January 29, 2010

Susu Kuli - Obat Kuat Khusus Lelaki, Jeh!

Lupa lagi tahun berapa itu, pernah beredar gencar di mana-mana saja, selebaran dan gosip ttg susu kuli, yang jual juga bermunculan di mana-mana. Katanya berkhasiat untuk mengobati aneka macam penyakit.

Dan, yang terutama adalah katanya susu kuli is very very good sebagai obat kuat khusus lelaki. Obat kuat bukan sembarang kuat, tapi bisa bikin lelaki letoi menjadi gagah perkasa, walau cuma semalam doang. Masih mending toh, daripada gak sama sekali.

Susu kuli-nya juga buka sekedar kuli biasa, tapi itu akronim dari kuda liar.

Kuda liar, anda tahu toh bagaimana perangai kuda liar? Gak bisa dikendalikan, bahkan oleh seorang koboi tua berjam terbang puluhan tahun yang biasa menjinakkan kuda liar di arena prodeo, eh, rodeo ding! Katanya itu susu diperah dari kuda liar. Yang tidak pernah dijamah oleh orang. Jadi memang anda mestilah percaya bahwa susu-nya benar-benar hebat.

Cuma saja. Entah mengapa cerita ttg khasiat susu kuli cuma sebentar doang, lantas terbang bersama angin lalu begitu saja. Para pengedar reseller-nya juga akhirnya pada menghilang begitu saja.

Lha, jelas ajah orang susah diyakinkan kebenaran akan susu kuli ini. Pertama, kalau memang itu kuda liar, yang katanya tidak pernah dijamah orang, bagaimana cara orang memerah susunya coba ya? Kalau pun ternyata kemudian kuda liar-nya mesti dijinakkan dulu, namanya tentu bukan kuda liar lagi toh ya?

Anda pernah minum susu kuli tah?







PS-1: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.
PS-2: Sorry, no offense buat para reseller dan bekas reseller susu kuli ya.

January 28, 2010

Nguber Layangan Putus.

Anak-anak sekarang mungkin patut dikasihani. Gak bisa menaikkan layang-layang toh? Padahal, maen layang-layang itu melatih ketangkasan berstrategi, mesti pandai membaca arah angin. Tarik ulur tali layang-layang ndak bisa sembarangan, mesti belajar dulu. Ada ilmunya. Belum lagi membuat gelasan tali atau benang layang-layang, itu ada formula resep rahasianya tuh, jeh!

Supaya layangan anda ndak disangkut oleh 'lawan', anda mesti pasang buntut di ujung bawah layang-layang, dibuat dari kertas panjang selebar sekitar 50 mm, dilem saja ke ujung bawah layang-layang. Panjangnya terserah selera sajah, makin panjang makin baik.

Kode etik pemain layang-layang adalah dilarang menyangkutkan benang ke layang-layang yang pakai buntut begitu. Buntut itu tandanya masih 'amatir', masih belajar. Masih anak bawang begitulah, masak anak bawang ditantang adu tali layang-layang yang bergelasan itu. Lha, benang yang biasa dipakai para amatir sih cukup benang (cap) Jagung, tidak pakai gelasan, sekali tebas juga putus tuh!

Nah, kalau layang-layang beradu, tentu ada pihak yang 'kalah' dan putus tali-nya. Dan, mestilah layang-lyang putus tali itu terbang melayang dibawa angin ke mana saja. Ada banyak anak-anak yang suka menguber layang-layang putus. Biasanya sih cuma anak-anak kampung saja yang mau bersusah payah menguber layang-layang putus tali tak bertuan itu.

Siapa saja yang bisa menangkap layang-layang tak bertuan, menjadi pemiliknya secara sah. Cukup anda sentuh layang-layangnya atau talinya yang berjuntai ke tanah ketika melayang-layang begitu, maka anak-anak lain tidak akan berusaha merebutnya.

Kalau yang 'pro' sih akan membawa galah bambu (adu panjang) yang ujungnya diikatkan serumpun ranting-cabang pohon untuk melibat benang atau tali layang-layang yang sedang terbang mendarat tak tentu arah itu. Makin panjang tentu makin tinggi dan makin besar kemungkinan menggapai dan melibat tali layang-layangnya toh?


Namanya anak-anak, tentu saja ada yang berusaha curang. Jadi perebutan layang-layang putus sering berakhir dengan adu jotos. Dan... layang-layangnya dirobek-robek karena saling ndak mau ngalah. Patah sudah tulangnya, tak lagi bisa dipakai.

Sekali waktu, koko saya penasaran ama layang-layang miliknya sendiri yang kalah ketika adu tali. Jadi, begitu putus, dia menguber itu layang-layang. Tentu saja mesti berebut dengan anak-anak lain. Nah, pas tu layang-layang nyangkut di pohon mangga di halaman Losmen Semarang di depan jejeran toko tempat tinggal kami, koko saya dengan sigap naik ke atas pagar tembok dan berhasil mendahului anak-anak kampung yang berusaha melibat benang dengan galahnya.

Karena ada begitu banyak anak yang berebutan, ketika koko saya turun dari pagar tembok, dia ndak melihat ada satu botol bekas limun yang dipakai untuk membeli minyak lentik (minyak kacang) tergeletak dekat tembok. Jadi, tentu saja botol itu tersenggol kakinya dan tumpahlah isinya. Rupanya ada satu anak kampung yang ikut berebut layang-layang, padahal dia sedang disuruh ibunya beli minyak di Pasar Pagi di dekat situ.

Tentu saja anak itu minta ganti.

Koko saya ndak mau menggantinya, juga anak-anak lain mendukung koko saya sebab salah anak itu sendiri kenapa meletakkan botol berisi minyak di dekat lokasi perebutan layang-layang, dan ikut berusaha berebutan. Anak itu tentu saja pucat pasi dan menangis, takut dimarahi ibunya.


Baguslah papah saya tahu hal ini, saya diminta memanggil anak itu dan ditanya. Lalu papah saya menasehati anak itu supaya jangan lagi ikut berebut layang-layang putus kalau sedang disuruh oleh ibunya. Lantas ditanyanya harga sebotol minyak berapa, langsung papah saya memberinya uang untuk beli minyak sebagai gantinya.

Dulu anda main layang-layang juga-kah?










PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

Iseng (Don't Do This At Home) - Mengagetin Kuda Per.

Setting waktu sekitar 1965-an. Saya masih SD. Tinggal di rumah ema (nenek) saya yang dekat ama sekolah saya, SD THHK - Tiong Hoa Hwee Kwan, di kampung Keprabonan - ada unsur kata 'prabu' - prabon, sebab memang di situ ada rumah-rumah para ningrat bergelar elang.

Pas libur sekolah. Teman-teman saya anak tetangga yang sebaya suka iseng. Semua permainan sudah kami lakukan. Nangkep kinjeng pake getah kayu jaran (kuda), tulupan (sumpitan) dengan 'peluru' lempung, maen rok umpet (petak umpet) dan lain-lain.


Suatu hari, kami serombongan sekitar 8 orang anak-anak, entah siapa yang punya ide, meminta ban dalam bekas becak yang sudah tidak lagi terpakai kepada tetangga kami yang punya becak. Ban itu kami potong jadi membentuk selang. Beberapa buah ban kami sambung. Lalu ujungnya kami isi tanah kering sampai kira-kira setengah badan ban.

Lalu kami tarok di jalan raya, dengan ujung berisi tanah kering di jalan dan ujung satunya ada di tempat sembunyi kami: pagar tanaman bluntas di halaman rumah orang.

Sasaran kami adalah per - ini nama untuk delman berroda dua yang ditarik kuda di Cirebon, entah dari mana diambilnya nama itu. Kemungkinan besar sih dari pelat baja yang dipakai sebagai per daun untuk memberi sedikit kenyamanan penumpangnya ketika terguncang-guncang roda berban mati-nya masuk lubang di jalan.

Begitu per lewat dan kudanya mendekati ujung ban, seorang di antara kami yang paling besar dan kuat meniup lubang ban, sehingga tanah kering di ujung satunya lagi berhamburan. Tentu saja sang kuda terkaget-kaget mendapati tanah kering berdebu di depannya tiba-tiba saja menghambur begitu.

Kuda yang kaget tentu saja meringkik-ringkik sambil mengangkat kaki depannya. Baguslah sang kusir cekatan menahan tali kekang, walau agak repot juga tapi akhirnya sang kusir bisa mengendalikan kuda supaya baik jalannya. Jadi, jalannya tetap saja tuk-tik-tak-tik-tuk-tik-tak-tik-tuk.... suara sepatu kuda! [theme song: Delman atau Tamasya?]


Sang kusir tentu saja marah kepada kami.

Tapi sebelum sang kusir berhasil meredakan kekagetan sang kuda dan dirinya, kami sudah lari berhamburan menyelamatkan diri. Malamnya rumah kami didatangi Pak RK - Rukun Kampung yang dilapori kusir per karena rumah Pak RK memang di ujung gang, satu per satu kami dinasehati supaya tidak lagi mengulangi perbuatan nakal dan membahayakan kusir dan penumpang per itu.


Engkong saya marah besar kepada saya, saya disetrap mesti membelah kayu bakar dan menjemurnya. Ema yang baik hati, menyuguhkan secangkir kaleng besar kupi kedoyanan engkong, kumplit dengan bubui sampeu favoritnya tentu, yang langsung saja diserbu engkong yang segera masuk ke dalam rumah. Lalu ema saya minta kenek engkong buru-buru membelah-belahi kayu bakar, dan saya cukup menjemur dan menatanya kemudian.

Ema memang selalu baik sih ya?








PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

Bubur Sakit.

Saya ndak begitu suka bubur. Soalnya bubur itu identik dengan sakit. Kalau cici atau koko saya sakit, waktu masih kecil, ema saya akan minta saya beli bubur di RM Ketjil di kawasan Pasar Kanoman [ada satu RM Ketjil juga di kawasan Jl. Karanggetas, tapi gak ada hubungan], Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Dari rumah ema ke rumah makan itu kira-kira berjarak 1 kilometer. Tentu saja cukup berjalan kaki saya ke sana. Bawa rantang berbungkus kain serbet bersih sebagai wadah untuk take out makanan. Jaman itu belum musim plastik untuk membungkus makanan. Kain serbet bersih dibungkuskan untuk membawanya, jadi bubur panas tidak terasa panas, cukup memegang bagian simpul ikatan serbet saja.


Buburnya bukan bubur polos yang mesti dimakan dengan lauk-pauk dan sayur mayur ala dimsum, tapi bubur yang dimasak bareng lauknya. Biasanya sih bisa pilih mau daging babi atau ayam. Ditambah sayur seadanya semisal bawang daun dan entah apa lagi. Sebagai 'finishing touch'nya diceplokkan sebutir telur ayam di atasnya sebagai topping. Oleh karena hawa panas si bubur yang dadak masak, biasanya tu telur akan menjadi setengah matang ketika tiba di rumah.

Sakit apa ajah, mestilah ema saya suruh belinya bubur di rumah makan itu, jeh!

Ema saya biasanya berhemat, uang belanja dari engkong kayaknya timbang pas. Maklumlah, engkong saya tukang kayu gurem pembuat perabot rumah tangga, cuma terima uang kalau ada yang pesan minta dibuatkan apa saja keperluan rumah. Papah saya yang menitipkan 3 orang anaknya, satu cici, satu koko dan saya sendiri, kayaknya ikut membantu uang belanja yang sekedar cukup bagi kami bertiga saja.

Tapi, kalau ada yang sakit, ema akan minta saya beli bubur bertopping telur ayam ceplok. Mungkin karena khasiat si telur ayam kampung itu (belum 'musim' telor ayam negeri pada masa itu sih) ditambah protein dari daging yang dimasak bersama bubur, biasanya penyakit lekas hilang tuh. Itulah sebabnya saya gak doyan bubur sakit itu. Bukan buburnya yang saya gak doyan, tapi sakitnya itu lho!

Anda suka bubur tah?


January 26, 2010

(Internet) Life is Like Setampah Kue Jajan Pasar.

Setampah kue jajan pasar tiba di rumah saya pagi ini. Dikirimkan oleh kurir dari toko kue yang menerima pesanan dari seorang SMP - Sohib Multiply saya untuk HUT saya kemaren. Isinya kue-kue mungil serba sa-emplukan, ada risoles, semar mendem, dan entah apa lagi.

Setampah kue-kue serba sa-emplukan, one bite size, bagai sekotak coklat yang diperoleh Tom Hanks di film Forrest Gump. Dia berujar: Life is like a box of chocolate. Hidup bagaikan setampah kue jajan pasar, katanya. Anda tidak pernah tahu apa yang akan anda dapat.

Seperti halnya coklat yang ada center fill-nya, berisi sesuatu yang tidak anda ketahui kalau tidak anda gigit dan kunyah coklatnya. Begitu juga dengan setampah kue jajan pasar. Kalau anda tidak mengenali kue itu, anda tidak tahu bagaimana rasanya. Maniskah? Asinkah? Gurihkah?

Bahkan kalau anda pernah terpapar kue yang sama, belum tentu rasa dan teksturnya sama. Bahan-bahan, bentuk, aroma kue yang bernama risoles, mestinya sudah ada pakem-nya, standar-nya, supaya tidak membuat penikmatnya misleading, salah arah. Tapi, di tangan juru masak aka koki aka chef (arti yang sama, tapi nampaknya sekarang mereka lebih suka menyebut diri dengan 'chef' - bacanya [syef]) yang berbeda-beda, tentu saja menghasilkan rasa dan tekstur yang berbeda-beda pula. Nama boleh sama, tapi kalau tidak anda coba dan rasakan, mana bisa anda tahu?

Setampah jajan pasar bisa dengan mudah anda beli di pasar, makanya disebut kue jajan pasar toh. Harganya bisa berbeda-beda tergantung siapa yang membuat dan dijual di mana. Tapi, setampah jajan pasar sebagai tanda perhatian, yang dikirimkan oleh SMP anda, tentu saja maknanya jauh berbeda. Ada makna yang jauh lebih bernilai dibanding harganya, meski anda bisa membelinya sendiri di pasar.

Menikmati setampah jajan pasar di rumah, bagai Forrest Gump menikmati sekotak coklatnya. Satu per satu babak kehidupan bisa muncul di 'layar' flash back anda. Kalau jaman SM - snail mail, mungkin Forrest Gump mesti mengalami bertahun-tahun perjalanan hidupnya, tapi ini abad IT - information technology, bung!

Jaman serba cepat, serba instant.

Jadi, terbayang di depan saya flash back yang begitu cepat ttg teman dan 'teman' saya di internet. Tentu saja seperti dunia nyata, ada yang baik dan ada yang 'baik'. Ada yang empuk, lembutm, ada yang renyah, garing. Ada yang manis, ada yang asin, ada yang gurih, eh, ada juga yang mengejutkan: risoles-nya berisi cabe rawit utuh yang rupanya ditekan terlalu kuat sehingga masuk tersembunyi di dalamnya tuh!


Internet memang seperti setampah kue jajan pasar ya?



January 23, 2010

Banana Split - My Favorite Dessert, Jeh!

Waktu saya bekerja di satu perusahaan kayulapis, ngatornya masih di HWI - Hotel Wisata Internasional. Tu hotel, katanya sih semulajadi hendak dijadikan perumahan karyawan, semacam asmara, eh, asrama karyawan HI - Hotel Indonesia. Tapi, setelah jadi, ternyata strategis lokasinya di kawasan Thamrin, maka dijadikan hotel dan perkantoran, juga restaurant - sekalian sebagai semacam sekolah bagi para waiter magang, sebelum jadi waiter resmi di hotel 'abang'nya, HII - Hotel Indonesia Internasional. Jaman itu nampaknya mereka senang sekali memakai embel-embel 'internasional' atau disingkat int'l ini.

Perusahaan tempat saya kerja itu, merupakan kongsi antara pemerintah (BUMN) dengan swasta - lokal dan internasional. Ada partner asing dari Singapura dan teknisi dari Taiwan.

Kalau boss saya yang dari Singapore datang, kami para staf (cuma 5 orang) senang sekali, beliau adalah yang kasih saya uang untuk beli baju itu lho, baca di sini. Kami senang sebab kami akan diajak makan siang di restaurant yang ada di lantai dasar di HWI itu. Biasanya boss besar ada di Jakarta 2-3 hari, dan di hari terakhir, biasanya khusus mengajak kami makan siang.

Biasanya, kami pilih menu ala carte.

Tentu saja pilihan kami berbeda-beda, walau satu tujuan jua: cari yang enak dan unik yang tidak pernah kami makan dengan bayar sendiri, tentu. Kalau saya sih suka sengaja berganti-ganti menu yang saya pilih, setiap kali boss besar datang. Dan, kayaknya hampir satu selera, kami selalu memesan dessert-nya.......... banana split!

Banna split itu berupa pisang yang dikupas kulitnya, suka ada yang masih disisakan sedikit untuk alasnya, lalu diiris memanjang sekujur panjang tubuh sang pisang, biasanya sih pisang ambon yang cukup besar dan panjang, lalu ditarok di piring saji atau wadah khusus berupa stainless steel bertangkai, dan di antara celah-celah kedua irisan pisang itu, dionggokkan 3 sendok scoop es krim yang berbeda-beda rasanya: stroberi, soklat dan panila. Masih ada topping berupa krim yang dibentuk seperti kerucut berulir macam rumah siput itu, dan sebutir buah ceri merah bertangkai ditarok di ujung krim tsb., masih ada siraman saus coklat (bukan SKM - susu kental manis rasa coklat, lho!) di sekujur es krim dan pisang, dan sebagai finishing touch: masih disiram remukan aneka kekacangan, kacang tanah, kacang menthe, kacang almond dan... kacang panjang, hehehe.... yang terakhir mah cuma iseng ajah saya tambahi ketikannya tuh!

Selesai makan, biasanya barulah kami minta pesanan dessert dihidangkan. Rasanya nikmat sekali menikmati sesuap demi sesuap es krim di celah-celah pisang. Gaya maka kami berbeda-beda, ada yang lebih suka menghabiskan dulu semua es krim-nya, baru kemudian pisangnya dimakan. Ada yang satu sendok es krim disuap, lalu disusul sekerat pisang. bagaimana pun gayanya, kami semua sama-sama menikmatinya dengan benar-benar.

Jangan bandingkan keadaan waktu itu dengan sekarang, waktu itu tahun 1982-an, belum banyak resto yang aneh-aneh dan cakery yang unik-unik atau ice creamery cantik dan aneka rasa berbukaan di Jakarta, jadi seporsi banana split di resto hotel kecil bernama HWI itu, tentu saja sudah merupakan suatu kemewahan sangat tersendiri - bagi kami, jeh!

Sekali waktu, karena bosan, saya pernah baca menu untuk memilih dessert-nya yang disediakan si resto. Saya melihat di film-film, waiter resto biasanya ditanya untuk tahu informasi ttg makanan, jadi saya dengan entengnya bertanya kepada sang waiter. Di luar dugaan, ternyata waiter itu cuma tersenyum ramah dan bilang: maaf, saya ndak tahu.

Rupanya beda antara waiter di film dengan waiter di darat yang nyata: di film mungkin waiter-nya nampaknya memang dikasih icip-icip semua makanan yang ada di menu (atau cuma dikasih tahu penulis skenario-nya ajah?), jadi bisa menjawab pertanyaan tamu yang datang makan, sedang di resto HWI - hehehe.... sorry, mereka tak pernah dikasih coba mencicipi makanan yang ada di menu, jeh!

Jadi, anda mau pesan apa untuk dessert-nya nih?





PS: Foto diambil dari MS Office ClipArt media file.

Selamat HUT.

SMP - sohib multiply kita, Pak Amir mengira HUT saya 23 Januari ini, jadi beliau sampaikan Selamat HUT di guest book saya. Juga kasih komentar di sini. Saya berterima kasih kepada beliau sebab ingat HUT saya dan berusaha menjadi yang Pertama-X mengucapkan selamat!

Saya jadi ingat kejadian hampir 20 tahun yang lalu, persisnya hari Kamis, 25 Januari 1990. Waktu itu hari kerja, jadi saya tetap masuk kerja. Pas meeting dengan klien saya, seorang bule dan satu orang lokal. Pas jam makan siang, kami maksibar, termasuk (alm) boss saya.

Selesai makan, saya pesan empat slice Black Forest Cake.

Ketika datang pesanan cake tsb. diantar waiter resto, boss saya merasa heran sebab tidak memesan-nya sebelumnya. Jadi saya bilang saya yang minta, karena hari itu HUT saya.

Kedua klien saya langsung menyalami, terutama yang bule, dengan hangat saya dipeluknya [lalu sorenya dia khusus kirim seloyang cake ke kantor] dan wajahnya cerah sekali. Kami menikmati cake dengan senangnya.

Yang cukup mengherankan, (alm) boss saya tiba-tiba saja nyeletuk: tidak semua orang suka diingatkan HUT-nya, karena HUT itu mengingatkan seseorang berkurang usianya. Entah apa maksud celetukannya ini, bisa saja sekedar 'slip of the tongue' atau maksudnya ingin berhumor.

Tapi, saya tetap senang kalau anda kasih selamat, jeh!
[Apalagi kalau anda kirim kado, sila lihat birthday wish list saya ya.]







PS-1: Kalau anda mau tahu HUT anda pertama kali dulu hari apa, juga kapan orangtua anda 'berkonsepsi' menjadikan anda anak mereka, sila lihat link ini.
PS-2: Gambar cake diambil dari MS Office ClipArt media file.

January 22, 2010

Sekedar Berbagi - Anak Yang Marah Kepada Ayahnya.

Saya lagi ngikutin film drama di Da-ai TV, ada 2 cerita yang berbeda sih, yang ini baru 3 episode, kisahnya ttg keluarga miskin - selalu yang miskin yang diceritakan, sebab mereka nantinya sukses dan menjadi....... kaya, tentu!

Judulnya agak-agak lupa, kayaknya sih "Hadiah Terbaik Untuk Ibu" [Hanzi-nya sih 'Bu Cing Di Ai' - Cinta Tak Berbatas] - atau semacam itu, pokoknya yang diputar pada pukul 21:00 - diulang keesokan harinya pukul 09:00 dan 16:00 Ada banyak kesempatan untuk anda menonton kalau tidak bisa pas waktunya.

Kepala keluarga itu kerja di suatu bengkel. Isterinya sakit TBC kronis, jadi mesti beli obat secara kontinyu. Anaknya 4 orang, 2 lelaki 2 perempuan. Kedua orangtua mereka mengajarkan budi pekerti untuk hidup sehari-hari dengan baik dan benar. Beberapa yang diajarkan: jangan mencuri, jangan ingin memiliki hak orang lain, jangan mau dibelaskasihani.

Anak-anaknya menurut. Jadi anak sulung sering punya ide berdagang. Tetangganya memberi dia 'upah' berupa kacang tanah mentah, karena dia sudah membantunya, si anak itu lantas merebus itu kacang dan menjualnya di pasar.

Suatu kali, sang ayah bersalah karena bersama teman-2 satu kelompoknya di bengkel, menjual besi bekas di gudang. Ketika ketahuan dan mesti ada yang bertanggungjawab, semula mandor-nya yang rela dipecat. Tapi karena si ayah merasa dia paling banyak menerima uangnya demi beli obat bagi isterinya, akhirnya dia minta dia yang berhenti bekerja dan mandornya tetap bekerja.

Di sini sudah diajarkan kesetiakawanan.

Masih lanjut, ketika akhirnya si ayah berhenti kerja dan akan memulai usaha sendiri - menjadi tukang bikin dapur (tungku), si anak bertanya-tanya soal alasan ayahnya berhenti bekerja, sebab ayahnya pernah bilang bahwa penghasilan membuat tungku tidak stabil. Si ayah menceritakan apa adanya. Sebelum dia ceritakan soal dia rela berkurban demi sang mandor yang terpaksa pisah dengan anak-anak isterinya yang hendak dititipkan ke mertuanya, si anak sulung sudah marah kepada ayahnya.

Apa yang ayah ajarkan kepada saya selama ini? Mengapa ayah mencuri barang yang bukan milik ayah? Ayahnya sudah minta maaf, tapi anaknya bilang: saya memaafkan ayah juga percuma. Orang-orang tetap tahunya saya punya ayah yang jadi pencuri.

Satu lagi yang bisa dipelajari: mendidik anak sedemikian rupa, sehingga dia merasa malu ketika tahu ayahnya mencuri. Dan, berani marah kepada ayahnya.

Mungkin ini sesuatu yang wajar saja kalau konteks-nya adalah jaman sekarang yang katanya demokratis, bebas merdeka. Tapi, kejadian itu (ini kisah nyata) di Taiwan pada masa lalu, masih tradisionil cara berpikirnya, dengan tradisi anak mesti berbakti kepada orangtuanya, tidak boleh membantah, maka kejadian itu mestinya merupakan suatu terobosan yang sangat maju sekali!

Membandingkan dengan gaya anak-anak pejabat kita - tentu juga mental orangtua-nya, walau ndak semuanya, kayaknya tu cerita memang terasa seperti cuma rekaan hasil khayalan pengarang-nya belaka ya?

Pernah anak-anak saya waktu masih SD dulu, pulang sekolah memberi saya teka-teki: mengapa anak babi jalannya menunduk? (Kayaknya saya pernah cerita ya?) Jawabnya sungguh diluar dugaan: karena malu punya ayah dan ibunya babi!

Jadi, kalau kita sampai membuat anak-anak kita jalan tertunduk, kayaknya sudah ndak bener tuh ya? Apalagi kalau lantas mereka malah jalan-nya mendongak, membanggakan 'kehebatan' orangtuanya yang bisa menilep uang negara sampai ratusan milyar, bahkan Rp 6,7 Triliun. Coba kita tulis lengkap angkanya: Rp 6.700.000.000.000 - Bener ndak tuh ya nulisnya? Eh, tapi itu katanya bukan uang negara ya? Uang siapa kalau begitu? Uang saya tah? Hehehe........

Back to filem drama berseri, kalau anda pas iseng, boleh sesekali lihat barang satu dua episode. Moga-moga anda jadi gandrung sesudahnya dan menonton terus. Masih berlanjut sampai orang itu sukses nanti, lihat trik-trik dan kiat-kiatnya menjadi sukses tuh, jeh!

Selamat akhir pekan!

January 21, 2010

Liften - Numpang Ikut Mobil Yang Sejalan.

Saya pernah cerita ttg cara 'backpacker' menghemat untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain, yakni dengan cara 'liften' - menumpang kendaraan yang hendak menuju ke tempat yang sejalan. Jaman dulu, ketika transportasi kendaraan umum masih sulit dan jarang, besar kemungkinan anda bisa melakukan 'liften' ini, dan pengendara mobil mau membawa anda.

Jaman sekarang, transportasi begitu mudah dan murah, setiap detik ada kendaraan umum yang lewat pating sliwer, mungkin anda tidak gampang mendapatkan 'liften' dari pengendara mobil pribadi. Mereka terutama karena alasan keamanan, tidak mau sembarangan menaikkan penumpang yang tidak dikenalnya, jeh!

Tapi, di Jakarta sudah mulai umum ada 'tumpangan' atawa 'omprengan' bagi orang-orang yang searah - biasanya dari luar Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi atau Bogor, dengan 'bayar' ongkos yang lebih murah dari taksi, misalnya. Biasanya mereka akan 'berlangganan' janji ketemu di satu titik tertentu, untuk menuju Jakarta. Baik berangkat maupun pulang kerja.

Jaman belum ada ojek, belum juga terpikir untuk 'langganan' bayar omprengan begitu, biasanya sih teman sekantor yang searah akan ikut 'ngompreng' gak bayar begitu. Termasuk saya sendiri. Saya suka ngompreng ikut teman saya yang tinggal di Grogol. Pagi saya ke rumahnya, sore saya di'drop' di ujung jalan menuju rumah saya.

Lama-lama, teman saya merasa tanggung, jadi saya seringnya di'drop' di depan rumah. Katanya, tanggung, tinggal belok sedikit - masih jauh berliku-liku sebenernya sih, ada sekitar 5 kilometer lagi.

Saya pikir, ini cara yang baik dan benar, dan simpatik.

Jadi sekarang saya terbiasa ikut meneladani cara teman yang kemudian jadi sohib saya itu: saya suka sekalian antar teman kantor yang sejalan. Bahkan kalau pun bukan teman sekantor, kalau sejalan tentu saya antar, diusahakan sampai di rumahnya saya drop dia.

Saya ndak pernah bayar kepada teman saya. Begitu pun saya tidak pernah menerima bayaran dari teman yang saya antar. Padahal, jaman bensin boros diminum mesin mobil seperti sekarang, gara-gara macet mulu di Jakarta, kadang tak sadar kalau jalan dari BSD ke Jakarta, apalagi sampai ke daerah Kelapa Gading, ya bensin isi 40 liter seringnya sisa 10 liter doang.

Intinya, tolong-menolong sesama teman itu ndak mesti dihitung harganya. Nilainya tak bisa dihitung dengan harga bensin toh? Jadi saya sudah merasa wajar saja kalau teman yang saya antar itu cukup bilang terima kasih, tak kurang dan tak lebih. Kalau pun lupa berterima kasih, ya ndak apa. Saya tidak pernah mengharap apa-apa, hanya sekedar ingat saya suka numpang sohib saya dulu, jadi saya sekarang membalasnya dengan cara yang sama.

Tapi, pernah ada seorang teman yang baru saja saya kenal di darat (A) datang dari luar kota. Saya sih merasa wajar kalau saya jemput di hotelnya, antar-antar dia selama di Jakarta ke pertemuan dengan teman-temannya, sampai saya drop di bandara Soekarno-Hatta. Eh, lalu ada teman-nya yang tinggal di Jakarta - (B), dan punya mobil sendiri tapi tidak bawa, minta antar pulang ke rumahnya - walau tidak sejalan, di daerah sekitaran Jakarta utara, ya saya antar sekalian juga.

Ndak ada apa-apa sih, saya ndak merasa terbebani sama sekali walau mesti keliling dari kawasan SCBD ke rumah tu teman (B) lalu ke bandara. Kalau pun mereka tidak berterima kasih, ya tidak apa-apa. Lha, wong mobil saya ya cuma mobil gerobak, yang mungkin saja tidak terasa nyaman bagi mereka - mungkin mengharap naik limo? Saya juga tidak pernah mengingat-ingat hal ini.

Hanya saja, saya koq merasa heran, beberapa waktu kemudian, tiba-tiba saja dua orang itu, tanpa sebab-sebab yang jelas bisa kemudian membuat gosip yang bersifat fitnah ke arah saya.

Cara berterima kasih yang "unik" ya?





PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

January 20, 2010

Nahu Pong Di Perko.

Masih berkaitan dengan huhujanan bersepedaan ketika masa-masa SMP dulu. Kalau bosan ngeburjo ngetan item, kami biasanya ngiyub (berteduh) di perko - emperan toko yang tutup karena hujan turun dengan derasnya.

Jaman dulu, namanya perko itu adalah bagian lantai yang ditinggikan sekitar 20 cm (satu tegel), dengan lebar sekitar 150-200 cm, di bawah atap. Semacam teras begitulah. Kaki limanya sendiri selebar 300 cm. Biasanya teras digunakan oleh tuan rumah, pemilik toko, untuk midang - duduk-duduk sore hari sambil ngemil dan ngobrol dengan teman atau tetangga. Bisa juga untuk ekspansi tempat tarok barang dagangan.

Kalau toko-nya tutup, biasanya perko dipakai untuk para pedagang ngiyub kalau hujan atau siang panas terik. Toko jaman dulu ada jam istirahat-nya, siesta, sekitar pukul 14:00 s/d pukul 17:00. Buka pukul 08:00 atau 09:00 dan tutup pukul 20:00 atau 21:00.

Jajan favorit kami adalah tahu pong yang dadak goreng. Cuma tahu putih ajah, dikerat jadi bentuk dadu kecil-kecil, kalau digoreng jadi agak gembung. Ukuran jadi one bite size, sa-emplukan, dengan dimensi 30 mm x 30 mm x 30 mm begitulah. Biasanya sih kami nungguing si tukang tahu menggoreng itu tahu pongnya.

Si emang (baca 'e'-nya lemah - 'emang' = mamang, panggilan 'abang' cara Sunda) membawa pikulan dengan dua angkring. Satu angkring untuk stock tahu dan preparation table, isinya paling juga stock cabe rawit dan garam halus yang dibuat dari garam bata yang digerus pakai cobek sampai halus (belum musim garam halus dalam kemasan), halusnya ya gak halus-halus banget, masih suka ada 'kerikil' kristalnya. Satu lagi untuk stock tahu mentah di laci bawah, dan bagian atas untuk tempat kompor pompa berbahan minyak tanah dan wajan penggorengan dan stock minyak lentik - minyak kacang tanah.

Begitu ada yang pesan, barulah si abang mengerat-kerat tahunya, satu bongkah tahu biasadikerat jadi empat, lalu dicemplungkan ke dalam minyak panas. Begitu menggelembung dan kulitnya berwarna soklat keemasan (golden brown), langsung diangkat dan ditiriskan minyaknya. Disebut tahu pong, karena isinya jadi kopong - kosong.

Per porsi berisi 10 potong + ekstra imbuhan 1 potong. Wadahnya biasanya dari kertas bekas limbah kantor, yang ada tulisannya ditarok di luar. Kertas itu dibentuk mirip zak mini, lalu diberi sedikit garam, bagian atas wadah akan dipegangi, lalu tahu di dalamnya dikocok-kocok supaya garamnya tercampur rata. Makannya sepotong-sepotong dengan menggigiti cabe rawit, diklethisin begitulah.

Hujan-hujan ngiyub di perko, sambil nongkrong menikmati tahu panas-panas, dengan klethisan cabe rawit yang menghablur aroma khas si rawit-nya, dan pedas menyengat di bibir dan lidah, ditiban panasnya si tahu dan asin-nya garam, wah....... rasanya sudah nikmat sekali! Kalau kepedesan, paling kami ngemut permen jahe atau nougat yang cap balap kuda itu. Belum musim soft drink impor Coca Cola, apalagi Teh Botol, jeh!

Anda mau tah?

January 18, 2010

Berbasahan Berhujan-hujan Demi....KIKI.

Musim hujan begini, mengingatkan saya akan 'gang' sepeda semasa SMP dulu. Ada sekitar 10 orang anggota gang sepeda kami. Sepeda-nya buatan RRT, merek-nya Phoenix.

Tapi tentu saja sudah dimodifikasi. Spatbor belakang di lepas, boncengan dicopot. Spatbor depan dirubah jadi pendek, ukuran setengahnya, setir dibalik jadi seperti tanduk kerbau. Kalau kami bersepeda, terpaksa agak merunduk, serasa sedang bersepeda balap, ngebut......

Kalau ada teman yang mau ikut menggonceng, terpkasa dia mesti berdiri belakang, dengan kaki bertumpu pada besi agak panjang yang dipasang pada as roda belakang. Dan tangan berpegangan pada bahu sang 'pembalap' amatir.

Kalau hujan turun, kami suka berputar-putar keliling kota, berbasah-basah dalam hujan lebat, menaiki sepeda kami. Setelah basah kuyup, kami akan singgah di warten (warung tenda) yang menjajakan....... KIKI - Kacang Ijo Ketan Item. Hehehe.... judul-nya terilhami oleh teman kita, Kiki aka Trang Travel.

Waktu itu, belum musim warten yang juwal aneka penganan seperti Lego - Lele Goreng ataupun Bego - Bebek Goreng. Yang ada paling ya si KIKI itu ajah, jeh!

Biasanya tenda diisi satu meja panjang, dengan lincak (kursi panjang tak bersandaran) untuk duduk rame-rame mengelilingi meja. Di belakang meja bagian preparation, ada 2 panci tinggi besar mirip dandang, isinya si KIKI itulah, satu panci berisi Kacang Ijo dan yang lain Ketan Item.

Keduanya agak-agak kental, ditarok di atas kompor menyala supaya isinya tetap panas. Ada lagi satu panci di meja berisi santan berpandan. Dan, di meja biasanya ada stoples beling, beberapa buah, ditarok di atas meja dekat ke kursi. Isinya: roti tawar kampung (sebagai padanan kerupuk kampung) yang jaman itu belum tersentuh pengempuk, pelembut, pengawet dan bahan-bahan subalan lain-lain. Masih ori - original dan tulen punya, jeh!

Roti tawar kampung itu dipotong sebongkah-sebongkah cukup besar, kulitnya keras dengan warna kesoklatan agak-agak gelap. Bagian bawahnya yang agak lembut (tidak selembut seperti buatan masa kini) berwarna agak kekuningan, off white gitulah, tidak seputih bersih seperti sekarang. Biasanya sih sudah sebongkah-sebongkah roti tawar kampung ditarok dalam stoples beling transparan, dengan tutup ber'kuping' bulatan untuk pegangan kita waktu mengangkat tutupnya hendak mengambil isinya.

Semangkuk KIKI (umunya kami pesan campuran Kacang Ijo + Ketan Item) panas, dikasih topping santan wangi aroma pandan, gula-nya pake gula merah gula Jawa, ada aroma jahe nan sedap dan menghangatkan. Disajikan di dalam mangkuk setengah bulat beling, dengan sendok bebek enamel yang lumayan menahan panas, makannya selalu ditemani sebongkah roti tawar kampung itu.

Ritualnya: roti disobek dulu bagian 'kulit'nya yang keras, dicelupkan ke dalam KIKI panas-panas mengepul uapnya, lalu dimasukkan mulut, dikunyah pelan-pelan, sambil dicecap dulu aroma gosong dan rasa pahitnya yang samar-samar, baru ditelan. Kemudian KIKI diaduk dulu supaya kacang ijo dan ketan item-nya, beserta santannya bercampur, bersatu padu larut dan siap menjadi penghangat perut anda.

Barulah kemudian KIKI disendok sesuap, dekatkan ke bibir, ditiup-tiup dulu agar tidak terlalu panas dan melepuhkan lidah ketika masuk ke dalam mulut anda, nikmati manis dan sedapnya gula merah dan aroma jahe tersamar menohok halus, kunyah sebentar dan lembut saja, baru ditelan. Lantas roti disobek sedikit, celupkan dalam bubur KIKI, lanjutkan ritual sampai roti dan KIKI habis hampir berbarengan. Segelas teh hangat komplimen, bisa anda minta sebagai 'pencuci mulut' secara harafiah: supaya sisa-sisa manis di mulut yang agak-agak lengket bisa digelontor.

Lebih terasa nikmatnya dan hangatnya semangkuk KIKI dan sebongkah roti tawar kampung itu, ketika sekujur badan basah kuyup karena terguyur hujan. Ahhhh........ sedap-nya, bo!

Anda mau tambah semangkuk-kah?





PS: Foto diambil dari slide show kiriman dari oom Michael Pan.

Ngerujak Kangkung ala Kampung.

Jaman saya kecil, rumah tinggal di ruko [rumah toko] - maksudnya, bagian depan buat toko, belakang untuk rumah tinggal. Di belakang deretan ruko, banyak rumah penduduk. Biasanya kami sebut itu sebagai 'kampung'. Biasanya bagian belakang rumah kami ada pintu belakang yang menembus ke 'kampung'.

Teman-teman bermain waktu kecil adalah yang rumahnya sederetan ruko bertetangga, sampai sekitar deretan ke sepuluh atau lebih, kiri-kanan. Juga ada beberapa anak 'kampung' yang sebaya ikut bermain.

Pernah kami bermain ke rumah anak 'kampung', ibunya sedang ngerujak (kangkung) sambel asem. Ini makanan khas Cirebon, satu dari sekian banyak jenis 'rujak'. Kami pernah juga dibagi dan enak sekali rasanya, jeh!


Ada satu teman kami, bertetangga. Tapi rumahnya ndak gabung dengan toko di bagian depan. Ayahnya pegawai negeri, ibunya guru. Masih keturunan ningrat. Anaknya yang bungsu sebenernya tidak sebaya dengan kami, dia lebih tua sekitar 3-4 tahun, tapi senang bermain dengan kami. Namanya Cecep - ini tentu nama panggilan dari basa Sunda, Kasep [ngganteng], dicadelkan menjadi 'encep' atau Cecep. Pembantu rumahnya kalau manggil anak boss tentu pamali menyebut nama, jadi dipanggilnya dengan Cecep, namanya sih Yoyok, jadi Cep Yoyok.

Rumahnya besar, berhalaman luas, menembus sampai kampung juga.

Di samping kamar tidurnya ada secuil tanah kosong yang dibatasi tembok ke sebelah maupun ke depan. Kami suka ngumpul di kamar tidurnya bermain apa saja, namanya apa saja tentu paling juga kartu wayang, gundu, atau geplokan [bentuk orang atau hewan yang beralas rata bisa berdiri, dibuat dari plastik] jaman itu pan belum musim robot atau mobil berremote control, nintendo, apalagi PS-2.


Si Cecep hobinya bercerita, terutama cerita wayang. Kami suka duduk anteng di depan-nya, kalau dia mulai bercerita. Suatu kali, setelah selesai cerita, kami ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya muncul ide untuk ngerujak kangkung (sambel asem) ala kampung.

Tanah di samping jendela kamar tidurnya itu kami cangkuli, diberi galengan (pembatas tanah ditinggikan seperti di sawah), lalu diairi. Kami beli kangkung-nya di pasar. Pasar Pagi terletak di seberang rumah saya. Jadi kami mengumpulkan uang, beli beberapa ikat kangkung.

Daunnya kami petiki, direbus dan dibuat rujak sambel asem. Campurannya cuma timun dan toge, dan mie basah kalau mau 'elite' dikit, dengan sambel cabe merah besar yang diberi banyak asem Jawa, terasi dan petis. Lantas kami makan rame-rame, setelah tangkai kangkung yang masih berakar itu kami tanam di 'sawah' agak berair yang sudah kami siapkan itu.

Setelah daun-nya tumbuh lagi, kami lupa setelah berapa lama, rasanya ya lama sekali - sebab kami selalu mengontrol tiap hari pertumbuhannya, sepulang kami dari sekolah. Kami lantas 'panen' daun kangkung, ngerujak sambel asem lagi. Dimakan rame-rame lagi. Begitu panen sampai berkali-kali, sampai akhirnya kami bosan sendiri makan rujak sambel asem ala kampung itu.

Semuanya kami kerjakan sendiri, metik daun kangkung, merebusnya, nguleg sambelnya, padahal kelompok kami sekitar 8-10 orang itu semuanya laki-laki lho.

Anda mau rujak kangkung-nya tah?

January 16, 2010

Buto Ijo, Kolor Ijo dan Burjo!

Saya lupa persisnya kapan, mungkin ketika saya masih TK, sekitar tahun 1950-an akhir. Di Cirebon beredar desas-desus, waktu itu sih belum musim istilah isyu atawa gosip, masih sebatas desas-desus ajah, tapi sistem-nya sudah pake MLM - Mulut Lewat Mulut, dan cukup efektip tuh!

Seluruh kota geger, heboh.

Orangtua yang masih punya anak balita, termasuk saya mestinya waktu itu, pada berebut beli kalung bambu kuning, yang dibuat dari sepotong kecil bambu kuning dengan diameter sekitar 5 mm dan panjang 15-20 mm, diberi seuntai tali kasur warna hitam yang dimasukkan ke dalam lubang buluh bambu kuning tsb.


Kalung bambu kuning itu, konon sebagai penangkal sang Buto Ijo.

Kabarnya, konon, si Buto Ijo suka sekali menculik anak-anak balita, untuk dijadikan tumbal dan 'mainan' semacam boneka Barbie dan Kent hidup di rumahnya bagi anak-anak si Buto Ijo, atau dijadikan budak belian yang mesti memijati sang Buto Ijo, atau kemudian dimakan setelah bosan dijadikan mainan anak-anaknya, jeh!

Saya tekankan 'jeh'-nya di situ, sebab artinya 'jeh' di situ adalah 'katanya'. Katanya, Buto Ijo itu begini, begitu. Sebab belum pernah ada satu pun orang yang benar-benar pernah amprokan ama si Buto Ijo, melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi si C bilang kata B, dan B bilang kata si A. Kalau ditanya terus, akan panjang katanya, katanya, dan katanya terus.

Saya juga pakai tu kalung bambu kuning, katanya Buto Ijo tidak akan menculik anak yang sudah pakai kalung Buto Ijo. Entah apa sebabnya, katanya sih sebab di dalam bambu kuning ada bekas yayang-nya, first love si Buto Ijo yang cantik dan sakti mandera guna.

Kalung bambu kuning mesti beli di pasar ama seorang kakek-kakek ompong, berikat kepala ala bandana yang dipakai si Rambo [kayaknya Rambo terilhami si kakek ompong tuh ya?], yang anehnya, si kakek bisa ditemui pada saat yang bersamaan di beberapa pasar di kota Cirebon: Pasar Pagi, Pasar Balong, Pasar Kanoman, Pasar Kesepuhan, Pasar Kramat, dan pasar-pasar laen. Berpakaian serba hitam, dengan baju model pangsi kancing terbuka, kaosnya warna ijo pupus, celana pangsi sedengkul agak gombrong sehingga ternampak kolornya pun warna....ijo(!), ciakah - ndak pakai alas kaki, sambil ngudut rokok daun kawung yang mati apinya.


Jaman itu, kami tidak pernah terpikir bahwa bisa ajah ada banyak kakek sepantaran sama-sama ompong (dental care health belum populer toh), yang juwalan kalung bambu kuning di pasar, memakai baju seragam dan aksesori yang sama.

Ini agaknya yang kemudian banyak ditiru oleh produsen atau pelaku konsep brand communications jaman sekarang, ketika meluncurkan produk baru: pakai SPG yang cantik berseragam sama. Jadi anda terpapar secara solid di mana-mana saja anda belanja ke supermarket mana-mana saja. Supaya 'brand image'nya nancap erat di benak anda, istilah marketing communications consept-nya sih ya?

Eh, yang teringat brand image-nya atau SPG-nya yang kenes cantik itu sih?


Waktu itu, beberapa kali saya pernah didatangi Buto Ijo ketika tidur siang. Rasanya seluruh badan dadak sontak tidak bisa bergerak, kaku, kemeng, hendak berteriak minta tolong pun tak bisa, lidah terasa kelu. Ada Buto Ijo di samping ranjang saya, menyelipkan tangannya yang besar di bawah badan saya, meraba-raba bagian pantat celana hansop saya, seolah hendak membopong saya tuh..... Secara refleks (berkat latihan terus-menerus) segera saja saya merapal mantera yang diajarkan (sorry, mantera-nya rahasia, jadi ndak boleh saya ungkapkan di sini ya) sambil memegangi potongan bambu kuning. Benar, langsung tangannya ditarik lagi dan si Buto Ijo pergi. Lega sudah saya meneruskan tidur dan mimpi makan permen soklat setoples penuh.

Belakangan saya baru tahu bahwa 'Buto Ijo' itu cumalah si mbok pembantu rumah kami yang memang bertubuh tambun, diminta mamah saya untuk memeriksa apakah saya ngompol atau tidak.


Geger Buto Ijo sebentar kemudian sirna, pelan-pelan kalung bambu kuning penangkal si Buto Ijo juga sudah hilang entah tarok di mana. Padahal waktu 'musim' dan 'demam' Buto Ijo, tu kalung diwanti-wanti ndak boleh dipakai kalau hendak download BAB pagi hari ke toilet jongkok, sebab dikuatirkan khasiatnya hilang sirna terkena hawa jelek dari sana.

Seperti awalnya bertiup tak tahu dari mana, begitu pula sirna-nya sas-sus (begitu biasa media djeman doeloe menyingkat 'desas-desus') ttg Buto Ijo itu ya lenyap begitu saja, tiada bekas, tiada pesan dan kesan apa-apa.

Penggambaran ttg rupa si Buto Ijo begitu seram, makin besar, makin besar terus. Dari cuma seperti orang dengan tubuh seberat 100 kilo, membesar terus sampai setinggi pohon asem di pinggir jalan yang puluhan meter itu. Hehehe.... pohon asemnya sendiri ndak pernah diukur, tapi kami biasa menyebutnya puluhan meter ajah orang juga percaya. Ngapain juga mesti naek pohon asem lantas membuktikan bener-tidaknya toh? Iseng amat sih!


Penggambaran si Buto Ijo bisa berkembang begitu, karena daya imaginasi orang-orang yang suka dan gemar akan sas-sus begitu terus saja mengembangkannya.

Maklumlah, jaman itu belum ada TV yang gencar dengan tayangan infotainment-nya, jadi ibu-ibu ya cuma bisa bergunjing dan bersas-sus secara MLM, sambil metani tumo (mencari kutu rambut) secara massal di gang-gang (bukan geng, tapi gang - jalan kecil dan sempit) di kampung-kampung.

Bentuk muka si Buto Ijo ajah bisa berbagai versi: berrambut gimbal, bertaring, bermata tiga, bertanduk, berlidah cabang dua, pake piercing anting besi kuning di lidahnya, dan seterusnya. Beda sekali dengan penggambaran si Kolor Ijo yang pernah meramaikan kota metropolitan Jakarta dan sekitarnya belum lama ini, dan mestinya anda masih ingat seperti apa dia.


Jaman Kolor Ijo beraksi, jaman sudah serba IT - Information Technology begitu maju. Internet sudah jadi makanan hari-hari kita. Program komputer untuk visual, begitu canggihnya. Sehingga anda bisa dikasih suguhan 'penampakan' di TV yang seolah-olah beneran tu Hantu Kolor Ijo tertangkap kamera. Soal mengapa ndak ditangkap secara harafiah dan diserahkan langsung ke yang berwajib dan berwenang, itu mah gampang ditebak: lha program acara TV-nya pan langsung tamat kalau begitu sih dwong, dweh, jweh!

Katanya si Kolor Ijo sukanya 'metik' gadis perawan? Eh, bukan, janda muda dan kaya raya juga dia mau (siapa yang tak mau toh?). Halah, namanya juga isyu dan gosip (jaman berubah, 'sas-sus' sudah ditinggalkan di belakang tuh), anda bisa meneruskan dengan bumbu sesuai imajinasi anda. Maunya kolor ijo itu rupawan, bagai sang poangeran naek kuda putih seperti gambaran Oom HC Andresen di Eropah sana? Hehehe... sorry ya, jaman IT sih ya kudu seragam, fokus, supaya rating TV terdongkrak naek dengan pesat dong!

Saya ndak ngerti, kenapa hal-hal yang berbau mistis, hantu begitu, koq ya dikaitkannya dengan warna ijo. Ijo dalam basa inggris itu 'kan green. Green, go green is something nice. Penghijauan juga bagus maknanya, tapi itu adaptasi dari greenery, basa Inggris juga. Matanya ijo, ini ungkapan berkonotasi negatip. Padahal, uang Amrik biasa juga disebut 'green bucks'. Apakah ada hubungannya antara kedua hal itu?

Eh, buto atawa buta itu pan raksasa ya? raksasa itu dalam basa Inggris ya giant. Lha, itu ada pasar besar aka hipermarket dari Jepang yang bermerek Giant dengan warna huruf-nya Ijo semua, apa bukan Buto Ijo jadinya ya?

Ah, dingin-dingin begini cuacanya, mending juga makan semangkuk burjo - bubur kacang ijo panas-panas ya. Mau pake santan susu, atau tidak. Kalau pake santan dan susu, jadinya Kacang Ijo Santan Susu. Kalau tidak, ya jadinya Kacang Ijo Sonder Santan!

Anda mau yang mana?








PS: Gambar diambil dari MS Office ClipArt media file.

January 09, 2010

Makna Kekerabatan Djeman Doeloe.

Kemaren ngomongin soal 'tengiri fish brains' (otak-otak ikan tengiri) dan majalah 'jadul' Intisari, mau tak mau 'mesin waktu' membawa saya ke jaman dulu kala. Ketika nilai-nilai pertemanan masih dianggap......... sakral.

Ya. Sakral. Kalau mau angkat saudara ada upacaranya khusus soalnya tuh!

Jaman dulu, ketika komunikasi masih belum secanggih sekarang, belum ada internet, apalagi FB, MP dan media social network lain-lain, sesama manusia masih mesti mengandalkan komunikasi secara tatap muka langsung. Face-to-face, interface begitu. Jadi bisa jelas terbaca tulus atau tidak tulusnya seseorang dari air muka, mata dan gesture-nya ketika bersosialisasi. Pan mata itu katanya jendela hati, jeh!

Saya ingat waktu itu (1960-an) anda bisa ikut menumpang gratis ikut naik prahoto atau oto sedan untuk bepergian secara AKAP - antar kota antar propinsi. Istilah jaman itu adalah 'liften' (basa Belanda, entah apa arti harafiahnya, ada hubungan dengan lift aka escalator tah?) dan anda cukup bawa rangsel, istilah sekarang dicangih-canggihkan menjadi backpacker.

Jaman itu anda bisa ber-packpacker secara liften begitu, sebab transportasi AKAP belum seramai sekarang. Bus AKAP sudah ada, walau masih sederhana, dengan body campuran antara logam dan kayu. Jendelanya masih dibuat dari kayu yang membingkai kaca, begitu juga kursinya terbuat dari kayu dan rotan dianyam yang jadi tempat ideal untuk...... sarang tumbila!

Bus AKAP ada, tapi frekuensi dan kuantitas-nya tidak banyak. Jadi bertualang secara liften yang sangat ngirit ongkos (gratis) adalah alternatip yang bisa anda ambil untuk bepergian dari kota-ke-kota, bahkan kalau anda beruntung, bisa ditraktir makan enak oleh pengemudi mobilnya di jalan.

Dalam hal liften ini, pengemudi prahoto dan/atau oto sedan juga sebenarnya senang mendapat 'teman' seperjalanan, jadi semacam simbiose mutualistic - saling menguntungkan gitu, win-win solutions ya. Sebab jaman masih sepi, bisa saja mereka jadi 'boring' (maksude merasa bosyen) sendirian menyetir menempuh perjalanan jauh. Juga lebih 'aman' dari sisi keamanan, maklumlah, jalanan masih sepi, jaman itu masih suka ada begal iseng yang menghadang anda di tengah jalan - ya iyalah, kalau menghadang di pinggir jalan mah bukan mau membegal dong.

Apalagi kalau anda berdiri di pinggir jalan-nya sambil mengepalkan tangan mengacungkan jempol mengarahkan ke jalan di depan, itu kode untuk minta liften tuh, jeh!

Jadi, ada satu engku (adik mamah) misan saya di Serbejeh (Soerabaia) yang memang otodidak dan menjadi 'street fighter' - berjuang demi sesuap nasi dan segenggam berlian-nya di jalanan menjadi supir prahoto, pernah sekali waktu dapat muatan dari Serbejeh menuju Jakarta.

Perjalanan ditempuh lewat jalur selatan, melalui Madiun-Solo dan kemudian berbelok ke arah Semarang via Salatiga, sebab beliau hendak singgah di rumah satu twaku (kakak lelaki mamah saya) yang masih sepupu dengan engku saya itu.

Lantas, entah karena memang sudah berjodoh, prahoto tua bekas angkutan tentara bayaran Gurkha jaman perang dulu, bermerek Thames yang bermoncong pesek itu (sering juga disebut 'tambi' - sebutan tentara bayaran etnis Gurkha - India) ternyata mogok di pinggir jalan, persis di mulut kota Salatiga. Hari sudah mulai gelap, engku saya coba mengotak-atik mesin prahotonya tidak juga berhasil menghidupkan kembali sang mesin. Kenek-nya sudah ketar-ketir takut didamprat engku saya sebab kurang teliti memeriksa kondisi mesin ketika hendak berangkat.

Dan, hari pun makin gelap dan gelap, dan sunyi sepi saja.

Eh, siapa nyana ternyata tempat prahoto engku saya mogok itu, berdekatan dengan satu garasi yang jaman itu sih belum perlu memakai pintu model krapyak yang dikerek ke atas-bawah dari alumunium yang full menutupi pintu ala ruko begitu, tapi cukup pakai pagar bambu yang masih berlubang-lubang. Jadi orang di dalam rumah bisa melihat situasi di luar, begitu pun sebaliknya.

Rupanya, deru mesin yang ngos-ngosan, ngek-ngek-ngek... ngek-ngek-ngek.... ketika coba distarter berkali-kali oleh si kenek, pakai starter engkol besi untuk memutar kipas mesin di hidung pesek mobil itu (sekarang kayaknya mobil sudah gak pake model engkol beginian lagi sih ya), terdengar oleh pemilik garasi yang juga ternyata masih 'sejawat' punya armada angkutan truck aka prahoto seperti juga engku saya.

Sang tuan rumah keluar menghampiri engku saya, berbasa-basi sejenak, lantas menjadi cukup akrab, secara mereka masihlah TS - teman sejawat seperti halnya sesama dokter 'kan saling menganggap satu sama lain sebagai TS begitu. Mereka langsung terlibat dalam diskusi seru, belum jaman milis, jadi diskusi mesti secara tatap muka toh, mengenai mesin yang ngadat. Diotak-atik berdua, tetap tidak bisa dinyalakan tuh mesin. Kalau sekarang anda mau menyalakan mesin sih gampang: siram bengsin dan nyalakan api, beres tuh!

Akhirnya kedua-nya menyerah pada nasib dan jodoh mereka, mesin tak bisa hidup, mereka sudah kecapekan. Jadi tuan rumah mengajak engku saya bermalam saja dulu di rumahnya, dengan sajian makan malam ala kadarnya (soto babat ala salatiga?) dan kamar tidur pun seadanya, jangan tanya hotel pada jaman itu ya.

Besoknya, tu mobil langsung hidup distarter tanpa banyak cingcong.

Rupanya itu memang jalinan jodoh yang mesti dilakoni engku saya dengan oom Hien (kalau tak salah beliau bersne Kwee), begitu akhirnya saya dan kedua anak engku saya memanggil TS-nya di Salatiga itu, sebab sejak itu kedua beliau akhirnya secara resmi tak resmi, saling mengangkat dan mengikatkan diri menjadi saudara angkat.

Hubungan kekerabatan persaudaraan angkat antara keduanya ini berlanjut sampai lama. Sampai ketika saya kuliah (1974-an) di Yogya, saya masih suka mampir ke rumah Oom Hien kalau ke Salatiga, atau ke Solo, sebab Oom Hien punya rumah di Solo, dan ada satu anak gadis-nya yang sebaya dengan saya tinggal di sana dan bersekolah di SAA - Sekolah Asisten Apoteker "Warga", kalau tak salah namanya adalah Kwee May Lian. Jaman itu, ketika masih SMP-SMA, sesama kami, anak keponakan engku dengan anak-anak oom Hien sudah suka chatting juga, belum pake BB atau i-net sih, masih pake snail-mail aka surat yang perangko-nya bisa pilih mau biasa, ekspress, kilat atau kilat khusus untuk memastikan tingkatan kecepatan waktu surat-surat itu tiba di tempat tujuan.

Sayang sekali, sesudah kami dewasa, bekerja dan berumah tangga, dan sejak oom Hien dan engku saya kedua-duanya meninggal, tali persaudaraan angkat ini terputus begitu saja. Memang jodoh kami hanya sampai di situ saja mungkin ya.

Mungkin anda kenal keluarga oom Hien juga?


January 08, 2010

Handfruit of Tengiri Fish Brains Air Flown to Solo.

Eh, mumpung masih hangat (cerita) otak-otaknya, saya lanjut dengan otak-otak buatan ce-em ['e' pertama 'sate, 'e' kedua lemah] aka besan saya, mertuanya adik saya yang asli Jakarta, tinggal di bilangan Jalan Kartini, yang pernah buka kedai makan di Grogol, juga bikin dan jual otak-otak, tentu!

Karena hand = tangan, fruit = buah, jadi handfruit itu maksudnya tentu saja buah tangan aka 'oleh-oleh'. Ya kali ini saya mau cerita ngoleh-olehi cici angkat saya yang mau balik terbang ke Solo.

Pernah sekali waktu saya mesti hadir di rumah duka RS Yang Seng Ie (di mana coba, anda tahu gak?) masih di bilangan Big Mango aka Mangga Besar, Jakarta barat. Yang meninggal adalah papahnya cici (kakak perempuan) angkat saya. Cici angkat saya ini yang menikah dengan cifu (kakak ipar) saya di Solo, setelah cici setengah (half sister) saya meninggal dunia.

Cerita ttg cici angkat ini tentu pernah anda baca, ketika saya mesti kerja di Medan dan tinggal di rumah adiknya cici angkat saya itu, yang tentu saja jadi cici dan koko (suaminya) angkat saya juga, secara otomatis.

Ingat ajah teori A = B, B = C, lalu otomatis A = C toh?

Nah, karena kedua cici angkat saya itu hadir di rumah duka juga, jadi selesai penguburan, saya tawarkan mau bawa oleh-oleh apa untuk kedua cici saya pulang. Yang satu ke Solo, yang satu tentu ke Medan.

Cici yang ke Solo lantas ingat bahwa anak-anak tirinya, yakni para keponakan saya, suka pesan otak-otak untuk oleh-oleh dari Jakarta. Keponakan saya (anak cici setengah saya) ada 4 yang sudah berkeluarga dengan masing-masing 2-3 orang anak. Ditambah satu cifu dan anak kandung cici angkat saya.

Beliau minta dibelikan otak-otak sebagai oleh-oleh.

Jadi saya langsung sajah bilang oke, no problemo. Adiknya yang hendak balik ke Medan, semula tidak pernah tahu otak-otak di Jakarta begitu beken sebagai oleh-oleh khas Jakarta, cuma tanya: apakah enak? Tapi cicinya bilang lu pasti doyan, jadi beliau juga minta dipesankan.

Saya tanya: mau bawa berapa?

Lha, saya pikir paling juga beli berapa puluh begitu toh.

Eh, dengan mantap cici yang Solo bilang 300 (tiga ratus)!

Saya agak terkejut juga dengernya.

300?

Ya. 300!

Ya sudah, karena saya sudah kadung tawarkan, tentu saja saya mesti belikan. Adiknya yang hendak pulang ke Medan minta dibawakan 50 bungkus saja, dia cuma sekeluarga dengan 5 anak dan belum tahu apakah pada suka makan pepes otak-otak. Di Medan (waktu itu, sekitar tahun 1989-an) kayaknya otak-otak mungkin belum begitu populer, kalah ama makanan enak-enak ala Medan yang sudah ada dan belum masuk ke Jakarta.

Sebenernya juga masih wajar-lah orang pesen 300 bungkus pepes otak-otak untuk oleh-oleh. Isinya pan cuma sa-emplukan (one bite size) adonan, walau nampak sekilas dari luar sih gede bungkusnya - trik saudagar yang 'nakal' - isinya dikurangi terus. Lha, kalau seorang makan 10 ajah sekali makan, 300 bungkus dimakan sekeluarga 15 orang cuma kebagian berapa per orangnya tuh 'kan?

Saya tanya nyonyah mesti beli di mana, kayaknya Ny. Sulaiman sudah menghilang pada waktu itu. Belum ada lagi saudagar besar sekelas Ny. Sulaiman yang mungkin sanggup menerima order partai besar begitu, 350 bungkus sekaligus, jeh!

Baguslah nyonyah saya ingat bahwa mertua adik saya yang di Jalan Kartini terima pesanan kuwih-muwih, kukis dan cake LL - Lapis Legit (enak tuh buatan ce-em saya itu!), juga biasa bikin dan jual pepes otak-otak di kedainya di Grogol. Segera saja saya hubungi adik saya, tanya nomor telepon rumah mertuanya (belum musim hape) dan tanya beliau.

Baguslah beliau sanggup terima pesanan itu, lead time cuma 2 hari sebelumnya. Jadi tenang sudah saya bisa menunaikan 'tugas' mulia memesan 350 bungkus otak-otak sekaligus buat oleh-oleh terbang ke Solo dan Medan.

Walau dibumbui ketegangan pas hari H-nya.

Rupanya ce-em saya juga belum pernah terima pesanan sekaligus 350 bungkus. Jadi manajemen waktu-nya agak meleset, kapal terbang akan take off jam 15:00 (mesti check in jam 13:00) dan otak-otaknya belum selesai dibakar semua pada jam 11:00 Cukup menegangkan juga menungguinya. Sekitar jam 12:00 baru selesai, saya buru-buru ke Mangga Besar menjemput kedua cici angkat saya, dan mengantar keduanya ke bandara Soekarno-Hatta, dengan satu dus besar isi otak-otak masih panas fresh from the griller, jeh!

Anda tahu berapa harga per bungkus saat itu?

Kalau gak salah, kayaknya sekitar Rp 600 dan kurs US$ sekitar Rp 1.900, jadi saat itu saya belanja pepes otak-otak senilai Rp 210.000 (belanja bulanan di Golden supermarket satu trolley, sudah berikut susu kaleng sekitar Rp 5.000 per 400 gram, baru sekitar Rp 150.000) atau kalau dikurs US$ pada waktu itu = US$ 110 dan kalau dikurs balik ke IDR sekarang jadi Rp 1.028.500 (Satu juta dua puluh delapan ribu lima ratus rupiah) dengan kurs BCA hari ini, 08 Januari 2010 yang Rp 9.350 per US$.

Kalau dibandingkan harga otak-otak sekarang yang berkisar sekitar Rp 2.500 - 3.000 (?) jadinya ya Rp 875.000 - Rp. 1.050.000. Ini tentu berkat inflasi selama 20 tahun ya?

Anda pesan berapa otak-otaknya?



Snacking Tengiri Fish Brains @ Princen Park.

Masih hangat nih (cerita) otak-otaknya, baru diangkat dari pembakaran. Padahal sih tu otak-otak sudah matang dikukus dulu, bakar-bakarannya mah cuma sekedar basa-basi doang ya, biar kelihatan bahwa itu pepes bakar, bukan pepes kukus yang mirip botok - cuma beda di cara anda membungkusnya ajah.

Iya. Mengapa pepes otak-otak begitu tidak disebutnya sebagai 'pepes' tapi cukup disebut 'otak-otak' saja ya? Sedangkan anda sudah kenal dan terpapar lebih dulu dengan aneka pepes (bakar) seperti: pepes tahu, pepes ikan, pepes peda, pepes jamur, pepes telor, dan pepes dage - jangan sampai kelupaan ya, ini makanan khas the one and only in the world wide web, asli Cerebon, jeh!

Kalau di mari (Indo) otak-otak dibungkus pakai daun pisang dengan format gulung panjang, disegel kedua ujungnya pakai biting (sudah ganti pakai staples yang lembut berbahaya kalau termakan), di Melake (Malaka), satu kota di pinggir pantai Malaysia sono, mereka bungkusnya pakai daun kelapa yang ditangkupkan dua sisi, lengkap dengan tulang daunnya.

Dan sejawat tukang otak-otak ikan tengiri di Bangkok sih lebih kreatip, lebih canggih dan lebih elegan: pakai wadah mirip citakan kue dorayaki di Tokyo atau 'carabikang' di mari, berupa piring sebesar piring saji agak besar, terbuat dari tanah terrakota merah (lempung genteng, kalau istilah kita mah), dengan cekungan bundar sebanyak 6 buah yang mengelilingi satu lagi di tengah. Adonannya ditarok di lubang cekungan itu, lantas si piring terrakota itu dibakar di atas bara arang langsung. Tentu saja sama dikukus terlebih dulu (kayaknya), baru dibakar sebagai basa-basi pengaroma bakaran yang lebih sedep-mantep ituh!

Mong-omong, otak-otak itu jadinya makanan asli khas Betawi-kah?

Sebelum ketemu jawabannya, mari kita jalan-jalan ke....... Prinsen Park. Yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan THR Lokasari dan berubah lagi jadi Lokasari Plaza, di kawasan Big Mango aka Mangga Besar itu.

Katanya dulu Prinsen Park itu pusat kesenian. Utamanya seni drama tunil aka sandiwara. Dengan primadonan-nya Dardanella atau Miss Tjitjih, tokoh terkenalnya Tan Tjeng Bok dan Fifi Young, makanya di sekitar Prinsen park ada daerah bernama Tangki, yang jadi asrama para pemain tunil aka sandiwara drama begitu, yang lantas saja secara becanda disebut sebagai Tangkiwood, yang lantas ditiru ama Amrik dan India menjadi Hollywood dan Bollywood begitulah, jeh!

Tapi nama Prinsen Park itu peninggalan jaman kolonial Belanda, ketika meneer dan mevrouw, sinyo dan noni butuh hiburan tooneel. Jaman ketika saya masih belum tahu Djakarta itu di mana. Waktu saya akhirnya terdampar di Jakarta, pada 1977 - mulai penjajagan 1974 (pas peristiwa geger bakar-bakaran mobil Jepang, Malari - 15 Januari 1974), sudah ganti nama menjadi THR (Taman Hiburan Rakyat) Lokasari.

Kompleks (THR) Lokasari cukup luas, ada banyak gedung bioskop di dalamnya. Jaman itu gedung bioskop itu minimal berkapasitas tempat duduk 100-200-an. Kayaknya paling sedikit ada 5-6 gedung bioskop di Lokasari itu, juga banyak restoran-restoran Chinese food yang cukup besar, bisa menampung banyak tamu - biasa dipakai untuk pesta resepsi pernikahan. Juga ada banyak kedai-kedai minum ala kopi tiam, yang umumnya juwalan di sekitar gedung bioskop, dengan juwalan utama berupa cemilan........ otak-otak ikan tengiri dadak bakar!

Buat saya sih semua otak-otak di Lokasari itu dulu gak ada beda-beda rasanya. Kecuali kalau yang memang 'palsu' cuma berisi tepung aci doang gak pake ikan, ndak beraroma amis samar-samar, tentu bisa jelas dibedakan.

Di samping otak-otak dadak bakar, dengan SOP - Standard Of Penyajian sepiring (belum musim melamine) isi 10 bungkus, dengan pisin (piring kecil) berisi sambel kacang bercuka untuk cocolannya. Biasanya anda cukup bayar yang anda makan saja, sisanya ndak usah anda bayar asal belum anda sentuh. Waktu pertama kali saya diajak teman baik saya ke situ, ditraktir makan otak-otak begitu, selalu saya habiskan sepiring. Soalnya saya pikir rugi toh, makanan sudah disajikan di meja, dan dibayar koq gak dimakan ya?

Sambil menunggu jam tayang film di gedung bioskop, biasanya kami nongkrong - ya tentu gak squatting kayak di toilet jongkok gitu, duduk di kursi rotan model sofa begitu, agak rendah (masih ada contohnya di Es Krim Ragusa belakang Masjid Istiqlal tuh), dengan 'bonus' berupa.... tumbila aka bangsat aka kutu busuk yang mengigiti paha anda.

Eh, hampir lupa, padu-padan untuk menyamik nyamikan pepes otak-otak itu, biasanya sih susu sapi segar, diwadahi dalam gelas tinggi seperti untuk minum es cincau jaman dulu, dingin, pakai es, ditambahi sirup as per your taste: pisang, coco pandan, rose atau frambozen yang merah warnanya. Kayaknya sih susu sapi segar mereka waktu itu dipasok dari peternakan yang banyak terdapat di sekitaran kawasan Kemayoran - Garuda dekat Gunungsahari, masih ada satu tersisa sekarang di situ, kalau ndak salah.

Segelas susu sapi segar dingin bersirup dan es, ditemani sepiring pepes otak-otak ikan tengiri. Yang saya herankan adalah, mengapa Ny. Sulaiman tidak 'lahir' dan besar di THR Lokasari, yang waktu itu mestinya ada sekitar 15 kedai paling sedikit yang berniaga pepes otak-otak ikan tengiri (ikan lain gak bisa?) bersaing ketat merebut hati, eh, kantung pengunjung.

Ada satu yang saya ingat juga, dulu di THR Lokasari ada satu kedai soto sapi bersusu santan (bener, katanya dikasih susu sapi juga) yang isinya bisa minta campur, daging, jerohan (paru, iso, babat, hati, limpa) dan yang istimewa: sumsum tulang. Entah apakah ini soto masih kerabat dengan soto tangkar (merah kuahnya) atau ya soto (sapi) Betawi bersantan, dengan kondimen acar brambang utuh dan irisan timun + keratan bortel. Tapi jelas beda dengan sop (bersantan) kambing ala Betawi itu.

Sama nasibnya dengan Ny. Sulaiman, begitu THR Lokasari digusur untuk dibangun menjadi Lokasari Plaza, banyak saudagar kedai kecil-kecil dan resto besar-besar, juga bioskop, jangan dilupakan juga toko-toko kaset (konon cikal bakal produser kaset rekaman ya dari situ) yang bisa order kompilasi aneka lagu (barat dan mandarin) direkam dalam satu kaset, juga kelompok drama rakyat seperti gambang kromong, cokek, termasuk lenong Betawi yang sering pada manggung di sono (ada satu gedung khusus untuk manggung, dan satu panggung kecil terbuka), semuanya hilang-lang bagai ditelan bumi. Bssss....... (kali ini banyak yang hilang, jadi pakenya B, bukan P - psssss).

Anda sempat keluyuran di THR Lokasari dulu?






Tengiri Fish Brains ala Mrs. Sulaiman.

Saya suka mesem dhewe kalau ingat ada blog spesialis 'copy paste' resep dan foto teman-teman MP dan bloggers (MP = blog bukan sih ya?) kita, ada satu kali tu tukang bajak masang resep Ayam Kodok hasil kerajinan tangannya, secara dia maunya nginternasional, pake dwi basa, jadi dia terjemahin tu Ayam Kodok menjadi....... Frog Chicken! Saya sudah coba google lagi tu blog, belum ketemu. Kalau pas anda nemu, coba pasang ajah link-nya ya.

Ya jelas gak salah, soalnya Kodok = frog, dan Ayam ya jelas = Chicken toh?


Jadi, waktu saya ditanya oleh FB (Facebook): What's on your mind? Oleh kerana mind = otak toh, jadi saya iseng ajah 'jawab' dengan pasang status: Brain-brain tengiri fish. Anda mestinya tahu yang dimaksud toh: otak-otak ikan tengiri.

Saya jadi inget ama Ny. Sulaiman.

Ny. Sulaiman itu merek dagang otak-otak ikan tengiri jaman tahun 1977-an. Ketika pertama kali saya merantau ke Jakarta.
Mereka menguasai pangsa pasar dunia kang-ouw brain-brain tengiri fish di seantero Jakarta.

Kalau ndak salah, Ny. Sulaiman bermula dagang di kawasan segitiga Senen (nama resminya sih Pasar Senen, tapi jarang ada yang menyebut nama resminya), Gang Kenanga - juga tempat asal Nasi Campur (babai) Kenanga dan Soto Mie Babat ala Bogor (dulunya bergabung satu atap dengan nasi campur, lantas pindah ke Kramat - jual nasi campur + sate babai juga akhirnya) , yang sekarang sudah jadi Plaza Atrium Senen, di bagian ruko-ruko di belakangnya.

Otak-otak Ny. Sulaiman, kalau menurut lidah awam saya sih ya nyaris sama ajah ama otak-otak seumumnya yang dibikin secara baik dan benar, pakai ikan tengiri, pakai tepung (terigu dan aci), ditambahi leek berupa bawang daun dirajang halus, dengan cocolan sambel kacang yang bercuka - sampai kadang rasa asam-nya suka rancu dengan rasa asam kalau sudah 'asam', basi.

Cuma saja, entah mengapa, otak-otak buatan Ny. Sulaiman ini pada masa itu sangat digemari oleh khalayak ramai, terutama kaum Pachinko (pasukan China kota) dan Amko (amoi kota). Mereka pernah punya satu toko khusus jualan otak-otak di Plaza Glodok, Pinangsia, Jakarta barat.

Jangan bandingkan dengan kios-kios franchise anda di food court sekarang ya, sebab jaman itu yang namanya shopping center (begitu sebutannya dulu) di Jakarta juga belum banyak, baru ada Duta merlin, Ratu Plaza, Gajah Mada Plaza, Metro Pasar baru dan Aldiron Plaza di Blok M (belum ada plaza atau mall-nya), jadi kalau saudagar otak-otak yang umumnya cuma numpang mangkal di kedai makanan laen, atau konsinyasi titip jual di toko roti dan jajan pasar doang, prestasi Ny. Sulaiman buka stand di Plaza Glodok itu mungkin satu-satunya di dunia (per-otak-otak-an) tuh, jeh!

Juwalannya melulu otak-otak, tidak ada lain-lainnya. Fokus satu item saja. Sudah dikemas pakai kardus bermerek ala cake shop sekarang (ya, ndak pake karton berlaminating sebagai coatingnya sih) dan kantong plastik disablon gambar ikan tengiri dan merek Ny. Sulaiman begitu.

Tidak ada saingan yang berani buka toko di plaza. Kalau pun boleh disebut saingan, mungkin bisalah disebut Toko Ho Yoe di Metro Pasar Baru, Jakarta pusat, yang spesialis juwalan aneka ikan bandeng asep dan cemilan hasil laut lainnya dari Sidoarjo, Surabaya itu. Jaman itu juga belum lahir otak-otak Binatu Aan (aslinya cuma waserij) yang semulajadi ngetop dengan Es Kelapa Muda-nya dengan gelas bir besar, lalu juga jual otak-otak dadak bakar di tempat.

Saya ndak ingat apakah Ny. Sulaiman buka cabang di mana lagi, selain yang di Gang Kenanga dan Plaza Glodok itu - kawasan rambahan perdapuran saya baru seputaran situ ajah sih (waktu itu saya tinggal di Pinangsia), juga saya ndak punya arsip foto-foto-nya ttg Ny. Sulaiman. Lha, buat apa motrekin makanan, jaman itu pan belum musim MP dan blog rame cerita soal perdapuran, tempat kita narsis dan adu mejeng foto makanan
- internet-nya ajah belum lahir tuh. Kameranya ajah masih pake film yang dikuasai oleh Fuji Color Film.... indah.... seindah warna aslinya! Lalu disaingi oleh Sakura yang bilang: lebih indah dari warna aslinya. Norak ya yang bikin slogannya itu?

Begitu top-nya otak-otak Ny. Sulaiman, sampai-sampai pernah ada yang sengaja membuat 'copy cat'nya - biasalah, kayak ada satu statsiun TV yang tempo hari ngopy cat cerita ampas kecap begitulah.

Seperti anda ketahui, kalau anda makan di kedai makan, atau ke toko kuwih-muwih, sering-nya ada yang titip jual otak-otak dalam kemasan plastik, sebungkus isi 10-20 bungkus lengkap dengan buntelan sambel kacangnya. Nah, rupanya ada yang meniru pakai merek dagang (mirip) Ny. Sulaiman, dikemas plastik begitu, dengan gambar ikan dan merek yang dimirip-miripkan bunyinya (lupa lagi apakah pakai fonts yang sama): Ny.Solaiman, Ny. Soleman, Ny. Soleiman dan entah apa lagi.

Padahal, kalau anda jeli, Ny. Sulaiman ndak pernah tuh membungkus dan titip juwal di sesiapa saja (ada pengumuman-nya di toko: tidak buka cabang di tempat lain, tidak dibungkus plastik). Mereka selalu dadak bakar di tempat, dikemas dalam wadah karton persegi panjang macam pindang bandeng presto ala Semarangan begitu, dengan tas plastik cukup mewah pada jamannya.

Mereka juwal di dua tempat itu sajah sudah diantri orang banyak, belerot macam anak-anak maen ular naga atau elang tangkap anak ayam, persis kayak jaman 'pisang goreng Ponti' diantri sekitar 3 tahun yang lalu itu!

Entah mengapa dan mulai kapan, sejak Gang Kenanga digusur oleh Jaya group(?) dan dibangun jadi Plaza Atrium Senen (yang kata encek Hong Soei sih kurang bagus, sebab format tanahnya mirip haluan kapal Titanic - menentang arus lalulintas dua arah, Kramat dan Gunungsahari), Otak-otak Ny. Sulaiman juga hilang dari pasar. Hilang-lang begitu saja bagai ditelan bumi. Pssss...........

Otak-otak favorit anda merek apa ya?


January 06, 2010

Sepotong Lapis Legit Menyambut Imlek.

Pas Natalan tahun lalu, hari Minggu-nya kami makan siang di RM Trio, Gondangdia Lama, Jakarta pusat. Resto jadul penuh nostalgia bagi kami, sebab waktu nyonyah mengandung si Koko dan si Dede, dokternya (Dr. Soetopo) praktek di RS Bunda di pengkolan Jl. Tengku Cik Di Tiro, terusannya ya Jl. Gondangdia Lama itu.

Kedua anak-anak kami dilahirkan di RS Bunda itulah.

Selesai periksa, biasanya kami suka mampir makan di situ. Biasanya kami berrombongan periksa pas Sabtu, saya, nyonyah, kedua mertua dan dua ipar. Maklumlah, anak pertama bagi kami, dan cucu pertama bagi mertua saya. Ketika si Koko sudah agak besar, dan si Dede masih dalam kandungan, kami masih suka mampir di situ makan malam, sesudah periksa kandungan nyonyah tentu.

Si Koko menikmati sekali acara makan di situ, sebab di samping resto itu ada jalur KA (sekarang pindah ke atas lewat jembatan layang) yang pada jam-jam sekitar pukul 19:00 itu kereta apinya lewat, dan ada pintu KA yang menutup lalu lintas jalan satu arah itu. Si Koko akan bertepuk-tepuk tangan memandang si loko dan gerbong kereta besar yang panjang itu lewat.

Kemarin, sehabis makan kami mengobrol di mobil, anggota keluarga sudah berkurang dua: mami mertua (almarhum) dan satu adik ipar yang mukim di Bali. Setiap kali makan di Trio, kami selalu ingin-nya memilih menu yang beda dari yang pernah dimakan, tapi selalu gagal. Favorit kami selalu Gurame asam manis, lunpia udang ala Trio, steak babi dan steak sapi.

Lha, makannya pun tidak setiap hari, atau dalam jangka waktu reguler, jadi selalu saja kami tidak berhasil menikmati yang lain. Hanya ada beberapa menu lain seperti huzaren slada, udang lapis, udang wotiap, kodok goreng mentega dan burung dara goreng sebagai ganti selang-selingnya. Padahal mereka menyediakan sekitar 100-an menu, dengan 40-an menu spesial, yang enak-enak semuanya, jeh!

Di jalan, kami bercerita. Tiba-tiba masuk ke suasana sebelum Imlek jaman dulu.

Ipar saya yang memulai, katanya dulu papi mertua saya waktu kecil wajib membantu cici (kakak perempuan)nya membuat kue lapis legit aka spekoek aka layer cake (spice cake). Jaman dulu, oven-nya masih oven arang kayu, ditumpuk di atas dan di bawah oven. Jadi, api mesti dijaga agar konstan panasnya, mesti dikipasin terus. Dan, menjaga api itu tugas si papi mertua saya.

Pembuatan layer cake, sesuai namanya, tentu saja selapis demi selapis. Selapis ditarok di loyang, lalu dipanggang dulu, agak matang, ditarok lagi selapis, begitu seterusnya. Dan, si tukang api, jaga api, maksude, tentu mesti menjaga agar kue tidak sampai gosong tapi juga apinya tidak boleh turun suhunya. Cukup berat, mengipasi arang, menambah arang, menyorong-nyorongkan arang - persis seperti tukang sate membakar sate-nya begitulah.

Sebagai 'upah'nya, papi saya akan mendapat lelehan adonan kue yang menempel di pinggiran loyang. Dikumpulkan dulu sedikit demi sedikit. Kue lapis yang sudah jadi-nya? Jangan harap, itu cuma untuk suguhan tetamu dan barang hantaran dan jatah para senior papi mertua. Maklumlah, jaman dulu, biasa satu rumah besar ditinggali anak-anak, mantu dan cucu dan tentu engkkong dan ema-nya.

Begitu-lah, setiap tahun tugas papi mertua saya menjadi tukang api. Sampai beliau mahir dan menjadi pakar di bidangnya. Sampai akhirnya kakak-nya keluar rumah - menikah, dan beliau sendiri menikah, tugas itu entah diwariskan kepada siapa.

Yang beliau ingat sangat adalah 'upah'nya itu.

Jadi, sekarang saya baru tahu, mengapa ipar dan nyonyah saya selalu mementingkan beli satu loyang kue lapis legit itu setiap Imlek. Walau pun kami bukan penggemar kue yang manis sangat itu, tapi selalu ada disediakan khusus untuk dinikmati papi kami. Kadang berbulan-bulan baru habis semua satu loyang, tergantung ada tamu atau tidak yang mau ikut mencicipi kue lapis legit itu. Lha, papi dan kami semua paling cuma makan sepotong tipis sahaja.

Anda mau sepotong ajah tah?



Tahun Baru 2010 Ini Tahun (Shio) Macan?

Kemarennya tukang koran mengantarkan majalah Intisari, majalah kuno yang dibaca oleh kebanyakan orang-orang kuno sahaja. Kalau saya tanya anda, kebanyakan anda pasti akan bertanya balik: apa sih Intisari?

Kalau ndak salah, Intisari sudah terbit sejak 1963, akan genap berumur 47 tahun nanti pada 17 Agustus 2010. Dan, kalau ndak salah mereka merupakan 'lanjutan' dari penerbitan surat kabar yang semula berjudul Kengpo (Kompas?), dan majalah Star Weekly? Yang kalau tak salah merupakan penerbitan dari kelompok wartawan Tionghua [satunya adalah (alm) Auwyang Peng Koen alias P.K. Ojong - Founders KKG - Kelompok Kompas Gramedia], dengan basa Melayu Tionghua. Isinya seputaran masyarakat orang Tionghua, tradisinya dan kebudayaannya.


Intisari sekarang, kalau dilihat dari profil mereka, menganut dwi bahasa, Inggris dan Indonesia. Lihat saja profil-nya di halaman 6 (biasanya) setiap kali terbit, istilah jabatan redaksi-nya berjudul Founders, Publisher, Editor In Chief, Managing Editor, Address (Kompas Gramedia Building, Lantai 5). Mengikuti kemajuan jaman toh? Kalau dulu oom-oom dan tante-tante kita getol berbasa Belanda, minimal ber-ikke (dengan penyebutan 'e' lemah-nya tegas [i-ke] ditekenken) pada diri sendiri dan ber-jij [ye] kepada anda, sekedar supaya kelihatan masuk elite the haves para menak masa itu, mesti bisa Holland spreken, sekarang pan arah-nya mesti ke Inggris-inggris-an, jeh!

Saya ndak tahu persis ttg 'sejarah' asal-muasal mereka, mungkin ada di antara anda yang tahu?

Saya cuma mau cerita ttg cover Intisari edisi Januari 2010. Gambarnya sudah mencerminkan shio macan, ada gambar kepala macan di situ. Jelas dan gamblang. Tentu saja ada juga artikel ttg shio macan, peruntungan dan jodoh bagi shio macan dan shio-shio lain pada tahun macan itu. Dan, terutama karena mereka menulis artikel ttg cukilan Buku "Harapan dan Ancaman Di Tahun Macan 2010" yang mereka terbitkan, yang dicukil oleh wartawan senior mereka.

Saya bilang 'itu', sebab mestinya redaksi Intisari tahu dan mafhum, mengerti sangat, bahwa shio macan pada penanggalan Imlek (lunar) baru akan dimulai pada 14 Februari 2010, sesuai dengan pengumuman resmi pemerintah ttg hari-hari libur pada tahun 2010 ini.

Jadi, agak 'aneh' kalau Intisari sudah menyebut tahun 2010 'ini' tahun macan. Sementara menurut penanggalan Imlek, tahun macan baru akan dimulai (tanggal 1 bulan 1 tahun 2561, cia gwee ce it) pada (masehi) 14 Februari 2010 nanti. Saya lupa apakah mereka memang selalu menerbitkan 'edisi' Imlek pada Januari setiap tahun-nya pada tahun-tahun lalu.

Mestinya sih itu bukan satu kesalahan yang ndak sengaja.

kayaknya sih mereka cuma kuatir ketinggalan sepur, kalau cerita ttg Shio Macan baru dibahas pada edisi Februari 2010, mungkin orang tidak banyak yang mau beli lagi (kayaknya memang makin sedikit yang mau baca mereka tuh, soalnya sekarang mereka mengiming-imingi hadiah motor kalau anda mau berlangganan tuh!), baik majalahnya atau pun bukunya ya. Suasananya bukan suasana 'tahun baru' lagi. Jadi nampak sekali mereka mengambil momentum 'tahun baru' (masehi) yang diawali januari 2010 ini, untuk menjual produknya.

Secara strategi pemasaran, ini sih sah-sah saja. Siapa tah yang mau menggugat? Iseng amat sih ya (kayak siapa tuh yang suka iseng ngegosipin orang tanpa sebab ya?).


Tapi, juga sah-sah saja kalau anda tetap ndak beli tu Intisari 'edisi' Imlek.

Lha, setelah segala pernak-pernik tradisi budaya Tionghua di'banned' oleh moderator-nya yang bernama RO - Rezim Orba (Orde baru), selama 32 tahun lebih, mestinya sih
generasi sekarang - khususnya anak-anak orang Tionghua, sudah tidak menikmati lagi suasana Imlek - menyambut pergantian musim (dari musim dingin ke musim semi) dulu-dulunya, kecuali ............. angpao-nya tentu-nya, jeh!

Anda sudah sedia amplop merah untuk angpao?




PS: Foto saya buat sendiri dengan memotrek majalah Intisari edisi Januari 2010, yang dilanggani adik ipar saya di rumah, jadi mestinya sih ndak masalah dengan ihwal hak cipta ya.

IT'S WORLD TIME: