya mereka merasa kasihan dan memutuskan balik kanan untuk membantu saya.

Barulah saya merasa lega, ternyata saya mesti ambil jalan ke kiri menuju Magelang, untuk nanti belok ke arah Temanggung di Secang.

Sayang sekali, saking gugupnya dan cukup tegang, saya lupa menanyakan nama kedua orang yang baik hati tsb. Ternyata daerah tempat saya berhenti itu, tak lama ketemu desa cukup ramai bernama Jambu. Di peta Mudik Lebaran yang saya jadikan pedoman tidak jelas tertera jalan 'short cut' itu. Baru tahu ketika baca peta Semarang yang ada Jateng-nya, jalan berliku-liku itu ternyata ada di sisi barat Danau Rawa pening, jalannya sudah benar, lebih singkat, hanya saja timing-nya yang kurang pas: gelap. Dan, petunjuk arahnya cuma menyebut Magelang, tanpa ada Secang atau Temanggung.

Akhirnya saya tiba dengan selamat di Temanggung sekitar pukul 19:30-an. Waktu saya ceritakan kepada sohib saya, OHT, yang ketemu di milis sebelah dan ternyata masih 'get connected' secara silsilah dengan nyonyah saya, baik OHT-nya maupun isterinya, yang rumahnya saya inapi, ternyata dia sendiri yang sering berkendara sendiri, tidak pernah lewat jalan tsb.

Anda pernah lewat jalan itu?

June 20, 2010

Kecap Anda Nomer Berapa Ya?

Baca di milis sebelah, ttg enak-tidaknya suatu makanan tertentu, katanya makanan yang "enak" itu ditentukan dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita lahir dan dibesarkan. Rasa makanan yang pertama kita kenal / santap lah yang pasti menjadi barometer untuk membandingkan dengan aneka rasa bacang yang kita konsumsi dalam hidup.

Saya koq setuju dengan pernyatan Bung Suhana Lim di milis BT tsb.

Contoh paling sederhana dan pas adalah kecap. Kecap selalu nomer 1. Tidak ada kecap yang mengklaim dirinya sebagai nomer 2, nomer 3 apalagi nomer 100 toh?

Itu klaim semestinyalah tidak mengada-ada.

Coba saja anda sebut, kecap apa yang paling enak menurut anda? Yang nomer-1, nomer wahid, numero uno, dai-ichi? Tentu saja kecap yang anda kenal sejak anda mulai bisa mencecap rasa makanan yang dimasak oleh ibu anda di rumah. Sebagai penyedap masakan atau pun cocolan tahu, tempe, atau apa pun saja.

Tidak ada kecap yang lebih enak dari kecap yang anda kenal sejak kecil itu. Karena merek itulah yang pertama anda kenal, anda 'gauli' sejak kecil sampai anda meninggalkan rumah - sekolah di luar kota, luar negeri, bekerja dan bahkan berkeluarga. Merek itu sudah menjadi 'brand preference' yang menancap erat bagai jangkar di memori database anda. Setiap kali anda makan kecap merek lain, mestilah tanpa sadar, secara refleks dibandingkan dengan merek tsb.

Makanya waktu saya diminta tolong untuk merekomendasikan makanan khas Cirebon yang banyak mempergunakan kecap, nasi lengko, oleh seorang TM yang punya job bikin acara program makanan enak khas daerah, disponsori oleh satu merek kecap dari Jakarta, saya bilang: kayaknya sih percuma saja anda 'memaksakan' merek tsb ke masyarakat Cirebon.

Nyatanya tu teman teuteup ajah maksa - di satu adegan makan-makan tahu gejrot di Cirebon, yang dibawakan satu 'pakar' yang sukanya nendang makanan, eh, makan makanan yang nendang, dikecrotinya sepiring tahu gejrot dengan kecap bermerek sponsor. Padahal tahu gejrot will never, never, ever dikecrotin kecap apa pun juga, jeh!

