December 30, 2009

Si Dede Ketemu H.Tile - Senengnya Bukan Maen, Jeh!

Anak kami yang kedua, si Dede, sejak umur sekitar 3 tahun sudah suka sekali melihat iklan susu yang ada penari ballet-nya. Jadi ketika dia minta les ballet tak berapa lama kemudian, mama-nya ijinkan dan rajin antar jemput ke tempat kursus yang tidak seberapa jauh dari rumah kami di Jelambar, Jakarta barat.

Karena di tempat kursus ballet itu si Dede merupakan anggota terkecil, jadilah selalu dia terpilih sebagai pemeran yang perlu diangkat-angkat 'terbang' ke atas oleh seniornya, dalam lakon
Swan Lake atau apa-apa saja.

Berbagai lomba antar sekolah diikutinya, mamahnya selalu rajin menjadi chaperon, ikut pentas ke mana-mana saja.

Yang paling sering tentulah pentas di perkawinan, menjadi pembuka jalan bagi pengantin masuk 'kamar bola' aka ball room untuk malam resepsi. Kadang-kadang saya ikut menghadirinya, kalau ada lumba di gedung kesenian, misalnya. Kalau di pernikahan sih, saya suka merasa sungkan sendiri: takut dikira memanfaatkan makan gratis-nya.

Nampak sekali si Dede menikmati masa-masa ketika dia kursus ballet.

Waktu masih TK dan SD kelas 1-2, kalau ditanya kelak besar ingin jadi apa, jawabnya selalu tegas: jadi miss! Miss adalah istilah untuk instruktur, guru ballet. Kalau saja dia tidak mendapat beasiswa ketika naik ke kelas 3 SMP (di Singapura dia kelas 2 lagi), dan tidak sekolah ke Singapura, mungkin sekarang sudah menjadi miss. Waktu itu saja, dia sudah menjadi asisten miss, mengajar adik-adik kelasnya yang masih SD dan TK. Panggilan 'miss' dari adik-adik kelasnya nampak membuatnya senang sekali - cita-cita-nya sih ya.

Pernah sekali waktu pulang dari pentas untuk keperluan shooting video pengantin di satu hotel, sampai di rumah si Dede teriak-teriak mencari saya. Katanya tadi dia ketemu H. Tile (alm), yakni aktor gaek yang berperan menjadi mertua Bang Ben dalam serial si Doel di TV.

Si Dede bangganya bukan maen, tentu saja, sebab kami semua waktu itu, termasuk kedua mertua saya, dan adik-adik ipar saya penggemar serial tsb. Tak habis-habisnya dia cerita ttg ketemu H. Tile (dia ndak menyebut 'H'nya sebagai [haji], tapi teuteup [ha] doang) sampai sekitar seminggu, dia ceritakan kepada teman-temannya, teman-teman koko-nya, dan semua saudara-saudara kami.

Saya sendiri pernah diundang RCTI untuk marketing gathering, ikut nonton acara apa itu ttg Mbak Endang kalau tak salah, lalu akan dimunculkan Tarzan dan Pak Bendot (Srimulat) sebagai tamu yang akan diwawancara, acaranya tentu saja yang berhubungan masalah perranjangan.

Mbak Endang itu, kalau tak salah saingan berat Mak Erot - konsultan alternatip ttg masalah alat kelamin. Tentu saja nama Mbak Endang lebih mencorong, jelas, sebab namanya masih menyandang 'mbak', sementara 'mak' Erot tentu terasa lebih inferior. Lha, jelas ajah 'mak' vs 'mbak', walau cuma beda-beda tipis, cuma satu huruf 'b' kecil saja, tapi tentu saja beda banget persepsi-nya, juga market acceptance-nya, jeh!

Saya ndak tahu bagaimana akhirnya kiprah kedua pakar pengobatan alternatip yang laris pada masanya itu, yang jelas, konsultan komunikasi pemasaran mBak Endang layak mendapat jempol, lha, walau sudah lewat 20 tahun, mBak Endang teuteup saja menyandang gelar 'mbak', sementara Mak Erot? 20 tahun kemudian? Anda bayangkan sendiri ajah ya!

Tapi, jangan keburu berpikir cerita akan menuju ke masalah esek-esek ya.

Saya cuma mau lanjut cerita ttg selebriti Pak Bendot (alm) dan Bung Tarzan itu. Jadi, pas saya tiba di studio RCTI, mereka berdua belum mesti naek panggung. Sebagai pendramatisiran, kedua-duanya diminta memakai dasi.

Tentu saja Pak Bendot (kelihatan tidak biasa memakai dasi) kesulitan memakai dasi-nya. Bagian properti dan make up pada buru-buru mendekati stage untuk mendengar dan melihat mbak Endang yang memang kesohor pada waktu itu.

Kebetulan saya berdiri dekat situ, melihatnya kesulitan memakai dasi, tentu saja saya spontan mendekati Pak Bendot dan membantunya. Tak lama, Bung Tarzan masuk sudah dengan dasi di leher.

Ketika selesai saya pasang dasi Pak Bendot, spontan ajah saya nyeletuk:

"Wah, keren juga ya, Pak" - ini line dialog tentu saja saya tujukan ke Pak Bendot.

Pas saya nyeletuk begitu, pas Bung Tarzan mendekati Pak Bendot. Dan, agaknya beliau mendengar dan spontan saja beliau bilang (dengan nada ketus):

"Memangnya kami, pelawak gak boleh pakai dasi apa ya?"

Lha, koq begitu sih ya?




PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

You Got The Wrong Bitch - Reminds You of Who?

Ini kiriman jokes dari oom Michael Pan. Lumayan juga sebagai selingan pengobat stress di akhir tahun. Yang mau tahu basa indonesia-nya, sila cek di google - mesin penerjemah basa.



WRONG BITCH


The train was quite crowded, and a US Marine walked the entire length looking for a seat.

There seemed to be one next to a well-dressed

middle-aged French woman, but when he got there he saw it was taken by the woman's poodle.

The war-weary Marine asked, "Ma'am, may I have that seat?"

The French woman sniffed and said to no one in particular, "Americans are so rude.. My little Fifi is using that seat."

The Marine walked the entire train again, but the only seat available was under that dog.. "Please, Ma'am.
May I sit down? I'm very tired."


She snorted, "Not only are you Americans rude,
you are also arrogant!"


This time the Marine didn't say a word; he just picked up the little dog, tossed it out the train window and sat down.

The woman shrieked, "Someone must defend my honor! Put this American in his place!"

An English gentleman sitting nearby spoke up:
"Sir, you Americans seem
to have a penchant
for doing the wrong thing.
You hold the fork in the
wrong hand.
You drive your autos on the wrong side of the road.
And
now, sir, you seem to have thrown the wrong bitch
out the window.."

----------------------


PS: Gambar diambil dari MS OFiice ClipArt media file.

Daripada Dibajakin Mulu, Mendingan Kita Ngebajak Aza, Yuk?

Hehehe.... tahun 2009 sudah sisa 1 hari 14 jam lagi, apa yang sudah anda lakukan selama ini? Sudahkan karya anda dibajak? Sebab pembajakan atas karya anda merupakan 'komplimen' - pujian, suatu bentuk penghargaan yang secara jelas-jelasan, gamblang-gamblangan dan terang-terangan memuji karya anda yang bagus itu.

Mana ada sih orang yang membajak karya yang jelek 'kan?

Sudahkan anda dimusuhi orang juga? Digunjingin, dikerahin massa - baik secara literal, kasat mata maupun diam-diam di belakang layar? Itu juga pertanda anda layak dan patut diacungin jempol, sebab, kata mods di milis sebelah, mereka cuma menyasar orang-orang seperti anda yang menonjol saja. Yang layak dijadikan sasaran iri, disirikin, sebab mereka tak mampu. Hehehe...... iya begitu tah? Mana mau mereka menyasar saya yang bukan siapa-siapa ini toh?

Jadi, daripada kita dibajakin terus, digosipin terus, digunjingin terus,
dimusuhin terus, mari kita ngebajak aza, yuk!

Sambel bajak, saya kenal namanya pertama kali ketika masih 'jaman' susah tinggal di asrama dulu. Waktu itu, saya kuliah di Yogya, tinggal di asrama. Namanya asrama, uang asramanya sekitar Rp 500 per bulan (kalau tak salah, sebab kayaknya saya dapat kiriman wesel per bulan Rp 2.000, uang kuliah Rp 800 per bulan) sekitar abad 1974-an, tentu saja makannya ala kadarnya, walau sehari disediakan 3 kali makan, nasi refill - all you can eat (sekul-ipun mawon nggih!), dengan sayur-mayur (paling sering: kangkung, bayem dan kol) dicah polos atau berkuah, tahu-tempe nyemek dengan bacem berbumbu tipis-tipis (kalau digoreng itu sudah termasuk luxury) dan lauk oseng-oseng kikil atawa tetelan berkulit ganemo aka tangkil atawa melinjo aka belinjo(?), sesekali daging berurat alot. Atau, kalau anda cukup beruntung, dapat extra kolesterol berupa baceman 'selang' (iso 1974 aka us-us) atawa 'handuk' (babat tanpa wingko).

Handuk? Hahaha.... mengingatkan saya ttg orang (yang penasaran dan suka ngintip note yang sudah disimpen dalam peti es di MP itu) yang heboh gak kebagian handuk nih.

Oke, back to perkara bajak-membajak lagi ya, sebelum jadi melenceng jauh dari pakem semula saya ngepost di akhir tahun ini.

Jadi, kalau anda punya ibu yang baik (dan bener?), ketika anda mudik liburan atau lama gak balik, mungkin saja anda mendapat paket dari rumah atau dioleh-olehi oleh-oleh berupa makanan kegemaran anda di rumah. Namanya makanan kegemaran, tentu berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Berbeda-beda makanannya, tapi satu tujuan jua: menjadi selingan yang sungguh nikmat sangat tuh, jeh!

Saya kebetulan cukup beruntung punya saudara di Solo, saya ber'cifu' kepadanya, dia adalah suami-nya alm. 'kakak setengah' (half sister) saya. Jarak Solo-Yogya waktu sih bisa bisa ditempuh dalam waktu sekitar 60 menit, naik 'travel' colt yang jaman itu dipasangi alarm yang akan terus-terusan bunyi kalau anda injak gas yang menyebabkan kendaraan lari lebih dari 100 km/jam. Maksudnya tentu supaya sang supir melambatkan laju mobilnya, ndak boleh ngebut. Tapi tentu saja orang kita pandai-pandai, jadi cuma sebentar ajah tu alarm keselamatan diri sang pilot beserta para penumpangnya itu sudah tak berfungsi lagi, cep-klakep meneng bae, jeh!

Jadi, kalau saya 'dolan' ke Solo, pulangnya saya suka dioleh-olehi abon Varia
(belum ngetop seperti sekarang, tanpa label pula!) yang belinya di Coyudan(?) ndak perlu lewat pintu belakang atau mesen ama kangmas tukang becak di sekitar situ saking takut gak kebagian itu.

Yang ngoleh-olehi saya ini kakak angkat saya
(isteri baru cifu saya), dan tak lupa sebotol bekas NDC - Non Dairy Creamer merek Carnation, ukuran kecil itu, yang diisi........ sambel Lampung (begitu istilahnya dulu, belum branded) yakni sambel yang sekarang dikasih label (branded) merek Dua Burung BeliBis (dasar iseng tuh burung, gak bisa nyetir ajah beli bis, buat apa ya coba?).

Kalau pas tiba di asrama, tu sambel dan abon termasuk luxury juga, ya tentu
saja, dibandingkan selang atawa handuk toh? Jadi, saya mesti eman-eman tu 2 jenis makanan andalan saya, dicukup-cukupkan untuk bisa cukup seminggu. Cuma dibawa secukupnya saja ke ruang makan, untuk dibagi ke teman makan kanan dan kiri di meja makan (kami makan di ruang makan aka refter, ruang besar dengan banyak meja makan yang berisi 10 kursi per meja) - atau paling banter yang semeja ber-10, stock logistik pribadi selalu disimpan di lemari dalam kamar - di lantai dua kompleks asrama.

Saya biasanya bawa sebotol kecil cukup sekali makan. Pernah sekali waktu saya bawa ke meja makan untuk sarapan, lantas kelupaan gak bawa balik botol induk (ex Carnation NDC itu) yang masih berisi separuh sambelnya, ditinggal kuliah, siang-siang pulang sudah tinggal botolnya doang.


Nah, satu teman saya yang Kera Ngalam, aslinya dari Malang, Jatim, kalau habis mudik, mesti bawa setoples besar (beling, belum jeman plastik masuk pada era tsb.) berisi..... sambel bajak!

Sambel bajak buatan ibu teman saya ini bener-bener istimewa sekali.

Bukan sembarang sambel bajak yang seperti biasanya, cuma terdiri dari cabe lombok + racikan aneka rupa rempah dan bumbu dan terasi(?) lantas digoreng dengan minyak cukup berlimpah sebagai esktra asupan lemak, just FYI - For Your Information ajah, di asrama minyak itu termasuk barang langka: semua bahan diolah secara 'sehat' tanpa minyak: dikukus, dicah, direbus atau dibikin sup berkuah banyak, encer.

Jadi, sambel bajak-nya macam mana?

Ibu teman saya, seorang single mom kalau sekarang biasa disebut ya, sangat
sayang kepada anak-nya yang paling barep atau ragil (bungsu?) ini, kawan saya itu tentu maksudnya, jadi karena anak-nya lapuran bahwa di asrama-nya kekurangan gizi yang baik dan bener, so there were a little extra added to the pirate chili paste she made for her beloved son - tumpuan harapan masa depan sang ibunda: keratan daging sapi has dalam yang empak-empuk, dengan potongan dadu yang mayan gede, sekitar 20 mm x 20 mm x 20 mm (namanya dadu toh?).

Saya inget sampai sekarang, sebab
saya pertama kali dikasih icip-icip, boleh nyomot langsung dari toplesnya, satu kerat daging itu sekitar seruas jempol tangan saya, dengan ukuran segitulah. Kalau ternyata jaman itu ukuran seruas jempol saya tidak selebar 20 mm, ya bukan salah bunda mengandung dwong, dweh, jweh ya!

Oke. Selama ini saya sudah terkondisikan dengan baik dan benar, bahwa yang namanya sambel bajak itu, pakemnya ya tentu ada keratan daging tak berlemak (lemak sapi akan menggumnpal pada suhu ruang toh?) yang cukup berlimpah disisipkan ke dalam sambelnya. Jadi kalau tanpa daging, saya anggap itu sih cuma sekedar sambelbajak-sambelbajakan doang ya?

Lha, kalau bukan HP, katanya pan cuma
printer biasa sih, tuh!

Pertanyaan saya, khususnya kepada para Kera Ngalam atawa sesiapa saja di mari yang faham benar pakemnya 'sambel bajak', sebenernya pakem standar-nya pigimana sih? Lha, saya pernah gembira mendapati sebotol kecil sambel bajak branded di rak supermarket, tapi koq isine mung sambel lombok thok tanpo daging blasssh?

Begitu pun pernah ada teman kantor yang katanya ibunya jago masak
sambel bajak, ketika saya special request minta dibuatin, dibikinin di rumahnya dan dibawa sebotol ke kantor, isine ya mung sambel lombok abang thok.

So, daripada mikirin tukang bajak (dan biang gusip yang memang sukanya mbakar api dalam sekam), mari kita mbajak cerita sambel bajak ajah, kumnplit pake resepnya supaya lebih afdol, juga fotone sisan, ben kalau resep sambel bajak enak ni mau dibajak, tu pembajak-nya tinggal copy paste aza. Yuk, yuk, yuk.........!

Mangga, monggo, sila.....




PS: Foto nasi goreng istimewa pake abon Solo itu, dibajak dari sini.

December 28, 2009

My Very First Camping - Makan Bubur Berkuah Sayur Asem.

Baca status di FB, ada satu teman yang cerita ttg anaknya yang camping, pulang-nya banyak sekali ceritanya. Saya jadi ingat jaman pertama kali ikut camping, pelajaran pramuka waktu masih SMP, sekitar tahun 1968-an. Camping ground-nya tidak begitu jauh, dekat perumahan penduduk, di satu alun-alun di daerah pinggiran kota, sekitaran kaki Gunung Ciremai [mana ada gunung lain di Cirebon ya].

Jadi, sebelum berangkat, regu kami - kalau tak salah enam orang, cowok semua bagi tugas. Siapa yang mendirikan tenda, siapa yang belanja sayur di pasar. Saya kebagian tugas logistik aka menyiapkan nasi dan lauk + sayurnya.

Jaman itu, belum musim sayur RTC - Ready to Cook seperti yang sekarang disediakan di supermarket dalam kantong plastik itu, sudah kumplit bahan dan bumbunya, tinggal cemplang-cemplung ajah gitu. Lha, waktu itu 'kan supermarket-nya ajah belum terpikirkan kapan mau dibangun sih, jeh!

Saya sudah belajar masak sayur asem, menanak nasi dan nguleg sambel, hasil kursus kilat kepada si mbok - asisten dapur di rumah kami.

Beres dah pokok-na mah, euy!

Pas tiba di tempat camping, tenda sudah berdiri. Saya mulai menanak nasi, pakai sistemn-nya liwet ajah, masak di panci, dituangi air-nya sampai satu ruas jari permukaan airnya - begitu instruksi yang sata catat di buku memo.

Panci berisi beras sudah tarok di tungku batu-bata, sayur asem sudah mulai diracik, sesuai petunjuk, bumbu sebagian diuleg, sebagian cemplang-cemplung tanpa takaran (jadi kebiasaan sampai sekarang tuh!), lalu goreng asinan cumi kering dan gesek (ikan asin kering aka gereh), sambel diuleg, beres semua.

Seorang teman saya ikut bantu menjaga nasi ditanak dalam panci, dia lihat airnya sudah mulai mengering, maka saya minta dia tambahi airnya lagi sedikit. Tadi dia sudah kasih air setinggi seruas jarinya waktu mulai masak.

Pas waktu makan, ada satu guru kami yang ikut ngariung di kelasa (tiker) di depan tenda kami, dengan penuh yakin dan pede, kami bagikan sayur asem dalam panci ke mangkuk-mangku yang sudah kami bawa. Iwak gesek goreng + cumi asin goreng tarok di piring saji, tarok di tengah, sambel + lalaban mentah juga tarok di tengah.

Kalau semuanya lancar, ya gak usah diceritakan toh?

Nah, giliran mau ambil nasi dari panci, lemes dah saya....... tuh nasi kebanyakan banyu (air) jadi benyek persis bubur! Tentu saja airnya kebanyakan, lha temen saya yang ngukur itu orangnya tinggi, dan jari tangannya tentu lebih panjang dari ukuran rata-rata. Waktu dibandingkan, benar saja, ruas jari dia sama dengan 1,5 kali ruas jari saya.

Ya sudah, makan malam kami jadinya bukan 'Bursop' (Bubur Sop Ayam) tapi Bursem - Bubur Sayur Asem.

Anda mau tah?




December 27, 2009

Breakfast@Hotel - Buffet or � la Carte, Anyone?

Masih berkaitan dengan product launching merek Sustagen Junior di Singapore. Yang membuat saya Pertama-X (pertama kali) going abroad. Heboh dah waktu itu, bayangkan, saya membawa 2 lembar acrylic sheet tebal 2 mm utuh, ukuran 120 cm x 240 cm yang digambari merek Sustagen HP dan Sustagen Junior, meniru bentuk kaleng aslinya, dengan ukuran 10 kali lipatnya!

Ini cerita tentang pagi hari pertama, sarapan di hotel.

Satu boss langsung saya [istilah resmi basa Inggrisnya "immediate manager", agak 'aneh', mengapa bukan "direct manager"], tidak ikut dalam rombongan, dia menyusul dan menginap di hotel lain. Tapi, paginya dia bergabung dengan kami, rombongan yang menginap di Holiday Inn - Orchard, pas jam-nya sarapan pagi. Iya-lah, sarapan tentu saja pagi, gak ada dong sarapan siang atau sore, apalagi malam, jeh!

Karena kami berrombongan, mestinya dia ikut makan pun petugas hotel tidak akan mengetahuinya. Satu di antara 100, meski tahu pun tentu tidak akan ditegur, hitung-hitung 'extra bonus' 1% ajah toh?

Tapi, karena kami tidak mau memalukan nama bangsa, tentu saja kami jujur. Jadi waktu boss menghampiri meja saya dan ikut duduk, langsung saya lapor kepada waiter captain-nya yang berdiri di dekat meja kami, dan nampaknya dia sudah was-was, kuatir boss saya mau nyelip makan gak lapor [ini benernya the main reason why saya milih lapor, soalnya sudah diamati sejak boss saya masuk tuh!].

Dan ketika waiter tanya mau buffet or a la carte
, boss saya pilih yang kedua. Katanya, saya makan cuma sedikit, paling secangkir kupi dan egg + toast. Padahal, kalau mau buffet, ada banyak pilihan: mulai dari aneka jus (masih asli, jaman 1989-an, SGD 1 = Rp 1.000-an doang, jeh!), aneka susis, bacon, ham, cheese, egg (poach, scrambled atau sunny side up), bakmi, bubur, nasi goreng, steamed salmon, toast & bread, muffin, kupi or teh, you name it pokok-na mah!

Ya sudah, karena dia mau a la carte, jadi waiter mengambil menu-nya untuk dipilih. Boss saya langsung nyebut pesanannya tanpa melihat lagi daftar menu, sementara sang waiter perempuan yang ceking ramping khas Singapore girl [ kalau sampai OW - over Weight mesti lari keliling satu [utaran di alun-alun tuh!], senyum-senyum penuh arti sambil mencatat pesanan boss saya.

Iseng saya lihat daftar menunya dan perhatikan.

Ternyata, setelah dijumlahkan harga secangkir kupi, setangkep toast + jam + butter + cheese, dan 2 butir telur pilihan anda, harganya sekitar SGD 18
,00 ++ Sedangkan buffet all you can eat dengan aneka pilihan, termasuk kupi or teh, cream + sugar, toast, dan egg, bandrolnya cuma SGD12,00 ++ per pax (per orang). Persisnya berapa saya lupa lagi sih, tapi yang saya ingat harga buffet lebih murah dari a la carte.

Setelah menuliskan pesanan di bill dan selipkan di tempatnya di meja, sang waiter berlalu untuk persiapkan pesanan boss saya. Immediately saya tunjukkan kepada my immediate boss harga yang harus dibayar untuk pesanannya dibandingkan harga untuk buffet.
Immediately juga dia memanggil waiter dan tanya: "Will it take a longer time to prepare my order?", ketika waiter menjawab: Yes. Boss saya bilang: "On the second thought, I am in a hurry. So I'll take the buffet. Is it okay?"

Sebagai waiter yang tunduk pada anjuran, himbauan STPB - Singapore Tourist Promotion Board, tentu saja sang waiter tidak berani bilang "No" kepada kami, wisman - wisatawan mancanegara . Dia cuma senyum lebar saja dan bilang, "It's okay!" sambil mengambil kembali bill yang tadi dia selipkan dan berlalu. Boss saya langsung menuju tempat jus, kupi dan toast, di hadapannya langsung muncul fresh segelas orange juice, secangkir black coffee, sepiring ham & cheese dan bacon goreng garing, scrambled egg + mushroom, dan semangkuk sereal + cold milk.

So, do you care for buffet or
a la carte
?











PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

December 26, 2009

Katanya Singapore Is A Tourist Friendly Country?

My very first time going abroad was to Singapore.

Gak jauh-jauh amat ya? Tapi, itu adalah kebanggaan banget buat saya. Orang udik, kerja di kantor biro adpertensi, seumur-umur, kerja sekitar 12 tahun, baru kali itulah pergi naek montor mabur pake paspor. Ceritanya sih mau launching produk baru, ngumpulin para dealer dan distributor, marketing gathering istilah kerennya sih ya.

Yang paling saya ingat tentulah karena saya tiba di Changi airport pas tanggal 25 Januari 1989. Acara cukup padat, Desember 1988 acara yang sama di Bali, Januari 1989-nya langsung ke Singapura.

Begitu selesai bikin 'pernyataan' - declaration bahwa saya gak bawa barang-barang haram semisal narkoba (mana ada yang berani terang-terangan declare toh kalau pun bawa ya?), saya antri di barisan pemeriksaan paspor - pabean atawa costume, eh custom itu.

Seperti biasa, ndak ada kejadian apa-apa, saya antri, queue istilah di sono.

Satu per satu (ya-iyalah, masak satu per dua, 'kan namanya jadi setengah) orang di depan saya maju, petugas perempuan membaca paspor-nya, melihat orang-nya, dicocokkan antara foto dengan orangnya, siapa tahu salah pasang foto anak-nya toh.

Pas giliran saya, si petugas melihat dari atas kepala saya sampai ke tengah badan saya, sebatas dada, lha, 'kan dibatasi meja cukup tinggi. Dia banding-bandingkan foto saya dengan orang aslinya. Dibaca-bacanya data saya pada paspor, dibalik-balikkannya lembaran paspor saya. Beres. Lalu dia stempel paspor saya.

Saya menunggu dengan sabar, dia lihat muka saya - saya pasang senyum manis, teliti paspor saya - saya perhatikan saja, baca data yang tertera - saya tunggu reaksinya, lihat lagi muka saya - senyum lagi. Lantas dia kembalikan paspor saya setelah dicap, dogh...dogh...dogh!

"Next!" katanya.

Sudah? Begitu sajah tah?

Iya. Mau apa lagi? Next!

Lha, katanya your country is a tourist friendly country, koq cuma begitu ajah sih, jeh?

Ya, lantas mau apa lagi dwong?

Gak baca data saya tah?

Baca.

Nama: Ophoeng. Status: (mesti update dulu di FB). Kebangsaan: Indonesia. Paspornya masih blank. Baru pertama kali ke LN - luar negeri. Apa lagi?

Udah? Begitu ajah?

Ya. Apa lagi dwong?

Hari ini tanggal berapa?

January 25, 1989.

Coba cek kapan saya lahir?

Hehehe......... it's your birthday toh rupanya ya?

Sorry.

Next.

Okay.




So, when and where was your very first time going abroad?

December 25, 2009

Mari Berantem Dengan Baik dan Bener: (5) Jangan Menghimpun Massa, Ah!

Anda sudah tahu sekarang, kalau mau berantem, ya cukup satu masalah saja untuk setiap kali. Jangan bawa-bawa masalah lama yang sudah pernah didiskusikan. Jangan juga menabung masalah. Juga pilih setting waktu dan tempat yang baik.

Sekarang, mungkin ada baiknya anda baca pedoman berikutnya:

Trick ke-5: Jangan Mencari Bantuan.

Ya. Kalau anda berantem ama teman (atau teman hidup) anda, tentu saja mending dibicarakan berdua ajah. Lha, yang tahu masalahnya cuma anda berdua sih, jeh! Ngapain juga anda 'curhat' ke tetangga, temen FB, kontak MP, TTM - Temen Temen Milis. Atau minta bala bantuan dari saudara, rekan kerja di kantor, tetangga kelompok arisan, tukang ojek langganan anda, tukang bakso atau bakmi ayam langganan anda, tukang ayam langganan di pasar, dan entah sesiapa lagi yang menurut anda mau berdiri di sisi anda -0 ikut mengeroyok do'i.

Mereka ndak tahu masalahnya, apa lagi kalau itu teman yang sama dengan teman-teman do'i juga. Anda sudah memberikan pilihan yang tak nyaman bagi mereka: mesti pro anda atau pro do'i dong? Pilihannya sulit toh? Lagipula, mereka cenderung membela anda kalau anda duluan yang curhat, apalagi kalau anda bisa mendramatisir masalah menjadi seolah-olah anda di pihak yang didzolimi, anda emosi, anda membuat do'i seolah pihak yang semena-mena, melecehkan anda.

Walau tentu saja anda bisa saja menemukan teman sejati, yang alih-alih membela anda, berdiri di sisi anda, dia justru memberi anda nasehat untuk lebih bijak, tidak emosi semata. Dia berusaha berdiri di tengah-tengah antara dna vs do'i. Tapi, tentu saja anda yang sedang emosi bisa menganggapnya sebagai 'berpihak' kepada do'i.

Ibarat slogan di kalangan politikus yang bunyinya begini: either you are with me, or against me. Kalau anda tidak pro sini, berarti anda pro sana. Padahal mah pertengkaran anda dengan do'i bukan masalah politik toh?

Buat mereka, kalau tahu anda sedang berantem dengan do'i, mereka seolah sedang melihat dua petarung, misal tinju, di arena. Mereka senang sekali ada tontonan. Tontonan mesti seru, jadi mereka pasti akan bersorak, menyemangati anda dan 'lawan' anda. Makin seru tontonan, makin enak ditonton toh?

Jadi, anda pun makin panas. Makin gencar anda mencari bantuan, semua teman-teman anda di FB, MP, twitter, flickr, dan entah social networking apa-apa lagi di i-net dikirimi japri, YM, atau PM: eh, awas, hati-hati ama do'i ya. Do'i ini begini-begitu, dalam arti seluas-luasnya yang pada pokoknya sih do'i is the bad guy. Kill the bad guy!

Emang anda mau 'membunuh' do'i tah?






PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

IT'S WORLD TIME: