skip to main |
skip to sidebar
Beberapa hari yang lalu, saya makan di satu Resto Seafood yang terkenal dengan semboyannya: "Berharga K-5 tapi (katanya) berkualitas B-5". Bintang lima, maksude.
Ya, jelas ajah harganya harga K-5, maksude murah, lha porsinya mung timbang pas buat 1,5 orang. Maksude, dimakan seorang dhewe agak lebih, tapi dimakan ber-dua koq ya kurang. Lha, kalau kasih yang golongan ekoran, misalnya, alih-alih kasih 2 atau 4 ekor, ini sih kasihnya yang ganjil: 3 atau 5 ekor.
Wis, saya gak mau ngomongin soal makanannya.
Yang saya mau omongin itu soal piring sajinya itu, lho. Terakhir saya makan di situ berdua teman saya, masak dikasih piring saji-nya yang gompel? Katanya kualitas B-5, tapi kayaknya SOP - Stnadrd of Penyajian resto B-5 sih kagak pake piring saji gompel gitu ya?
Nenek saya buta huruf, gak sekolah tentu. Jaman dulu yang penting perempuan bisa masak, bisa jahit dan bisa ngurus rumah tangga, jadi gak perlu sekolah, jeh!
Walau gak bisa baca, gak sekolah, nenek saya tahu kalau menyajikan sesuatu untuk suguhan tamu, pantang memakai pinggan (begitu beliau selalu menyebut piring saji) yang sudah gompel atau retak. Gelas yang 'sumbing' itu pamali disuguhkan ke tamu, katanya. Pinggan gompel, atau retak, kalau dilihat tamu 'kan kelihatan sekali betapa miskinnya kita? Gelas sumbing (ujungnya pecah sedikit) itu malah berbahaya, bisa saja terkoyak bibir oleh gelas sumbing yang tajam itu toh?
Jadi, pinggan dan gelas begitu mesti diapkir, masih bagus nasibnya kalau masih dipakai sebagai wadah minyak lentik jelantah, yang biasa dipakai nenek saya untuk melumuri kaki-nya supaya ndak busikan (bersisik). Atau paling jadi tempat sabun cuci untuk isah-isah (cuci) piring.
Gelas-gelas retak, pernah ada judul novel atau lagunya ya?
Kayaknya sih itu judul cuma kiasan ajah. Merujuk ke hubungan teman, suami-isteri yang 'cacad'. Ibarat gelas-gelas retak dan pinggan gompel, memang susah kalau hubungan anda dengan teman, pasangan anda jadi 'retak' atau 'sumbing' ya.
Memang gelas retak bisa dilem lagi. Hanya saja, sekarang pan ada becandaan di kalangan teman-teman: kalau retak, di 'lem biru' atau 'lem kuning' ajah.
Maksudnya?
Lem biru = Lempar, Beli (yang) Baru dan Lem Kuning = Lempar, Tuku Maning. Maksudnya, kalau sudah retak atau gompel, gelas-gelas dan pinggan itu ya dibuang sajah. Daripada sepet mata melihat tumpukan gelas-gelas retak dan pinggan gompel toh?
Makanya, jagalah baik-baik perabotan di rumah anda, pinggan dan gelas jangan sampai retak. Jaga baik-baik hubungan anda. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga (kata pepatah, emang susu siapa yang segede belanga ya?), sayang sekali kalau sampai gelas-gelas yang semula cantik dan bening tak bernoda, akhirnya mesti diapkir karena retak walau cuma setipis rambut dibelah tujuh ya.
Atau ditukar abu gosok ajah tah?
Sekarang anda sudah tahu bagaimana mulai berantem - dengan baik dan bener. Anda merasa ada masalah, satu masalah, anda ajak teman hidup anda untuk membicarakannya. Satu masalah untuk satu pertemuan. Tidak ada tabungan masalah. Tapi, tetep ajah kita mesti masuk ke langkah selanjutnya ini.
Trick ke-4: Pilih Setting Waktu dan Tempat.
Ya iya-lah, bagai camer - calon mertua yang meverifikasi calon mantu, dicek bibit, bebet dan bobotnya, bagai sutradara drama atau filem yang mengatur setting lokasi, begitu juga kalau anda hendak berantem dengan baik dan bener.
Pilih waktu yang baik dan 'enak' untuk berantem. Pantang mengajak partner anda berantem di tempat umum, di jalan, di bus, di mall, di kereta api, pesawa terbang, di kantor, di halte, terminal, stasiun KA, bandara, pokoknya yang ada orang-orang lain di dekat-dekat anda berdua. Juga pantang berantem di depan teman-teman anda, teman-temannya, boss-nya, orangtua anda, saudara-saudara anda atau orangtuanya, saudara-saudaranya. Urusan anda berdua ya selesaikan saja berdua. Ndak usah sengaja di depan umum supaya ada 'saksi'. Kecuali kalau memang anda lagi shooting pilem, jeh!
Pilih juga waktu yang baik. Jangan pas anda sibuk, atau dia sibuk dengan urusan pekerjaannya, atau mengerjakan hobi-nya.
Masak anda mau berantem ketika anda sedang 'tanggung' memanggang brownies kiju atau mengadoni bahan-bahan cheese cake kesukaan anda berdua - sayang cake-nya, kalau sampai anda lempar ke muka dia 'kan? Atau ketika dia sedang membersihkan bedil-nya untuk berburu celeng - bahaya sangat tuh, salah-salah anda bisa kena dor!
Sesudah makan malam, ketika anda berdua saja, mungkin bisa anda 'undang' dia untuk membicarakan masalah yang menjadi ganjalan anda. Atau buatlah janji dengannya. Sarana telekomunikasi sudah begitu canggih, anda bisa tulis pesan lewat SMS, atau PM, atau BBM?
All the gadget is already there for you to utilize.
Jadi, kapan mau berantem nih?
PS: gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.
Di "Mari Berantem Dengan Baik dan Bener (1)", ada teman kita, Ibu Tio kasih komentar begini:
"kadang orang berantem sebetulnya karena masalah terpendam lama....jadi sambel terasi cuma jadi pemicunya saja...masalah sebenarnya bukan di sambal terasi, tapi karena sambel terasi bikin mood tambah jelek, jadi berantem deh :D"
Jadi mari kita masuk ke......
Trick ke-3: Jangan Sesekali Nabung Kekesalan.
Ada lagu lama "Bang, Bing, Bung... Mari Nabung!" yang menghimbau kita menabung (uang) di bank. Waktu jaman deposito berbunga tinggi pasca Krismon - Krisis Moneter 1998 (disusul HHN - hura-hura nasional), bunga bank bisa menawarkan 100% per tahun, mungkin bagus bagi anda yang boleh menerima bunga bank sebagai side income.
Kalau uang ditabung, berbunga atau pun tidak, is oke for you. Buat cadangan pas perlu uang toh. Tapi, kalau anda 'menabung' masalah, menabung kekesalan, menabung kemarahan, kayaknya sih sangat tidak baik dan tidak sehat sekali bagi anda - dan bagi teman hidup anda.
Begitu ada pemicunya, seperti kata Bu Tio, 'cuma' gara-gara sambel kurang sedep terasinya, atau gara-gara terlupakan ndak kebagian handuk promosi, yang mestinya sih bukan hal besar-besar sangat, tapi karena sudah banyak menimbun kekesalan, kemarahan, maka meledaklah anda tiba-tiba.
Boooom! Just like that!
Ada masalah, kekesalan, kemarahan ttg satu hal, bicarakan saja satu hal itu saja, seperti sudah disebutkan di Trick ke-1. Lalu, setelah selesai dibicarakan, sama-sama merasa puas, lihat Trick ke-2. Jangan sesekali menabung - menunda membicarakan masalah anda dengannya, apalagi menimbunnya - bisa beranak-pinak nanti!
Akibatnya? Anda bisa meledakkan diri dan teman anda. Kalau sudah meledak, yang rugi, hancur-lebur tentu diri anda sendiri dan.... orang yang dekat dengan anda.
Kayak bom bunuh diri ajah gitu, jeh!
Baca berita gembira ttg teman kita, Anne di sini, saya langsung ingat waktu pertama kali nyonyah hamil dan mengidam.
Kata pakar perngidaman (ada ilmunya tersendiri ya?), mestinya ada korelasi antara wanita hamil yang ngidam makan sesuatu, dengan kebutuhan jabang bayi bagi pertumbuhannya di dalam kandungan.
Misal, kalau jabang bayi membutuhkan zat kalsium, kapur, tentu saja dia gak bisa bilang terus terang kepada ibunya: Bu, minta tablet kalk atau yang kudu dicemplungin ke dalam air jadi bersoda itu. Jadi melalui 'mind reader' di bawah sadar si ibu, maka dikirimlah sinyal-sinyal khusus ke CPU - Central Processing Unit ibunya di kepala, dan si ibu lantas tiba-tiba saja pengen makan..... kapur tembok!
Itu sekedar contoh saja, kalau butuhnya zat besi, apa lantas sang ibu jadi pengen makan paku ya? Hehehe...... kalau paku hutan aka pakis sih masih mayan, enak tuh dicah pakai belacan juga.
Nah, waktu nyonyah saya hamil anak pertama kami, sekitar Januari 1985, Jakarta jaman-nya masih serba sederhana. Lalu lintas belumlah secanggih macetnya seperti sekarang. Belum ada busway, belum musim banjir entah 3 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan. Paling banjir lokal di langganan lama di kawasan Deplu - Pondok Pinang dan kompleks IKPN - Bintaro itu, saya ingat persis sebab ada (alm) boss saya yang rumahnya di Kompleks IKPN, suatu hari siang-siang bolong panas terik, tiba-tiba saja di telepon dari rumahnya yang mengabarkan bahwa rumahnya kebanjiran tuh!
Jajanan juga belumlah seramai sekarang, di mana-mana bisa ditemui food court dengan aneka makanan, baik dari mancanegara model fried chicken ataupun makanan daerah seperti bebek goreng, pecel lele begitu. Yang jual gado-gado juga tidaklah sebanyak dan sengayah sekarang bertebaran di mana-mana saja.
Entah ada zat apa yang diperlukan calon anak pertama kami, tapi nyonyah tiba-tiba sajah sore-sore pengin makan gado-gado, yang dijual abang-abang itu.
Kalau pas hari biasa, pagi, mungkin tidak masalah dia minta gado-gado ya. Tapi ini menjelang sore, hari Minggu pula. Ke mana saya mesti mencari gado-gadonya? Anda tahu toh kalau gado-gado di Jakarta pan makanan pagi sampai siang ajah.
Jadi saya keliling seluruh Jelambar, Jakarta barat, naek Daihatsu Charade inventaris kantor. Masuk-keluar jalan kecil, yang disinyalir merupakan tempat mangkal tukang gado-gado. Tapi, tidak ada tuh! Semua orang yang ditanya, tukang-tukang becak - belum dilarang beroperasi waktu itu, juga tidak ada yang tahu. Ada satu dua tempat memang menjadi tempat mangkal tukang gado-gado, tapi sudah tutup sejak siang sekitar pukul 13:00
Cilaka dah! Masak anak pertama kami nanti mesti ngences terus ya?
Akhirnya saya putar-putar lagi, sampai ketemu di satu jalan kecil entah di kompleks perumahan apa, masih dekat-dekat Jelambar situ, masih ada satu ibu-ibu yang buka kedai gado-gado di rumahnya. Tanpa banyak cingcong langsung saya pesan seporsi dan bawa pulang dengan senangnya.
Nyonyah sudah agak-agak manyun menunggu kurirnya mencari gado-gado. Syukurlah dia tersenyum sumringah melihat saya turun dari mobil bawa satu bungkusan dari daun pisang, jaman itu belum begitu musim gado-gado dibungkus kertas berplastik sih.
Begitu dibuka, dia langsung makan sesuap, lontong + sayur yang berbumbu kacang itu. Sesuap? Ya, hanya sesuap dan......... selesai sudah!
Sudah? Iya. Sudah. Cuma kepengen cium baunya dan rasakan sedikit rasanya saja, jeh!
Ya sudah. Akhirnya saya juga yang mesti menjadi recycle bin menghabiskan gado-gado yang biasa-biasa saja rasanya itu. Dalam hati sih rasanya bagaimana gitu, tapi biarlah dari pada anak saya kelak ngences (berliuran) toh? Baguslah ternyata kemudian si Koko tidak ngences.
Jadi, waktu hamil dulu, anda ngidam apa ya?
PS: Gambar ibu hamil diambil dari MS Office ClipArt media file.
Judulnya minjam sebait syair siapa itu ya, sorry, lupa lagi: "Sekali Berarti, Sudah Itu Mati!" Ibarat lilin yang memang dibuat untuk mengurbankan diri, sekali berarti (menyala) sudah itu mati (habis - menguap bersama udara).
Trick ke-2: Sekali Diributkan, Lantas Selesai Sudah.
Ya. Ibarat lilin yang habis terbakar, begitu juga dengan kemarahan anda. Anda kesal karena dia membuat sambal terasa cemplang, kurang sedep, keasinan, ndak gurih kecapnya, gak pedes. Ya keluarkan semua kekesalan anda ttg sambal itu. Boleh saja anda rame berantem dengan do'i. walau mungkin cuma masalah sepele, biarkan saja keluar semua uneg-uneg anda. Kekesalan anda, berdua saja. Jangan ada orang lain, pihak ketiga atau sesiapa saja.
Biarkan juga dia menampung kekesalan anda, biarkan dia jelaskan mengapa beli terasi-nya bukan yang di langganan yang biasa beli (anda kurang kasih uang belanja?), mengapa sendok garam yang kecil itu diganti yang besar (sudah berkarat 'kali?) dan kecapnya koq ganti yang kenthel manis doang gak gurih (supply Cap Matahari belum tiba dari Cirebon), juga koq cabenya gak pedes (musim penghujan jadi kurang SHU - Standard Heat Unit-nya, larut bersama air hujan).
Kalau sudah dikeluarkan semua, dan anda selesai dengan kemarahan anda, kekesalan anda, ya sudah. Kalau besok ada hal yang ingin anda jadikan 'topik' bertengkar, ya carilah topik baru. Tentang sambel gak usah diungkit-ungkit lagi, selama-lamanya.
Persis kayak adegan yang sering anda lihat di film-film barat itu, adegan pernikahan di depan altar gereja, sebelum resmi menjadikan sepasang suami isteri, sang pastur atau pendeta akan bertanya kepada hadirin: adakah di antara anda yang keberatan atas pernikahan ini? Kalau tidak ada ya sudah, janganlah hendaknya ada yang protes di kelak kemudian hari.
Case Closed, EOD - end of discussion about this silly chili paste. Let's discuss about some other brand new topics, once at a time, one step at a time.
So, let's discuss - not to argue, apa lagi kalau just an argue like horse cart chauffeur - itu lho, debat kusir, yang katanya cuma mau menang dhewe. Jadi kalau anda bilang sambel buatan dia gak enak, anda mesti tahu dong unsur-unsur apa yang bikin gak enak, jelaskan, diskusikan untuk perbaikan selanjutnya.
Anda toh mesti hidup berdampingan dengan dia terus, entah sebagai teman kerja, TTM - teman-teman milis, teman hidup. Jadi, kalau anda sudah mendiskusikan dengannya, dia punya kesempatan ke-2 untuk memperbaikinya dong.
Cukup fair toh? Anda kesal karena sambalnya gak enak, anda kasih tahu dia, dia mendapat kesempatan ke-2 untuk memperbaikinya, menguleg lagi sambal yang lebih sedep, lebih enak. Anda puas sudah mengeluarkan uneg-uneg anda langsung kepadanya (jangan curhat ke sembarangan orang!), dan dia pun puas karena tahu kesalahannya di mana, dan....... yang paling penting: bisa memperbaikinya.
Win-win solution, mungkin begitu istilahnya ya?
PS: Gambar diambil dari MS office ClipArt media file.
Waktu akhirnya saya memutuskan berhenti kuliah setelah tiga tahun (anggarannya cuma timbang pas untuk 3 tahun), dapat gelar sarjana muda - supaya teuteup muda terus sampai tuwa sekalipun, saya coba-coba jadi penerjemah artikel, free lance - biar bebas merdeka toh?
Mulanya sih iseng ajah. Pas dapat langganan gratisan majalah ttg remaja dan keluarga dari Filipina (lupa judul majalahnya), jaman itu, belum banyak majalah gratisan, jadi rasanya koq gimana gitu, bangga kerana terpilih jadi pelanggannya (cuma beberapa yang dapat majalah itu di kampus) dan senang karena gratisnya itu, terutama ya!
Ada satu artikel menarik di satu edisi majalah tsb, lupa lagi judulnya, tapi sekilas ingat isinya.
Sebab saya berhasil mengirimkan terjemahan artikel itu ke majalah Femina dan Gadis, tapi berhasil dimuatnya cuma di Gadis. Sampai sekarang saya ingat dapat honornya Rp 5.000 yang waktu itu sih ya lumayan besar juga - ayam goreng Ny. Suharti, seekor kayaknya baru sekitar Rp 1.750, gaji saya pertama kali kerja ajah, 1977, baru Rp 50.000 - cuma seharga sepasang sepatu Bally doang tuh, jeh!
Intinya sih ttg berantem - yang baik dan bener.
Pedoman berantem yang baik dan bener di antara pasangan remaja yang masih tahap pdkt dan kelak kalau sudah menikah - makanya saya heran koq cuma dimuat di Gadis ajah ya?
Jadi, ada 10 Tips & Tricks Berantem, bagaimana anda bisa berantem dengan pacar atau pasangan anda, berantem yang bukan untuk lantas patah arang dan bubar balik kanan jalan, tapi berantem yang sehat, yang baik dan benar supaya hubungan anda tetap baik, bahkan lebih baik sesudahnya.
Kenapa si penulis bilang dan bahkan menganjurkan anda untuk berantem?
Sebab katanya berantem dalam kehidupan itu tidak bisa dihindari. Baik antara sesama pasangan yang dalam tahap pdkt (pendekatan), sudah menikah, bahkan juga antara dua orang kawan - yang bukan mengarah ke perkawinan sekalipun.
Berantem itu proses untuk menuju hubungan yang lebih baik, dan lebih sehat. Sebab berantem itu sebenernya tanda-tanda care, perhatian, sayang, bahkan... cinta, jeh!
Anda toh tak mungkin berantem dengan teman seperjalanan atau cuma kenal selintas kilas di pertemuan bisnis misalnya, bukan?
Yang saya ingat, antara lain:
(1) Fokus Pada Satu Topik atau Inti Masalah.
Jangan OOT - out of topic. Kayak di milis ajah, kalau OOT 'kan anda bisa kena banned.
Maksudnya, kalau anda kesel dan pengen berantem gara-gara soal sambel yang diuleg pasangan anda, ya berantemlah pada topik ini saja, one step at a time, selangkah demi selangkah, satu topik saja untuk satu sesi berantem. Jangan merembet-rembet ke topik lain.
Misalnya, bilang dong bahwa terasinya kurang sedep, cabenya gak pedes, garemnya kebanyakan, gulanya lebih enak pake gula Jawa, kecapnya juga enakan pake Cap Matahari.
Jadi pasangan anda juga fokus ke masalah sambel ajah, dia bisa mempertahankan 'disertasi'nya cukup ttg sambel ajah - bikin PR-nya juga lebih gampang toh. Lantas, setelah sesi berantem selesai, dia bisa mengoreksi cara dia menguleg sambel yang lebih enak, ada perbaikan ke arah yang lebih sedep, yang lebih pas di lidah anda. Hasilnya 'kan jadi baik bagi anda berdua tuh, jeh!
Jangan anda marah dan kesel soal sambel, tapi lalu anda merembet ke masalah lain, misal karena anda ndak kebagian matoa gara-gara dia cuma bawa 5 bungkus untuk 5 orang teman, dan gak nyangka akan bertemu anda waktu kopdaran kemaren.
Di samping itu sangat 'lucu' - sangat OOT toh, lha anda gak kebagian bukan berarti dia gak perhatian ama anda lho, semata memang gak nyangka bakal ketemu anda di antara teman-temannya, lha emang dia dan anda gak janjian ketemu toh?
Juga, kan kasihan dia kalau anda marahnya gara-gara sambel, tapi koq tiba-tiba anda bilang: kenapa gua gak dibagi matoanya? Berarti kagak care ya? Lha, apa hubungannya dong, sambel ama matoa? Kan dia lagi mempertahankan 'disertasi' ttg sambel yang menurut anda gak enak. Gak enaknya kenapa, dia sudah siap-siap kasih jawaban dan siap mencatat 'kritik' anda toh.
Jadi, anda kesel soal sambel atau matoa sih?
PS: saya akan lanjut kalau dah ingat lagi topik berikutnya ya. Moga-moga saya ingat semua kesepuluh topik itu.
Baca posting teman kita, Bung Cahyo W. (Sony?) di sini, ttg 'jajamal' - jajan-jajan malam di Sukabumi (jaman hwa-hwee tahun 1970-an, kalau anda mimpi ke Sukabumi, atau ada hubungan dengan orang mati yang 'suka bumi', anda mesti pasang nomernya 70 dan 07, sebab itulah 'terjemahan' arti mimpinya), saya jadi ingat ketika jaman jalan tol Jagorawi masih sepi, sekitar tahun 1980-an.
Moga-moga ajah anda sudah pada lahir ya, jadi bisa membayangkan cerita ini dengan lebih intens.
Jadi ketika itu ada temen sekantor yang lagi pdkt ama anak Bogor (rela tekor asal kesohor?), jadi suka minta saya menemani untuk ngapelin dan ajak lanjut rekreasi ke.... Taman (Bebek) Angsa di Sukabumi. Yah... gak persis di Sukabumi-nya sih, tapi deket-deket situlah, sebelum masuk perbatasan resmi kota Sukabumi-nya situ-lah.
Sepanjang jalan itu banyak sekali yang jualan........ rujak bebek! Selang beberapa ratus meter, dari sekitaran Taman Angsa, sebelumnya dan sesudahnya, arah ke kota Sukabumi itu, ada saja barang satu-dua pintu warung yang pasang signboard cukup mencolok: Sedia Rujak Bebek.
Waktu anak-anak kami dah lahir dan mulai masuk TK dan PG - sekitar 1990-an, ada satu engku (paklik, oom, paman - adik lelaki mama) saya yang mukim di Sukabumi, jadi saya suka ajak nyonyah dan anak-anaknya bertandang ke sono, entah menginap barang semalam dua, atau pulang hari, dan selalu melewati warung-warung Rujak Bebek itu sepanjang jalan, masih sajah berjualan di situh!
Dan, warung-warung Rujak Bebek di sepanjang jalan Bogor-Sukabumi itu, sudah lama buka, jauh-jauh sekali sebelum trend musim makan "bego" - bebek goreng yang konon diperkenalkan oleh arek Serbejeh (seperti halnya juga pecel lele) di jakarta, sebelum kedai-kedai 'bego' pada buka di mana-mana, berlumba-lumba menarik perhatian prospek pelanggan, sampai-sampai muncul isyu miring bahwa agar supaya bebek-nya empuk dan gak bau prengus (kayak wedhus tah ambune, koq prengus to?), mereka merebusnya pake obat pusing kepala yang biasa diposisikan untuk dimakan manusia. Koq? Tapi, mestinya emang bener sih, tu bebek pasti pada mabok pusing kepalanya, lha mana enak sih jadi bebek yang disembeleh, lalu dipotong-potong, dikuliti, dibumbui, lalu direbus mentah-mentah, jeh!
Jadi, sekali waktu saya penasaran, mampir mau nyobain tu Rujak Bebek rasanya kayak apa. Saya selama ini tahu-nya rujak kalau di Cirebon ada macam-macam: rujak janganan, rujak uleg, rujak manis, rujak donggala, rujak sambel asyem, rujak pace (mengkudu), baca ajah di sini (belum disambung link-nya, sorry).
Tapi yang namanya Rujak Bebek ya baru kali itu tahu. Dan saya yakin anda juga baru sekali ini baca cerita di blog Multiply di internet ttg Rujak Bebek, ta iye?
Nah, anda tahu Rujak Bebek itu kayak apa?
PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.