Hasilnya? Nihil banget kayaknya sih, tentulah dwong dweh!

Lanjut dengan tulisan Bung Suhana Lim, Ihwal enak-tidaknya suatu makanan: hal ini bukan hanya berlaku bagi makanan tertentu saja, tetapi semua jenis makanan lainnya. Daripada mesti membanding-bandingkan rasanya, why not just enjoy the diversity in life!

Jadi, kecap anda merek apa nih?




PS: Cerita ttg si kecap, bisa anda baca di sini dan di sini, plus di sini.

June 08, 2010

Copy Paste Tanpa Ijin - Bisa Ajah Bener, Jeh!

Copy paste yang dimaksud, tentu saja kegiatan membuat copy atas foto atau karya tulis, termasuk cerita dan resep oleh orang lain, tanpa ijin pemiliknya - mencuri, yang diambilnya dari media internet atau media lain, untuk keperluan pribadi orang tsb secara komersil dan menguntungkan diri sendiri, atau untuk berbanggaan: seolah itu karyanya, padahal mah boleh nyomot milik orang lain, jeh!

Sudah terjadi berkali-kali dan muncul lagi dan lagi. Gak bosan-bosannya mereka mencuri begitu. Bahkan mungkin justru yang di'curi', yang jadi kurban yang lama-lama menjadi bosan.

Tindakan pencegahan tentu mesti dilakukan, misal dengan membuat watermark yang cukup besar pada foto-foto yang hendak dipublikasikan di internet, dengan besaran file yang sekedarnya saja (sekitar 50 kb?), dalam format paling sederhana (.jpg?) Jadi kalau sampai mereka teuteup ngotot mau 'nyolong', mereka mesti berusaha dulu: menghapus watermark-nya, memperbesar fotonya, merubah format file-nya dulu.

Kata pepatah: bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh. Kalau saja para kurban dan 'prospek' potensial kurban pencurian itu mau kompak, mungkin bisa menghadapi para pencuri dan 'prospek' pencuri. Caranya kompak? Nah ini yang masih mesti dicari.

Pertanyaannya: bisakah kompak ya?

Soalnya, yang ada, kayaknya sih ada semacam 'persaingan' di antara 'aktivis' yang suka memuat resep atau foto atau cerita di internet. Jadi, kalau sendiri bukan yang menjadi kurban, sukaan sih masa bodo ajah. Toh bukan gw yang jadi kurban. Apalagi kalau yang jadi kurban itu 'pesaing'nya, atau orang yang tidak disukainya, alih-alih simpati, bahkan mungkin disyukurinya pula. Rasain lu, makanya jangan nyebelin, jangan sok lu! Bagus tu pencuri, biar kapok dah, tahu rasa dah lu!

Jadi, mencuri itu bener atau salah? Ternyata tergantung bagaimana anda bersikap. Kalau anda menyebalkan, mungkin si pencuri itu justru dianggap pahlawan - sudah membalaskan sakit hati orang yang tidak menyukai anda. Bahkan mungkin mereka akan pro ke si pencuri itu. Bisa saja terjadi toh?

So, begitukah hidup di dunia maya ya?

Batere Kamera Merek Compatible.

Paling sebel kalau lagi motrek, batere-ne enthek. Dari pade kesel jadi melethek dhewek, mending juga beli batere baru untuk cadangan, jeh!

Jadi saya ke toko kamera tanpa nama di lantai dasar di ITC Permata Hijau. Sepertinya ITC itu di mana-mana bikin pusat pertokoan, ya gak bisa elite ya. Entah mengapa. Memang sudah dari sononya mereka cuma mau bangun tempat juwalan yang laku - kios dan tokonya ajah yang laku, dagangan mereka laku tidak mah bukan urusan developer toh.

Jadi, walau namanya lokasi di daerah elite tempo doeloe, Permata Hijau - beken sebagai lokasi perumahan elite yang termasuk pertama dibangun di Jakarta, ITC Permata Hijau ya sama ajah dengan ITC di lain-lain lokasi. Toko-toko juwalan kayak di Glodok, mesti tawar-tawaran dulu, jangan sampai ketipu kejeblos harganya kemahalan.

Juga anda mesti waspada ama para pedagang golek - golongan ekonomi lemah, yang mau tak mau mesti diistimewakan oleh pengembang disediakan tempat khusus bagi mereka, walau mereka cuma sedia satu lemari dua tanpa nama, juwalannya bisa apa ajah, dari racun tikus 'maker - mati kering' sampai minyak sereh yang cuma berupa parfum doang - aromanya sih sereh, tapi tidak ngefek apa-apa.

So, ada satu toko kamera digital yang kelihatannya saja mewah. Tapi gayanya tetep ajah ala Glodok. Pertama kali saya tanya batere kamera, dia tanya kameranya merek apa. Saya tunjukkan saja kamera dan baterenya. Canon, Ixus 85 IS. Baterenya NB-6L 3.7 V 1.000 mAh (Li Ion). Penjaga toko melihat daftar harga dari mapnya, lalu tanya mau pake garansi atau tidak. Tanpa garansi Rp 190 rebu, dengan garansi Rp 235 rebu. Berarti harga garansinya selama 6 bulan adalah 45 rebu.

Karena baru survey harga, saya cuma bilang terimakasih dulu. Gak tanya-tanya lebih lanjut takut mengecewakan si penjajanya toh. Saya cek di i-net, ada satu toko yang suka terima servis kamera, dan ada daftar harga untuk baterenya. Saya mungkin salah lihat, tapi kayaknya harga batere Canon di situ Rp 225 rebu, tapi tokonya ada di Gunung Sahari, jauh juga. Ditelepon ke toko itu, katanya sistem sedang down gak bisa cek harga dan stock.

Jadi besoknya saya ke toko yang di ITC itu lagi mau beli saja. Selisih harga 10 rebu cukup wajar untuk ongkos ke Gunung Sahari toh?

Tapi, ternyata mereknya bukan Canon. Katanya kalau Canon tidak bergaransi dan harganya gak mungkin segitu. Padahal kemarennya toh saya tunjukkan kamera dan batere yang saya punya. Juga, harganya ternyata berubah, bukan lagi 235 rebu tapi cuma Rp 190 rebu pake garansi, dan tanpa garansi cuma Rp 170 rebu, dijawab tanpa melihat daftar harga.

Langsung saja saya gak yakin lagi ama harga mereka, segera saja saya ngeloyor pergi.

Pas mesti ke Sunter, pulangnya saya sengaja mampir ke toko yang jual Canon. Ternyata saya salah baca, harganya Rp 369 rebu tapi stocknya kosong. Merek Canon dan benar tanpa garansi - sebab jarang rusak katanya. Masuk akal juga, jeh!

Jadi saya ke Pasar Baru, makan sup kambing (bening) dulu di dekat situ, baru ke pertokoannya. Toko-tokonya sudah banyak yang mulai tutup. Pas dekat eskalator, ada satu toko kamera besar - lupa nama tokonya. Saya tanya batere Canon seperti saya tanya ke toko di ITC Permata Hijau. Jawabnya sama, tidak jual yang asli Canon. Karena harganya mahal. Dia tawarkan merek ATT yang sama seperti dengan yang ditawarkan oleh toko di ITC.

Harganya? Rp 235 rebu. saya bilang mahal, orangnya bilang ndak semahal Canon yang asli. Tapi saya bilang, sama-sama gak asli, mereka jual mahal. Saya mau keluar dari toko, dia langsung menawarkan jadi Rp 190 rebu - jangan-jangan itu toko yang sama dengan yang di ITC ya? Saya cuma senyum ajah dan tetap berlalu mencari toko lain.

Di toko kedua, mereka menyebutnya dengan yang kompatibel - halusinasi dari 'tiruan'. mereknya sama juga ATTitude, buatan Taiwan katanya. Harganya Rp 185 rebu. Setelah ditawar-tawar, akhirnya deal dengan harga Rp 170 rebu. Mereka dengan sabar mengajari saya untuk charge dulu baterenya selama 4 jam, dan bagaimana nanti mengklaim garansi-nya kalau sebelum lewat 6 bulan ada kerusakan, yakni yang paling utama menunjukkan nota pembeliannya.

So, sudah benarkah cara saya beli batere ini ya?

June 06, 2010

How Do You Like Your...... Nasi Goreng?

Nasi Goreng, kayaknya ini menu yang paling gampang dibuat. Konon kabarnya, ujian bagi seorang koki adalah cara bagaimana dia memasak nasi goreng. Benar-tidaknya tidak usah diusut, sebab sesi kita kali ini bukan soal kebenaran ttg kabar tsb. yang bisa saja cuma sekedar kabar burung. Dan, namanya kabar burung itu ya bisa saja bener, tapi mungkin juga salah.

Mengapa nasi goreng disebut paling gampang? Ya karena anda tinggal cemplang-cemplung bahan, sesuka hati anda, lalu srang-sreng-srang-seng, jadilah sudah nasi goreng ala anda. Mau pakai daging apa? Ayam, sapi, kambing, babai, atau hasil laut - udang, cumi, ikan, kepiting? Sila saja anda masukkan. Mau asin atau manis? Mau merah atau kuning atau ijo? Mau pake pete atau jengki? Mau pake sayur? Monggo. Mau pake cabe? Mangga atuh, euy!

Satu hal yang pasti, nasi goreng itu dibuat sesuai kehendak yang membuatnya. Kalau anda pesan nasi goreng di resto, lalu tak sesuai dengan kehendak anda, ya sorry deh. Anda boleh saja tambahi garem, tambahi kecap atau kondimen lain. Tapi, intinya nasi goreng yang sudah anda pesan tidak bisa diubah lagi. Just take it or leave it, tapi anda teuteup mesti kudu harus bayar dong!

Ibarat nasi goreng, begitu pun dengan teman anda.

Anda bisa memilih teman anda, tapi anda tidak bisa membentuk teman anda sesuai kemauan anda. Sudah dari sono-nya memang sudah begitu toh? Kalau anda suka berteman dengan dia, ya terima saja apa adanya. Mungkin anda bisa memoles sedikit, dengan memintanya jangan suka ngupil di depan anda, misalnya. Tapi, kalau ternyata dia masih suka ngupil di belakang anda, ya apa boleh buat tuh!

Jangankan cuma sekedar teman, entah temen beneran di darat, atau sekedar contcts di MP - apapun predikatnya, atau friend di FB, atau jejaring sosial lainnya di i-net, bahkan temen hidup anda - suami atau isteri anda sekalipun, tidaklah mungkin anda membentuknya sesuai keinginan anda. Ada saja hal-hal yang mustahil atau hil-hil yang mustahal anda 'perbaiki' - kalau anda anggap itu adalah kesalahan, yang mestinya sangatlah subyektip - salahnya cuma menurut anda seorang doang sih, jeh!

Daripada anda kesal mesti 'memperbaiki' nasi goreng anda, ya mendingan sih nikmati saja. Mungkin agak keasinan, ya gak apa. Anda jadi tahu ada nasi goreng yang asin. Besok-besok bisa anda coba yang lebih manis. Kalau kurang pedas, ambil saja lada atau sambal, campur sendiri. Make yourself comfortable with your nasi goreng, so you can have a lovely day after enjoying it. Right? Or left?

Jadi, mau sarapan nasi goreng ala apa nih pagi ini?

June 01, 2010

Di Kandang Kambing Mengembik, Di Glodok.......Bercepek-nopek?

Masih lanjut cerita dalam seminar "Peranan Komunikasi Etnik Tionghoa Bagi Pembentukan Kesadaran Kebangsaan" di Bandung itu.

Atas pernyataan seorang hadirin yang bilang bahwa orang Tionghua senengnya berbasa mereka sendiri, gak mau pakai basa Indonesia, seorang pembicara menjawab: baguslah bahwa 'Soempah Pemoeda'
dulu tidak pernah memaksa kita semua mesti berbasa satoe - basa Indonesia, tapi sekedar 'mendjoendjoeng' basa persatoean - basa Indonesia.

Jadi, ndak masalah sebenarnya kalau urang Sunda berbasa Sunda dengan sesama mereka di alun-alun Bandung, atau wong Jowo nganggo boso Jowo untuk komunikasi dengan sesama mereka di Pasar Gede di Solo sono. Kalau orang Tionghua berbasa Tionghua, dengan sesama mereka di Glodok, apa anehnya atuh, euy?

Malahan, karena si pembicara bermata sipit, berkulit agak kuning langsat, dan bisa bilang cepek-nopek, justru diuntungkan ketika belanja di Glodok bersama temannya. Dia bisa dapat harga lebih murah dibandingkan temannya yang 'asli' bermata belo dan tak mengerti apa itu cepek.

Ketika temannya protes ke si engko pemilik toko, kenapa si pembicara dapat harga lebih murah, dengan entengnya si engko bilang: lha dia 'kan cekha-nging (Hak-ka) aka 'orang sendiri', jeh!

So, anda masih mau meringkik di kandang kambing tah?






PS: Gambar diambil dari sini.

Semua Orang Tionghua Kaya, Tah?

Masih dalam seminar "Peranan Komunikasi Etnik Tionghoa Bagi Pembentukan Kesadaran Kebangsaan" di Bandung itu, ada satu mahasisiwi(?) yang hadir membuat pernyataan yang cukup menggelitik, katanya orang Tionghua cenderung maunya eksklusip, gak gaul, karena mereka kaya.

Semua orang Tionghua mestilah kaya. Benarkah?

Rasanya sang mahasiswi tsb. mesti diajak ke Tangerang, melihat para Tionghua Benteng, atau Cinbeng - Cina Benteng, dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di kawasan Sewan dan sebagian daerah 'udik' kawasan Tangerang, misalnya, mereka adalah 'pribumi' - sebab leluhur mereka sudah mukim di sana selama puluhan tahun, atau bahkan sudah ratusan tahun(?).

Warna kulit mereka sawo matang, Hitachi - Hitam Tapi China, dan sebagian besar dari mereka aslinya menjadi petani atau buruh tani. Rumah mereka sangat sederhana, lantainya masih tanah. Dan, banyak di antara mereka yang miskin, jeh!

Atau sesekali kunjungi Medan di pinggirannya, atau Pontianak. Di sana orang Tionghua cukup dominan, sampai-sampai basa mereka, dialek Hok-kian di Medan dan Tio-ciu di Pontianak, dipakai sebagai basa pengantar sehari-hari oleh kebanyakan warganya. Kalau anda seorang Tionghua dan tidak bisa berbasa dialek mereka, anda pastilah dibilang bukan orang Tionghua. Sila baca ceritanya di sini.

Profesi mereka juga berragam, ada yang bahkan menjadi tukang becak (baik kayuh maupun motor), kuli di pasar, bahkan babu di rumah-rumah orang kaya atau buruh cuci pakaian dan buruh kasar di perkebunan.

Jadi, benarkah orang Tionghua itu kaya semua dan maunya eksklusip?

Rasanya ya ndak juga. Kalau soal eksklusip, siapa tah yang tak suka mendapat perlakuan khusus, gak usah antri ketika check in di bandara, duduk di sofa empuk dan wangi tanpa asap rokok di lounge eksekutip, dapat fresh orange dengan kursi lega di pesawat? Berangkatnya di antar limo panjang dengan supir berdasi? Kalau anda punya kekuatan dan uang, mestinya anda juga suka 'kan?

Saya juga suka, bukan karena saya Tionghua, jeh!

IT'S WORLD TIME: